Informasi Beasiswa

Schotalk #2 Brace Yourself! Get Ready to Study in Japan

IMG-20151120-WA0012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

📝 NOTULENSI SCHOTALK #2
Sahabat Beasiswa Chapter Depok
🎌 Study in Japan 🎌

🎐PERKENALAN
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Konbanwa😊
Hajimemashite, Retno desu.
Sebelumnya ke Jepang saya berkuliah di ITB jurusan Teknik Kelautan (2005-2009), lalu melanjutkan S2 (2009-2011) dan S3 (2011-Maret 2015 lalu) di Yokohama National University, dengan topik simulasi tsunami. Alhamdulillah untuk kuliah di Jepang saya mendapatkan beasiswa Monbukagakusho U to U.
Setelah kuliah S1 saya menikah lalu berangkat ke Jepang pada Oktober 2009. Karena suami belum bisa langsung ikut, beliau menunggu sambil bekerja di Bandung lalu menyusul ke Jepang pada April 2010. Alhamdulillaah beliau mencari beasiswa dan akhirnya mendapatkan beasiswa Monbukagakusho G to G untuk S2 dan S3. Saat ini beliau sedang menyelesaikan studi S3nya di Ibaraki University.
Selama saya kuliah S3, alhamdulillah kami dikaruniai seorang putra. Setelah saya lulus, saya menjadi visiting researcher di The University of Tokyo (mulai April 2015-saat ini) dan minggu kemarin adalah terakhir saya ke kampus, karena saya sedang menunggu kelahiran anak kedua yang perkiraan kelahirannya 9 Desember 2015.

🎐PEMAPARAN
Beasiswa untuk studi di Jepang sebetulnya banyak sekali ya.
Dulu saya sejak tingkat 2 waktu kuliah S1 sudah dimotivasi untuk mencari beasiswa S2 oleh ayah saya. Sehingga saya rajin googling. Rajin-rajinlah googling dan kita akan dapat banyak informasi.
Beasiswa yang paling populer mungkin beasiswa dari pemerintah Jepang, Monbukagakusho. Ada university to university dan ada juga government to government.
Selain itu ada juga dari ADB, Hitachi, INPEX, Panasonic, bahkan dari universitas pun ada misalnya Waseda University.
Ada juga dari lembaga lainnya. Kalau kita buka website kampus di Jepang, mereka juga kadang memberi info terkait beasiswa tersebut. Oiya ada juga misalnya Ito Foundation, Ajinomoto, dll.
Sedikit mengenai beasiswa Monbukagakusho, ada 2 jenis, yaitu U to U (university to university) dan G to G (government to government). Kalau saya alhamdulillaah mendapat yang pertama, sedangkan suami saya alhamdulillaah mendapat yang kedua. Perbedaan antara U to U dengan G to G, kalau U to U itu kontaknya antara universitas asal (dalam hal ini ITB) dengan universitas tujuan (kampus saya YNU). Semua kontak dilakukan secara langsung antara calon penerima beasiswa dengan kampus yang dituju (biasanya langsung profesor yang akan membimbing).
Sedangkan untuk G to G, kontaknya antara government, pemerintah Indonesia dan Jepang, melalui kedubes Jepang di Indonesia. Jadi pendaftaran, seleksi dokumen, seleksi wawancara, dan semua prosesnya dilakukan di kedubes Jepang di Indonesia.

🎐PERTANYAAN
1.) Ade Kurnia_PNJ_TE
Seberapa penting belajar bahasa jepang dengan belajar kuliah itu sendiri?
👉 Sebetulnya itu  tergantung masing-masing orang. Kalau program yang diikuti memang program bahasa Jepang (seperti suami saya) maka memang harus belajar bahasa Jepang. Kalau saya pribadi, saya ikut international program. Jadi, kuliahnya bimbingan dengan profesor, semua dilakukan dalam bahasa Inggris.
Karena fokus untuk graduate school (S2 dan S3) di Jepang adalah riset, jadi saya justru diminta untuk lebih fokus pada riset dan belajar bahasa Jepang secukupnya. Karena riset lebih utama untuk menuju kelulusan. Jadi bahasa Jepang saya pelajari untuk percakapan sehari-hari saja. Selebihnya saya lebih fokus pada riset.
Untuk saat ini karena sudah lulus, saya berharap bisa memperdalam bahasa Jepang, mumpung masih di Jepang. Juga saya ingin bisa berkomunikasi lebih baik dengan orang Jepang. Saya ingin bisa menyampaikan kebaikan, menyampaikan Islam kepada orang Jepang (karena saya beragama Islam). Kalau rekan2 mungkin punya preferensi lain😊

2.) Ade Kurnia_PNJ_TE
Berapa lama bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar dan pola belajar disana?
👉 Sebetulnya sudah agak lupa ya persisnya karena sudah sekitar 5 tahun yang lalu. Tapi sekitar 1-2 bulan saya mulai mengenal lingkungan dan pola belajar di sini. Yang paling penting kalau lingkungan tentu bahasa dan bagaimana bisa hidup. Alhamdulillah ada kelas bahasa Jepang dan Sensei di sana sangat membantu. Bahkan dulu beliau bersedia menerjemahkan kalau ada dokumen-dokumen berbahasa Jepang yang harus kami isi. Kalau pola belajar itu bagaimana kondisi lab dan bagaimana harapan Sensei untuk kita. Apakah ada jam minimal di lab, bagaimana ritme seminar, dll. Kalau dulu di lab saya, Sensei tidak mewajibkan mahasiswa untuk hadir di lab. Tetapi sebetulnya harapan beliau adalah kalau tidak ada kuliah, ya ada di lab dari pagi sampai sore. Lalu ada seminar progress report untuk seluruh anggota lab setiap minggu. Yang ini saya harus hadir. Nanti saya mendapat giliran presentasi setiap bulannya. Itu cara untuk menjaga agar kita tetap semangat untuk riset. Dengan begitu tidak akan ada yang “kabur” dari kampus berbulan-bulan tanpa kabar misalnya. Karena semua harus presentasi dan hadir pada seminar mingguan tsb.

3.) Ilham_Sastra Jawa UI 2010
Untuk beasiswa dari universitas di Jepang, bisa dijelaskan lebih lanjut? Adakah kerja sama dengan kampus di Indonesia, beasiswanya spt apa, persyaratan dan pendaftarannya spt apa?
👉 Untuk beasiswa dari universitas di Jepang, sangat tergantung dengan universitasnya ya. Tentu ada kerja sama dengan kampus-kampus tertentu di Indonesia. Untuk seperti apa beasiswanya dan persyaratan pendaftarannya itu juga tergantung dengan program studi dari masing-masing univnya.
Kalau begitu saya cerita tentang yang saya alami saja ya.
Sekitar Mei/Juni 2008 saya mendapat info tentang beasiswa Monbukagakusho U to U
22 Desember 2008  deadline pengiriman dokumen pendaftaran beasiswa (dikirim melalui pos) meliputi form aplikasi dan 2 rekomendasi. Tapi saya mengirim aplikasi sebelum deadline, sehingga
16 Desember 2008  saya mendapat surat bahwa aplikasi saya sudah diterima dan sedang dalam proses seleksi
14 Januari 2009 saya mendapat email bahwa saya diterima sebagai satu dari enam penerima beasiswa untuk special graduate program in English dari Department of Civil Engineering, Yokohama National University
31 Januari 2009 – 9 Februari 2009 interview melalui email
18 Februari 2008 saya mendapat surat bahwa saya harus melengkapi aplikasi ke pihak Monbukagakusho. Saya mengisi form aplikasi lainnya dan mengirimkannya ke YNU
List dokumen :
1. Form aplikasi dan lampirannya
2. Rencana studi
3. Satu surat rekomendasi
4. 10 lembar pas foto
5. Sertifikat kelulusan (karena waktu itu saya belum lulus, jadi saya mengirim surat rencana kelulusan)
6. Sertifikat bahasa Inggris (TOEFL, TOEIC, atau yang lain)
11 Maret 2009 saya dikirimi email bahwa aplikasi saya dari YNU ke pihak Monbukagakusho tidak ada masalah. Sehingga proses dilanjutkan ke tahap berikutnya
10 Juli 2009 saya mendapat surat pemberitahuan bahwa aplikasi beasiswa saya ke pihak Monbukagakusho diterima
12 Agustus 2009 itu batas waktu pengiriman pledge form (tanda bahwa saya setuju bahwa saya akan menjadi mahasiswa di YNU)
5 Oktober 2009 saya datang ke Jepang.
Pada saat-saat terberat saya menyelesaikan studi S3 saya, saya harus meninggalkan suami dan anak saya di rumah, baru pulang jam11 malam. Suami dan anak sudah tidur. Tetapi setiap saya mendapat kemajuan riset walaupun sedikit, saya membiasakan bersujud syukur. Alhamdulillaah, rasanya kemudahan semakin banyak dan semakin banyak.

4.) Inge_PTJ_T.Industri
Aku mau tanya, kalau kita gak pinter-pinter bgt alias nilai ngepas & nggak outstanding, kira-kira memungkinkan nggak ambil beasiswa ke Jepang? Trus yg paling memungkinkan bisa dapet lewat jalur beasiswa yg mana?
👉 Nah kalau ini mungkin kasusnya seperti salah satu teman saya. Nilainya pas-pasan, walaupun nggak juga disebut buruk. Alhamdulillaah teman saya ini dapat beasiswa ke Jepang karena waktu itu memang ada kemudahan untuk bisa bertemu dengan profesor dan diskusi dengan beliau mengenai rencana riset. Ternyata Sensei ini sedang menunggu orang yang tertarik dengan topik risetnya. Akhirnya ketika bisa berdiskusi dan nyambung, akhirnya Sensei ini bersedia menjadi pembimbing untuk kuliah teman saya tsb. Ketika teman saya mendaftar beasiswa G to G, pada proses wawancara, teman saya ini bercerita bagaimana hasil diskusinya dengan Sensei, apa saja paper yang ditunjukkan oleh Sensei. Akhirnya pewawancara melihat bahwa teman saya ini sudah nyambung dan OK dengan Sensei yang dimaksud. Akhirnya teman saya ini diterima beasiswanya. Pada saat yang sama, ada teman-teman lain yang nilai akademiknya lebih tinggi, tapi takdirnya berbeda sehingga belum diterima. Kalau untuk teman-teman yang di Indonesia, bisa dengan cara banyak membaca paper-paper dari profesor yang topiknya kita minati. Paling bagus kalau kita lalu bisa menyelesaikan tesis S1 atau S2 kita lalu mempublikasikannya melalui paper di sebuah conference. Nah di conference tersebut kita membangun jaringan. Bertemu dengan Sensei-Sensei yang kita minati topiknya. Lalu bisa membahas lebih lanjut rencana kita ke depan.

5.) Ikono
Pertanyaan super singkat : YNU buka lagi ya tahun ini?
👉 Iya buka tahun ini, deadline pendaftaran 25 Desember 2015.
Berikut linknya http://www.cvg.ynu.ac.jp/G0/english/apply-e.htm

6.) Fauzi_ UNJ_TE
Mau tanya kira-kira kampus yang mempunyai track record yang terbaik di bidang engineering khususnya electrical engineering di jepang apa ya?
👉 Kampus pilihan untuk Electrical Engineering banyak ya sebetulnya, karena memang kampus di Jepang banyak fokus di bidang IT dan Elektro. Misalnya The University of Tokyo (Todai), Tokyo Institute of Technology (Tokodai), UEC.

7.) Yogi-UI
Kata Profesor saya di UI yg pernah hidup di 3 negara (Jerman, Amerika, dan Jepang).. Katanya orang jepang itu sangat Hard worker. Gimana tension force kuliah dan riset disana? Seberaapa padat dan apakah bikin stress? 😁
👉 Begitu ya.. Saya sendiri belum pernah kuliah di Amerika dan Jerman, tapi kalau saya lihat teman yang kuliah di Amerika, mereka juga hard worker😊 Kalau untuk tension force kuliah itu menurut saya biasa saja ya. Cenderung kuliah itu sekedarnya saja asalkan lulus. Jadi kita perlu tau batas minimumnya seberapa dan kita penuhi standar tersebut. Walaupun jangan sampai juga kurang jumlah kreditnya karena kurang informasi misalnya. Tetapi kalau untuk riset, memang cukup tinggi. Mungkin bisa tanya sama Mas Ikono yang risetnya berhubungan sama makhluk hidup, bagaimana ritme ke labnya harus dari pagi sampai malam misalnya. Kalau saya sendiri, karena media riset saya menggunakan komputer (simulasi numerik), jadi waktu untuk ke lab tidak terlalu padat. Sabtu dan minggu saya nggak ke lab. Saya hanya ke lab dari pagi sampai sore saja. Sekitar jam 09.30-17.00 karena paginya saya harus mengantar anak saya ke day care dan sorenya juga harus jemput anak saya. Juga saat itu saya sempat tinggal berjauhan sama suami. Saya di Yokohama, suami kuliah juga di Ibaraki. Jadi semua tetap harus seimbang. Stres boleh, tapi tetap harus bisa dimanage dengan baik sehingga keluarga juga nggak terlalaikan😊 Oiya yang saya dengar, di Korea itu lebih tinggi stresnya daripada Jepang.

8.) Siti Rahayu_U G
Adakah di Jepang Universitas yang memiliki prodi islamic finance atau islamic banking? Karena saya ingin lanjut dalam jurusan tersebut, sempat baca di jepang ekonomi syariah mudah diterima tapi belum tahu ada universitas yang punya jurusan itu.
👉 Saya sendiri baru googling tadi dan saya dapatkan ini
http://homepage3.nifty.com/~nasafas/
Mungkin selanjutnya bisa digoogling di website Kyoto University. Atau saya pernah dengar bahwa ada juga studi tentang Islam di Keio University. Tapi kurang tau detailnya. Mungkin bisa dicari.

9.) Reza_Akuntansi_UG
Saya kan lulusan ekonomi akuntansi, kalo di jepang untuk beasiswa di bidang saya ini bagaimana peluangnya dan apa saja kira-kira beasiswa yg tersedia?
👉 Kalau untuk ekonomi, yang saya tau di Yokohama National University biasanya banyak dari teman-teman dari perpajakan yang kuliah S2 di sana. Selain itu ada juga GRIPS.
Linknya http://www.economics.ynu.ac.jp/igp/scholarships/
Ini untuk GRIPS http://www.grips.ac.jp/en/education/inter_programs/finance/

10.) Deasy_PBI_UNJ
Bagaimana suasana kehidupan disana?  Secara kultur seperti apa?
👉 Suasana kehidupan di sini berbeda dengan di Indonesia ya. Mungkin karena di sini orang Jepang lebih individualis. Jadi sama tetangga pun nggak terlalu dekat seperti di Indonesia. Tetapi yang perlu diingat karena di sini kita sebagai agen ya. Agen sebagai orang Indonesia, kalau yang beragama berarti kita juga agen dari agama kita, yang akan menjadikan orang Jepang melihat bahwa kita adalah representasi dari negara dan agama yang kita anut, maka kita selalu bersikap baik. Kalau dengan tetangga juga saling memberi, misalnya sedikit buah, atau kalau bertemu saling menyapa. Akhirnya mereka pun akan ramah pada kita. Terutama komunitas nenek-nenek dan kakek-kakek yang saat ini jumlahnya banyak di Jepang. Kalau sudah baik maka mereka akan banyak membantu. Walaupun kalau untuk anak-anak muda, memang saat ini kabarnya sudah banyak berubah dari sebelumnya. Banyak yang cuek bahkan tidak memberikan tempat duduk untuk ibu hamil. Banyak terpengaruh budaya barat. Lalu untuk buku-buku dewasa tersebar bebas di toko-toko pinggir jalan. Pakaian wanita-wanita jepang jauh lebih terbuka dari orang-orang Indonesia. Jadi saya rekomendasikan untuk laki-laki kalau mau kuliah di Jepang, menikah dulu dan istrinya dibawa ke Jepang. Selebihnya orang-orang Jepang memang pekerja keras, tapi sayangnya hati mereka kosong karena mayoritas tidak beragama, atau beragama hanya sekedar ritual saja.
Jadi seharusnya kita sebagai yang beragama bisa mencontohkan kerja keras yang lebih baik dan lebih seimbang dari mereka.

