Kabar bahagia kembali datang dari salah satu keluarga besar Sahabat Beasiswa tahun 2019. Dia adalah Auliya Rahmatul Ummah yang tahun ini dinyatakan lolos beasiswa S2 Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Dalam Negeri (LPDP DN).

Mengenal siapa Auliya

Dokumentasi Pribadi Auliya

Auliya, begitu sapaan akrabnya, adalah perempuan kelahiran Kudus, Jawa Tengah. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang, jurusan Fisika. Sembari kuliah, Auliya mengikuti berbagai komunitas, seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Fisika, staff peneliti di Dema-F Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Komunitas Muda Nuklir (KOMMUN) dan Sahabat Beasiswa.

Terjebak di Sahabat Beasiswa

“Jadi aku udah ngefollow SB mulai tahun 2017 kayaknya. Terus ada open recruitment pengurus kan. Aku daftar deh,” jawab Auliya saat ditanya sejak kapan mengetahui Sahabat Beasiswa.

Pada tahun 2019 awal, Auliya terpilih menjadi tim Sahabat Beasiswa Pusat dan tergabung dalam divisi management chapter (Management Sahabat Beasiswa Chapter) yang bertugas mengelola Chapter Sahabat Beasiswa yang tersebar di 60 daerah. Selain itu, ia juga menjadi salah satu inisiator Sahabat Beasiswa Chapter Kudus.

Persiapan Mendaftar Beasiswa

Seusai wisuda sarjana, ia mulai mempersiapkan pendaftaran beasiswa untuk kuliah S2. “Sebelum daftar sih, persiapannya ya, ngejar sertifikat bahasa (aku pake TOEIC), nyusun rencana studi dan proposal studi, sama minta rekomendasi dari dosen,” jelas Auliya.

Ketika menyiapkan berkas-berkas untuk mendaftar LPDP, ia juga menambahkan, “Di komunitas Sahabat Beasiswa aku dapat banyak informasi dari Schotalk untuk persiapan aku daftar LPDP. Dibimbing kak Chiko dan Kak Abay, juga.”

Apply Beasiswa

Photo by Green Chameleon on Unsplash

Beberapa hal yang menarik dalam sistem pendaftaran beasiswa LPDP tahun 2019, salah satunya pendaftar dapat memilih 3 kampus. Auliya mengaku 3 kampus yang ingin ia tuju adalah Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Jurusan yang didaftar pun linier, yaitu Fisika.

Selain itu, jika tahun sebelumnya diadakan Focus Group Discussion (FGD), maka tahun ini diganti dengan wawancara akademik dan nasionalisme.

Baca cara mendapat LoA

Seleksi LPDP

Menurut Auliya, tahap pendaftaran yang paling sulit adalah menyusun proposal studi dan rencana studi. “Soalnya itu nanti yang bakal dikupas tuntas pas wawancara,” ungkapnya. Ada tiga tahapan seleksi LPDP. Tahap pertama, seleksi administratif. Kalau kamu ingin daftar beasiswa, kayak LPDP, pastikan berkas pendaftarannya sudah lengkap.

Tahap kedua yaitu Seleksi Berbasis Komputer (SBK) yang terdiri dari Tes Potensi Akademik (TPA), Tes Karakteristik Kepribadian (TKK), dan essay on the spot. “Di tahap SBK ini kuncinya di TPA, Mbak. Jumlah soalnya ada 60: verbal 30, numerik 15, dan penalaran 15. Nilaiku yang jeblok di verbal, Mbak. Padahal verbal presentase nyumbang skornya paling besar. Jadi, kalau pengen sukses TPA, sih, kuatin verbalnya,” begitu kata Auliya.

Tahap ketiga adalah wawancara, yang terdiri dari dua jenis wawancara. Wawancara pertama tentang akademik dan psikologi, dan wawancara kedua tentang nasionalisme. Seperti yang tertera di awal, tahap ini adalah tahap paling berat, karena rencana studi pendaftar dikupas tuntas. Pertanyaan yang muncul seperti, ‘Bagaimana awal mula proses penemuan ide penelitiannya? Sudah kontak Profesor belum (berserta buktinya)? Manfaat dari penelitian untuk masyarakat?’. Bahkan hingga muncul pertanyaan ‘Kamu sampelnya beli atau bikin sendiri?’, ‘Kalau gak keterima LPDP gimana?’ dan ‘Misal penelitianmu diminta orang luar negeri dengan gaji tinggi, mau gak?’. LPDP memang benar-benar mencari calon pemimpin dengan integritas dan nasionalisme yang tinggi.

Cerita Daftar Kampus

Setelah dinyatakan lolos tahap substansi, Auliya mendaftar kampus untuk S2 dari tiga pilihan kampus di atas. Karena pertimbangan subjektif, akhirnya ia memilih untuk mendaftar ke ITB terlebih dahulu.

Boleh jadi, apa kata orang mengenai susahnya masuk ITB adalah benar. Auliya bercerita, “Prodiku, tuh, seleksinya online. Banyak yang bilang online itu enak, bisa open materi, kan. Tapi, ternyata soalnya SUSAH BANGET. Bayangin, gak ada wawancaranya. Padahal kalo ada wawancaranya, kan, enak ya. Bisa ‘ambil hati’ interviewer gitu. Tapi ini gak ada. Jadi nasibnya hanya ditentukan pake tes online itu.”

“Gila, tingkat dewa, sih, itu. Bentuknya essay nurunin rumus. Dari 100% soal itu, aku cuma bisa ngerjain 40%. Jadi kalo dibilang ITB masuknya susah itu BENER BANGET. Dan semoga keluarnya gak susah juga,” lanjut Auliya.

Summaries

Hmm, cukup menarik, bukan? Beberapa summary ataupun tips yang dapat kita ambil adalah mengenai seleksi administrasi. Kuncinya di nilai TOEFL, proposal studi dan rencana studi. Jadi, kalau menulis essay harus sudah matang sampai tesis, dan manfaatnya untuk masyarakat. Pada tahap SBK, amankan dulu nilai TPA karena menjadi tolok ukur kelulusan. Khususnya soal verbal, karena ia menyumbang nilai TPA sebesar 50%. Latihan wawancara juga perlu. Ajaklah teman untuk melakukan simulasi wawancara dan membuat daftar pertanyaan kemungkinan yang akan ditanyakan oleh interviewer. Sering-sering baca berita terkini untuk mengetahui dan mendalami isu tersebut. Make sure, jawaban yang kamu sampaikan adalah jelas dan bukan mengada-ada.

Semua tips di atas, bisa dilihat di infografis ini.

Infografis: Hasil wawancara dengan Narasumber

The best of people are those that bring most benefit of the erest of mankind” – Auliya R. U.

Penulis: Nadhilla Pembayun
Editor & Infografis: Qiftiyatul Lailiyah

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship