Google.com

Tahukah Anda, Bung Karno Pernah ingin Sekolah ke Belanda Namun di Larang Ibunya ?

Ir Soekarno dilahirkan di Surabaya tepatnya pada tanggal 6 Juni 1901 dengan nama asli bernama Koesno Sosrodihardjo, karena sering sakit yang mungkin disebabkan karena namanya tidak sesuai maka ia kemudian berganti nama menjadi Soekarno.

Ayah beliau bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo dan ibu bernama Ida Ayu Nyoman Rai. Orang tuanya bertemu di Bali ketika ayahnya menjadi guru di Bali dan ibunya merupakan bangsawan di Bali. Soekarno diketahui memiliki saudara atau kakak kandung perempuan bernama Sukarmini.

Selama menempuh pendidikan Soekarno mau pernah mengalami intervensi dari ibunya. Soekarno nyaris mengurungkan niat menjadi mahasiswa Technische Hogeschool atau Sekolah Teknik Tinggi (sekarang Institut Teknologi Bandung – Red.) dan belajar di Belanda.

Selain itu Hatta Pada usia 14 tahun, sudah tamat dari HIS dan telah lulus ujian masuk HBS.

Saat ia tengah bersiap pergi ke Batavia, tiba-tiba ibunya tidak mengizinkannya pergi.

Ia dianggap masih terlalu muda untuk tinggal sendiri di sana.

Sependengaran ibunya, anak muda yang dikirim ke “kota pesiar” itu banyak yang putus sekolah di tengah jalan. Lebih baik ia masuk MULO di Padang, baru kemudian melanjutkan ke HBS.

Permintaan itu sangat berat bagi Hatta. Ia rugi satu tahun kalau masuk HBS dari MULO.

Lulusan MULO hanya diterima di kelas tiga HBS karena ilmu kimia tidak diajarkan di MULO, sedangkan di HBS pelajaran kimia dimulai di kelas tiga.

“Untuk pertama kali aku menghadapi ‘krisis pelajaran’. Karena bingung dan patah hati, aku mau berhenti saja bersekolah dan mulai makan gaji,” ungkap Hatta.

Jabatan yang ditujunya adalah asisten pos. Di tempat ini gaji permulaannya sudah relatif tinggi.

Meskipun prospek pekerjaan itu cukup menarik bagi Hatta, akhirnya ia menyerah pada bujukan ibu dan pamannya untuk memasuki MULO di Padang.

Ia lulus pada Mei 1919 sehingga dapat melanjutkan ke Sekolah Dagang PHS di Batavia. Mei 1921 ia lulus dari sekolah ini.

Pada 3 Agustus 1921, Hatta sudah berada di Kapal Tambora, dan 5 September 1921 berlabuh di Rotterdam, untuk selanjutnya menjadi  mahasiswa di Handels Hogeschool, Rotterdam.

Seandainya  Soekarno diizinkan ibunya meneruskan studi di Belanda setamatnya dari HBS Surabaya 10 Juni 1921, tentu ia akan bertemu dengan Hatta sebagai mahasiswa di Negeri Kincir Angin. Kalau ini terjadi, barangkali suasana Perhimpunan Indonesia di Nederland bisa jadi berbeda, dan mungkin akan mengubah hubungan Soekarno- Hatta.

Kenyataannya, nasib menentukan lain bagi Soekarno . Dalam biografi yang ditulis Cindy Adams, terjadi dialog antara Soekarno dengan ibunya, agar Soekarno tidak berlayar ke Belanda. “Ibu,” kata Soekarno, “semua pelajar yang sudah lulus  HBS, otomatis pergi ke Negeri Belanda. Siapa pun yang ingin mendapat pendidikan universiter, mesti ke Holland.”

“Tidak. Sama sekali tidak,”sahut ibunya. “Anakku tidak akan ke Negeri Belanda.”

“Tetapi apa salahnya pergi ke luar negeri?”

“Memang tidak ada salahnya. Tetapi banyak kelirunya pergi ke Negeri Belanda. Apa yang menarik kamu? Harapan akan mendapat gelar universiter, atau keinginan akan perempuan kulit putih?”

“Saya mau ke universitas, Ibu.”

“Kalau demikian, kamu masuk universitas di sini. Pertama, kita harus mempertimbangkan hal pokok yakni uang. Terlalu mahal pergi ke luar negeri. Lagi pula kamu seorang anak yang lahir dengan darah Hindia. Saya mau kamu tinggal di sini di antara bangsamu sendiri. Jangan pernah lupa, Anakku, tempatmu, tujuan hidupmu, warisanmu, adalah di Pulau ini.”

Lain dengan Soekarno  yang tertahan di Tanah Air, Mohammad Hatta dapat meneruskan pelajarannya di Nederland karena memperoleh beasiswa dari Yayasan Van Deventer. Beasiswa itu mula-mula untuk studi selama dua tahun, dan kemudian untuk tiga tahun. Saat ia berangkat ke Nederland, beasiswa itu belum dia peroleh, karena terlambat mengajukan permintaan.

Untung ia masih mempunyai uang simpanan yang cukup untuk membiayai pelayaran dari Betawi ke Rotterdam: Ongkos pelayaran 1.100 gulden, dan sisa tabungannya kurang lebih 2.500 gulden yang diperkirakan cukup untuk biaya hidup di Rotterdam selama setahun. Editing (Isra)

(Intisari/K. Tatik Wardayati)

(Artikel ini pernah dimuat di Majalah Intisari edisi Agustus 2002

Salah satu proses pendidikan yang dilalui oleh Soekarno dan Hatta muda ini dipaparkan oleh P. Swantoro dalam buku Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu, terbitan KPG bekerja sama dengan Rumah Budaya TeMBI (2002).

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship