Informasi Beasiswa

Scholarship Talk #4 Sahabat Beasiswa Chapter Makassar

SCHOTALK#4 CATCH YOUR DREAM TO STUDY ABROAD IN JAPAN

  Makassar 4

 

 

 

 

 

 

 

 

RESUME SCHOTALK #4 SAHABAT BEASISWA CHAPTER MAKASSAR Bersama Kak Abdur Rohman

MATERI AWAL

  • Pengenalan Pemateri

Beliau memiliki nama lengkap Abdur Rohman. Abdur, sapaan akrabnya adalah seorang pria asal Banyuwangi, Jawa Timur yang sekarang sedang menempuh S3 di TUAT, Jepang. Pendidikan SI beliau selesaikan di Institut Teknologi Bandung (lulus 2009) sedang S2 di Ibaraki University (lulus 2012). Saat ini beliau bersama istri dan putra semata wayangnya tinggal di Kota Kashiwa, yang dapat ditempuh sekitar 30 menit dari Kota Tokyo. Beliau menikah pada tahun 2009 dan ketika menikah istrinya telah mendapat beasiswa Monbusho[1] tetapi pada saat itu belum berangkat. Barulah pada Oktober 2009 istrinya berangkat ke Jepang sedang beliau masih berada di Indonesia. Beliau belum bisa menemani dan sebelum istri beliau tinggal 6 bulan di Jepang. Tujuannya supaya cukup tabungan untuk mengundang suami.

Selama kurun waktu 6 bulan itu, beliau kerja sambil mencari peluang komunikasi dengan Sensei (professor) di Jepang. Sejurus dengan istrinya yang juga melanjutkan pendidikan di Negeri Sakura, beliaupun memiliki impian yang sama. Tetapi untuk mewujudkannya, Sensei adalah kuncinya. Sejujurnya, beliau tidak memiliki modal besar untuk bisa berkomunikasi dengan Sensei. IP pas-pasan (<3,2), belum punya prestasi akademik yang besar, dan belum punya publikasi. Namun itu tak menghentikan langkah beliau untuk mendapatkan seorang Sensei. Ia kemudian mencoba mengirim e-mail pada seorang Sensei di kampus tempat istrinya menempuh pendidikan, tetapi tidak dibalas. Ada lagi Sensei lain yang bidangnya cocok, tapi sudah mau pensiun. Tetapi untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, Alhamdulillah beliau mendapat pengalaman berharga waktu kerja praktek, tugas akhir, dan kerja setelah lulus. Beliau kerja praktek di Perusahaan Turbin Mikrohidro di mana tugas akhirnya mengenai perencanaan mikrohidro di tempat wisata. Beliau bekerja sebagai surveyor energi terbarukan di beberapa provinsi. Pengalaman itulah yang menjadi modal beliau. Karena sama sekali tidak memiliki publikasi, maka pada Januari 2010 beliau mendatangi mantan dosen pembimbingnya dengan tujuan ingin ikut melanjutkan penelitian tugas akhir agar memiliki publikasi nasional. Ternyata dosennya berkata “Ada professor dari Ibaraki University kontak saya tertarik penelitian, coba kamu kontak dia”. Ternyata Sensei itu punya mahasiswa asal Indonesia yang kebetulan kenal dengan dosen pembimbing beliau. Alhamdulillah kerja keras dan kesabaran beliau membuahkan hasil. Allah mudahkan. Itulah awal jalan beliau mendapatkan beasiswa.

Singkat cerita, beliau pun mengirim e-mail ke Sensei mencoba menawarkan diri menjadi muridnya. Tetapi, tidak dibalas. Muridnya berkata bahwa Sensei sedang sibuk dan telah membaca e-mail beliau tetapi bingung mau membalas apa karena beliau belum memiliki beasiswa. Yang jelas jawabannya 50:50 tidak menyatakan menerima juga tidak menolak.

 

Berikut e-mail yang dikirim oleh beliau kepada sensei :

 

1

 

 

 

 

 

 

 

Alhamdulillah Tuhan membukakan dan meridhoi jalan beliau. 1 April 2010 beliau tiba di Jepang. Beberapa hari setelah tiba, beliau pergi menemui Sensei yang pernah dikiriminya e-mail. Beliau menyampaikan keinginannya untuk belajar di Lab Sensei tersebut. Sensei mempersilahkan tetapi dengan satu catatan “tidak menjamin beasiswa” dan meminta beliau untuk mencari Beasiswa Monbusho. Pertengahan April 2010, beliau mendapat info dari milis beasiswa di yahoogroups bahwa Kedubes Jepang di Jakarta membuka kesempatan Beasiswa Monbusho (Jalur G to G). Informasi mengenai persyaratannya setiap tahun tersedia di sini http://www.Id.emb-japan.go.jp/sch_rs.html

Beliau mendaftarkan diri dengan mengirim dokumen-dokumen seperti foto copy ijazah, proposal riset, dan lainnya dari tempat tinggal beliau di Jepang ke Kedubes Jepang di Jakarta. Sensei pun bersedia menulis rekomendasi buat beliau. Tak lupa, beliau juga megirimkan rekomendasi itu walaupun pada kenyataannya tidak disyaratkan Kedubes.

Ini proposal riset beliau :

2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

 

 

Sebulan kemudian, beliau dinyatakan lulus seleksi dokumen sehingga memaksa beliau kembali ke Jakarta untuk menjalani tes tulis dan wawancara. Tes tulisnya terdiri atas tes bahasa Inggris atau bahasa Jepang. Karena beliau tidak bisa bahasa Jepang, beliau memilih bahasa Inggris. Mirip seperti paper-based TOEFL. Wawancara dilakukan pada awal Juli 2010. Beberapa hari sebelum itu, beliau mengalami kecelakaan yang membuat tangan kirinya mengalami pergeseran tulang. Alhasil beliau terpaksa datang dalam keadaan tangan dibalut gyps.

Wawancara dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris dengan durasi waktu 20 menit. Ini pertanyaan-pertanyaan pada saat wawancara yang diajukan oleh dewan penguji terdiri dari 3 orang Jepang dan 2 orang Indonesia.

  1. Jelaskan lagi yang sudah kita tulis di research plan
  2. Apa sumbangan riset yang direncanakan terhadap bidang keilmuan
  3. Sejauh mana riset ini bermanfaat di dunia nyata
  4. Bagaimana pengembangan riset setelah lulus kuliah
  5. Negara mana yang unggul dalam bidang riset itu
  6. Mengapa memilih Jepang
  7. Mengapa memillih Ibaraki University
  8. Adakan rencana untuk meluaskan bidang riset
  9. Sudahkah proposal riset ini dibahas dengan Sensei

Pertanyaan lainnya yang tidak berhubungan dengan riset :

  1. Apa beasiswa istri anda ?
  2. Sudahkah anda dapat beradaptasi dengan orang Jepang ?
  3. Maukah nanti anda bekerja di Inalum[2] ?

Hasilnya diumumkan satu minggu kemudian dan Alhamdulillah beliau dinyatakan lulus tes tulis dan wawancara. Tahap ini disebut primary screening.

Berikut pengumuman lulus primary screening :

5

 

 

 

 

 

 

 

Tahap selanjutnya, dalam waktu dua atau tiga bulan (beliau lupa persisnya), setiap pendaftar yang dinyatakan lulus harus berhasil mendaptkan LoA (Letter of Acceptance)[3] dari kampus di Jepang. karena sejak sebelum mendaftar beliau sudah diterima oleh Sensei, beliau sama sekali tidak mengalami kesulitan untuk mendapatkan LoA dari Ibaraki University. Pada tanggal 9 Desember 2010 beliau mendapat konfirmasi resmi dari Kedubes Jepang bahwa beliau mendapat Beasiswa Monbusho untuk program riset di Ibaraki University mulai April 2011. Beasiswa tersebut meliputi biaya kuliah, riset, tiket pesawat, dan uang saku. Tetapi pada Maret 2011 terjadi gempa dan tsunami di Jepang. Sensei pun meminta beliau untuk menunda kedatangan hingga 2011. Alhasil beliau mulai masuk kampus Oktober 2011. Sebagai mahasiswa riset, tugas beliau adalah belajar bahasa Jepang dasar dan membiasakan diri dengan suasana Lab. Untuk pelajaran bahasa Jepang dasar beliau mendapatkan nilai A+ untuk semua pelajaran (menulis kanji, percakapan, tata bahasa, dan menulis karangan).

Januari 2012 beliau mengikuti tes masuk S2. Isinya wawancara dengan para dosen pada jurusan yang beliau tuju. Alhamdulillah lulus sehingga beasiswa S3 beliau diperpanjang hingga 2017.

Dari pengalaman ini, ada beberapa pelajaran penting :

  • Dalam mencari Beasiswa Monbusho jalur Kedubes, tes wawancara menjadi kunci. Ada dua hal yang beliau rasakan sangat berguna dalam tes ini :
  1. Pemahaman kita tentang topik riset yang kita ajukan
  2. Kemampuan kita dalam menjelaskan dalam bahasa asing
  • Jangan mudah percaya rumor. Pastikan mencari info dari sumber terpercaya. Dulu sangat luas beredar rumor bahwa suami-istri tidak bisa mendapatkan Beasiswa Monbusho bersamaan. Kenyataannya, beliau bersama istrinya mendapatkannya
  • Usahakan mendapatkan Sensei dulu sebelum mendaftar beasiswa, meskipun hal ini bukan syarat untuk mendaftar. Ada banyak cara untuk mendapatkan Sensei
  • Cobalah berbagai jalan dengan maksimal dan persiapkan sebaik-baiknya, lalu serahkan hasilnya kepada Tuhan. Beliau pada mulanya tidak berminat untuk mendaftar karena IP beliau pas-pasan. Tetapi, karena didorong teman maka beliau pun mencoba dan Alhamdulillah berhasil.

 

MATERI KEDUA

  • Sesi Tanya Jawab
  1. Hardiyanti Eka Putri, Farmasi UIN Makassar 2012

Pertanyaan :

Gimana sih kak kiat-kiat selama kuliah di Jepang ? tentunya beda jauh kan jika dibandingkan dengan di Indonesia ?

 

Jawaban:

kuliah di Jepang beda jauh dengan kuliah di Indonesia. Perbedaan yang sangat terasa adalah dalam titik pendidikannya. Di Indonesia, selama S1 di ITB saya lihat porsi riset sangat kecil bila dibandingkan dengan kuliah di kelas. Saya benar-benar terjun dalam riset di semester terakhir (jurusan saya Teknik Tenaga Listrik). Dalam melakukan riset itupun saya bekerja sendiri dan tidak ada sesi bimbingan rutin dengan dosen. Sementara di Jepang, anak-anak S1 sudah diwajibkan menjadi anggota Lab sejak tingkat 3 akhir. Begitu masuk tahun terakhir, mereka sudah punya meja sendiri di Lab. Setiap pekan ada sesi pertemuan bersama Sensei di Lab kita dan juga Sensei dari Lab lain sejurusn dan anggota mereka. Nama pertemuan ini : zemi. Dalam zemi, selalu ada yang mendapat tugas presentasi. Ada gilirannya termasuk anak tingkat S1. Yang presentasi menyampaikan kemajuan risetnya lalu dikomentari hadirin. Ini berlangsung tiap pekan.

  1. Herwibawa, Agronomi UNM

Pertanyaan :

1) Menurut Om Abdur mengapa nominal Beasiswa Mext menurun tiap tahun, sekarang cuma 147 ¥ ?

2) Berapa kira-kira sisa uang beasiswa per bulan ? apakah Om Abdur mau bagi tips dan trik untuk berhemat ?

3) Menurut Om Abdur daerah mana yang memiliki biaya hidup paling murah? Hokkaido ? Tsukuba ? Kyushu ? Ibaraki ?

4) Mengapa Om Abdur memilih Universitas Petanian untuk S3 dan Fakultas Pertanian untuk S2, padahal penelitian S1 berkaitan dengan listrik di ITB ?

5) Apakah Om Abdur berkenan mereview dokumen aplikasi dan memberi advice bagi teman-teman yang mau melanjutkan TUAT ?

 

Jawaban :

  • Yang ini saya tidak tahu. Mungkin memang alokasi dari Monbusho tetap dengan jumlah penerima yang makin banyak
  • Sisa per bulan bergantung pada gaya hidup kita. Yang jelas porsi biaya terbesar menurut saya adalah biaya sewa rumah dan transportasi. Untuk Tokyo dan sekitarnya housing per bulan bisa mencapai ¥50 ribu, itu sewanya saja, belum termasuk listrik, gas, air. maka untuk menghemat :
  • Tinggal di asrama kampus, atau
  • Tingkal di asrama pemerintah kota (danchi)
  • Sharing bersama teman
  • Cari rumah agak jauh dari stasiun, tentu harus rela capek jalan kaki
  • Masak sendiri

 

Tentu jauh lebih bagus, selain menghemat juga mencari part-time job sehingga ada penghasilan tambahan. Tapi resikonya : riset agak terganggu.

  • Dari keempat daerah itu, saya gak bisa memastikan ya, tetapi saya duga rata-rata Ibaraki paling murah. Sebab, gak seramai yang lain dan suhunya gak terlalu dingin (dibanding Hokkaido), jadi biaya AC bisa ditekan
  • Alasan saya memilih :
  1. Saya tertarik ke pengembangan energi di desa. Ini terinspirasi dari tugas akhir saya dan pengalaman survei saat saya kerja. Sensei saya spesialis pengembangan desa. Pengembangan desa di Ibaraki University berada di Fakultas Pertanian. Jadi, saya masuk ke sana
  2. Saya merasa tertarik untuk lebih banyak belajar tentang manusia, tidak lagi fokus ke non manusia seperti saat di Teknik Tenaga Listrik. Dan ternyata benar, lingkungan pergaulan dengan para dosen dan mahasiswa pertanian jauh lebih menyenangkan bagi saya dibanding saat di teknik. Beda karakternya. Meski begitu, riset saya masih berkaitan dengan listrik. Silakan baca ini kalau tertarik http://dx.doi.org/10/1016/j.egypro.2014.11.988

 

  • Dengan senang hati. Tapi karena latar belakang saya bukan pertanian, saya awam dalam hal keilmuan pertanian. Tapi saya bisa hubungkan dengan teman-teman yang ahli Insha ALLAH. Mengenai proposal riset, saya memilih apa yang saya paham dan saya suka. Topik riset yang saya tulis di proposal riset itu sebenarnya belum detail ya. Masih banyak kekurangannya, terutama metodologi dan batasan riset. Hanya saja, saya paham benar latar belakangnya. Saya paham : apa sih masalahnya ? kenapa riset tentang mikrohidro ini perlu ? dan Alhamdulillah saya bisa menceritakannya di depan juri, dengan sepenuh hati. Meskipun kemudian saya gak jadi riset sesuai proposal. Jadi saran saya “Pilih topik yang kita paham benar apa masalahnya dan apa gunanya, kita senangi benar, dan kita punya pengalaman masa lalu disitu”

 

  1. Khoyrul, Ilmu Perpustakaan UNDIP

Pertanyaan :

Selama ini kita sebagai warga negara Indonesia selalu mengagung-agungkan perilaku disiplin warga Jepang. bagaimana kenyataanya di sana ? dan apakah mengalami kesulitan dengan perilaku disiplin warga Jepang ?

 

Jawaban :

Kenyataannya, orang Jepang memang secara umum memang sangat disiplin. Dalam arti, mematuhi peraturan. Ada juga sih yang kurang disiplin, tapi umumnya orang Jepang sangat disiplin. Soal antri, memilah sampah, tepat waktu, tepat janji, saya saksikan sendiri mereka melakukannya. Ada juga yang kurang disiplin berlalu lintas, misalnya menyeberangi zebra cross kecil saat lampu masih merah. Tapi itu sebagian kecil sekali. Pada kebanyakan keadaan, saya gak mengalami kesulitan. Alhamdulillah tapi saya ingin menceritakan dua keadaan yang saya alami kesulitan di dalamnya.

  • Soal bahasa inggris

Orang Jepang itu cepat belajarnya. Tapi karena terbiasa takut melanggar aturan, terhadap aturan bahasa pun mereka takut sekali melanggarnya. Jadi mereka enggan bicara english karena takut salah. akibatnya, mereka susah untuk bisa lancar. Selain itu, mereka sering bingung dengan cara baca yang gak sesuai dengan tulisan. Waktu saya ceritakan bahwa di Indonesia kalau belajar bahasa Inggris dianjurkan ngomong biarpun salah grammar, teman-teman Lab saya kaget sekali. “dame datta” kata teman saya. Dia menyesalkan kenapa cara dia dulu gak seperti itu. Nah, kebiasaan takut melanggar aturan kecil ini berdampak pada saya. Untuk hal-hal remeh saya harus mengikuti aturan 100 %. Jadinya ribet kadang-kadang

  • Dalam hal menjalankan ibadah

Sebagai muslim, saya perlu shalat, puasa dan menghindari makanan dan minuman haram. Kadang saya minta izin keluar dulu saat meeting atau terlambat datang kuliah karena harus shalat dulu. Karena teman-teman lain mengikuti semua aktivias sedangkan saya tidak, ada rasa tidak enak juga. Tapi Alhamdulillah, semua professor dan teman saya tidak pernah keberatan soal ibadah ini. Bahkan, saya bertekad tidak ikut Nomikai (pertemuan yang ada minum sakenya) dengan alasan agama. Mereka juga tidak keberatan. Jadi saya menangkap mereka justru menghargai orang beragama dan berusaha disiplin dengan aturan agamanya. Wallahu a’alam

 

  1. Sari, UNDIP

Pertanyaan :

Perbedaan profesor dari Jepang sama Indonesia apa sih kak ? apa yang harus dipersiapkan atau dibiasakan untuk menghadapi Sensei di sana ?

 

Jawaban :

Tiap orang beda ya, gak bisa juga saya generalisasi. Masing-masing negara punya professor yang baik dan berprestasi serta professor yang gak baik. Tapi dari segi sistem pendidikan, sepertinya sistem pendidikan Jepang lebih memaksa professor untuk memperhatikan siswanya. Umumnya, professor Jepang cenderung akan berusaha keras membantu siswa S1 dan S2 nya untuk lulus tepat waktu. Kalau siswa S3 lebih independen dan menanggung resiko sendiri.

 

  1. Hardiana Arsyad, Farmasi Unhas

Pertanyaan :

Kak, cara untuk mendapatkan Sensei bagaimana ? kalo pilih Sensei harus sesuai dengan bidang yang ingin diambil nanti ya berarti ?