11.) _anonymous
Bunda, Tohoku University bagus ga? Aku tuh pernah ngehubungin profesornya. Lalu bersedia menjadi supervisor untuk S2. Tapi karena blm dapet beasiswa dan bingung jadi dilepas gitu aja 😭
👉 Iya Tohoku University termasuk salah satu univ unggulan loh. Coba dicari info beasiswa di sana. Nanti bisa saya kenalkan juga dengan teman di Tohoku University kalau misalnya berminat.
Linknya http://www.eng.tohoku.ac.jp/english/life/scholership.html
Banyak sekali list beasiswanya. Coba dilihat-lihat, atau coba Monbukagakusho.

12.) Luthfir
– Disana UTS dan UAS ada tidak? kalau ada bentuk ujiannya seperti apa? Tes di kelas atau take home ?
👉 UTS dan UAS itu tergantung mata kuliahnya dan Senseinya juga. Ada yang ada, ada yang cuma tugas akhir saja, ada yang report. Ada yang ujian close book, ada yang open book.
– Manner apa yang sangat perlu diperhatikan selama di Jepang? Lebih spesifiknya selama perkuliahan di Jepang.
👉 Kalau selama di Jepang kita rajin bertegur sapa, istilahnya aisatsu. Mengucapkan selamat pagi kalau datang, terima kasih, atau kalau pulang duluan juga ada ucapannya sendiri. Kalau selama perkuliahan standar seperti di Indonesia ya. Kita harus menunjukkan rasa hormat dan perhatian pada profesor, dan jangan lupa walaupun kita tidak pintar yang penting kita rajin. Walaupun kita tidak bisa, tapi kalau kita menunjukkan usaha kita, maka profesor akan menghargai usaha kita.
– Untuk Beasiswa yang ibu dapat, apakah sudah termasuk biaya hidup ?
👉 Iya, itu makanya saya merekomendasikan beasiswa Monbukagakusho, karena selain biaya kuliah, beasiswanya mencakup juga biaya hidup. Maka kita tidak perlu memikirkan untuk bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebaiknya ketika mencari beasiswa, diperhatikan juga opsi ini, apakah memberi uang saku untuk sehari-hari atau hanya biaya kuliah saja atau bagaimana. Karena setiap beasiswa berbeda-beda.
– Berhubung ibu muslim, saya mau bertanya bagaimana kalau pas lagi ngelab tiba-tiba adzan? apakah ibu izin shalat dulu atau selama di Jepang bisa dijamak?
👉 Kalau menjamak salat itu hanya untuk yang safar ya, dan kalau lebih dari 3 hari berarti kan statusnya sudah mukim ya, jadi nggak bisa dijamak lagi kecuali ada hal-hal darurat. InsyaAllah masih bisa diatasi ya. Kalau memang ada yang bertabrakan kita bisa izin.
(Oiya untuk jamak tolong dilihat lagi dari ulama yang membahas ya, takut saya salah)
Saya pernah ada kuliah yang nabrak waktu salat. Karena waktu ashar waktu itu sangat sempit. Saya bilang pada Sensei bahwa saya perlu keluar untuk salat 5 menit lalu kembali lagi. Alhamdulillaah diizinkan dan tidak ada masalah. InsyaAllah kalau semua dikomunikasikan dengan cara yang baik akan ada solusinya.
– Kalau ngelab sampai malam, persiapan apa saja yang ibu lakukan?
👉 Persiapan apa ya. Jelas izin dari suami yang pertama. Kalau sudah oke, karena saya punya anak, saya jemput anak saya di day care, saya bertemu dengan suami di stasiun, lalu saya menitipkan anak saya pada suami. Lalu saya kembali ke lab. Di sana sampai malam tidak masalah karena aman ya. Pulang tengah malam juga alhamdulillaah aman. Jadi tidak ada persiapan khusus. Jangn lupa salat dan bawa bekal untuk makan. Itu saja.

🎐KATA PENUTUP
Akhir kata, saya ingin menekankan bahwa kita harus meluruskan niat, untuk apa kita belajar dan mencari beasiswa. Jangan sampai hanya mencari gengsi semata.
Kita hidup untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi umat manusia. Karena itu kita belajar. Jadi kalau baru belajar saja belum memberi manfaat, belum selesai.
Luruskan niat kita dan lakukan yang terbaik dalam hidup kita karena Tuhan.
Sekian dan terima kasih.

📚 Tim Divisi Schotalk SB Chapter Depok
Sabtu, 21 November 2015

©Sahabat Beasiswa

About the author

Admin

teacher, blogger, entrepreneurship