 

Jawaban :

Cara-cari Sensei di antaranya berikut ini :

  • Tanpa rekomendasi
  1. Bisa lewat e-mail langsung

Perkenalkan diri, lagi kerja di mana, dulu kuliah di mana, jurusan apa, riset tentang apa, jelasin ketertarikan ke risetnya Sensei. Jelasin juga alasannya. Tunggu seminggu. Gitu aja terus ke Sensei lain juga. Kalau antum punya alamat e-mail korporasi akan lebih baik menggunakan alamat e-mail itu daripada e-mail umum seperti Gmail atau ymail. Cara ini mudah, murah, tapi peluangnya gak besar. Ada temannya istri saya yang langsung dapat Sensei di Tohoku University dengan cara ini. Ada juga yang harus nunggu lama dan ngirim ke banyak Sensei baru ada Sensei yang respon. Ada juga yang gak dapat respon. Mungkin kalo dikira-kira peluangnya 0,4. Yang jelas, semakin banyak mencoba semakin besar peluangnya

  1. Ikutan seminar international

Misalnya jadi peserta atau jadi panitia. Terus kalo ada Sensei dari Jepang yang hadir dan antum ingin jadi muridnya, tempel aja terus. Ngobrol langsung. Pak Syarif dapat Sensei ini dengan cara ini. Cara ini juga yang direkomendasikan Pak Redi. Orang Jepang susah nolak katanya. Saya juga pernah jadi panitia ACED (Assian Conference on Electrical Discharge) tahun 2008. Waktu itu, saya ketemu seorang Sensei dari Korea. Dia ngajakin saya kuliah di kampusnya. Cara ini peluangnya lebih besar. Kalo dikira-kira mungkin 0.7, tapi emang lebih susah sebab international conference jarang ada

 

  • Dengan rekomendasi
  1. Dengan rekomendasi dosen lulusan Jepang

Semakin dekat hubungan dosen dengan pembimbing yang kita tuju, peluangnya makin besar. Saya dulu ditawarin rekomendasi sama Pak Syarif dan Pak Suwarno. Sayang terpaksa saya tolak. Bukan karena gak mau, tapi alasan beda bidang dan jarak. Pak Syarif sendiri tidak menyarankan saya ambil bidangnya beliau. Pak Suwarno memang bersedia ngasih rekomendasi, tapi beliau sendiri tidak menyarankan saya ngambil kuliah di Nagoya soalnya jauh banget dari kampus istri saya

  1. Dengan rekomendasi orang Indonesia

Orang Indonesia yang lagi S2 atau S3 di Jepang di bawah bimbingan seorang Sensei, terus kita melamar ke Sensei dengan rekomendasi orang Indonesia itu. Cara ini disarankan sama Bu Jumiarti Agus, Ph.D, lulusan Tokyo Tech waktu beliau ngisi training di GSG Salman tentang study di Jepang. Saya kurang tahu yang mana di antara dua cara terakhir ini yang lebih efektif. Tapi dua-duanya sangat efektif. Mungkin kalau dikira-kira kedua cara ini peluangnya 0,9.

 

  1. Hardiyanti Eka Putri, Farmasi UIN 2012

Pertanyaan :

  • Apa motivasi kakak kuliah di Jepang ?
  • Kegiatan apa sih kak yang biasa dilaksanakan oleh IPTIJ
  • Boleh nda kami yang ingin lanjut ke Jepang bisa dapat informasi dari IPTIJ ?
  • IPTIJ mungkin semacam PPI yah kak ? atau berbeda ?

Jawaban :

  • Motivasi saya ingin mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari bangsa Jepang dan teman yang baik. Saya berharap, manfaat itu semua kembali pada masyarakat khususnya masyarakat Indonesia. Saya ingin membalas budi masyarakat Indonesia
  • Untuk tahu kegiatan IPTIJ silakan kunjungi http://lptij.org
  • Tentu saja boleh, sangat diharapkan malah
  • IPTIJ itu organisasi trainee, sedang PPI itu organisasi pelajar. Jadi, berbeda. Trainee datang ke Jepang untuk bekerja sedang pelajar untuk sekolah

 

MATERI TAMBAHAN :

  • Berikut ujian akhir Kak Abdur di sekolah bahas Jepang : presentasi di depan orang-orang Jepang di Mito, Ibu Kota Provinsi Ibaraki

http://youtu.be/AldVHCPlwy

 } else {

About the author

Admin

teacher, blogger, entrepreneurship