Artikel Berita Profil Inspiration

Setangkup Rindu dalam Ramadhan di Tanah Portugal

Syol Indra Syafril, Awardee Undergraduate Erasmus Exchange asal Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia

Jika kita mendengar kata “Portugal”, apa yang akan terlintas di sobat SB?. Mayoritas akan menjawab tim sepakbola di Eropa. Ya, negara yang berbatasan dengan Spanyol di bagian utara ini menyimpan cerita menarik tentang pengalaman puasa ramadhan di salah satu tanah Eropa. #RamadhanSeries kali ini bercerita tentang pengalaman Syol Indra Syafril, salah satu Awardee Erasmus Mundus, Undergraduate Erasmus Exchange, jurusan Business, Management, Marketing, and Related Support Services di Evora University, Portugal dalam menjalani puasa Ramadhan di Portugal untuk pertama kali.

suasana ramadhan di portugal menjelang berbuka

salah satu sudut kota Evora menjelang maghrib pukul 20.30 waktu setempat

Momen Perdana, Antara Senang dan Sedikit Cemas

Ramadhan tahun ini, adalah momen pertama Syol-sapaan akrabnya berpuasa di bumi Eropa selama 17 jam. Momen ramadhan di musim panas ini juga sebagai momen penutup perjalanan hidupnya setelah 10 bulan menimba ilmu di kota Evora, Portugal. Ketika ditanya bagaimana perasaannya pertama kali menjalani puasa di tempat yang jauh berbeda dari Indonesia mulai dari durasi puasa hingga cuaca, ia menjawab cukup senang dan excited. Senang karena akan mencoba tantangan baru tapi di sisi lain juga cukup cemas dan bertanya-tanya apakah bisa menjalani puasa yang cukup lama. Apalagi di musim panas, durasi waktu siang hari lebih panjang daripada malam hari. Hari mulai gelap sekitar pukul 9 malam waktu setempat dan beranjak pagi hari pukul 4 pagi waktu setempat. Walau awalnya sedikit cemas, namun Syol mengaku ketika sudah niat dan dijalani maka bisa bertahan sampai waktu berbuka tiba.

Indonesia: Syol dan Rekannya Eka, Awardee Erasmus Mundus mengibarkan bendera merah putih di depan monumen di Portugal

Indonesia: Syol dan Rekannya Eka, Awardee Erasmus Mundus mengibarkan bendera merah putih di depan monumen di Portugal

Suasana Berpuasa Ramadhan di Portugal

Ramadhan pertamanya di Portugal kali ini sekaligus menjadi penanda hampir berakhirnya program Erasmus yang tengah dijalaninya. Beruntung pula, jam kuliah sudah banyak berkurang sehingga mengurangi bebannya untuk pergi ke kampus di tengah cuaca yang begitu panas. Lelaki kelahiran Lubuk Nyiur, Pesisir Selatan, Sumatera Barat ini mengaku suhu bisa sampai 34 derajat selain itu tipikal panas di Portugal adalah panas yang kering, bukan seperti panas di Indonesia yang panas terik matahari. “keluar rumah itu berasa masuk ke dalam mobil yang udah ditaruh dibawah matahari seharian, gitu lah rasanya”,ungkapnya.

Selain cuaca yang begitu panas, di Eropa termasuk Portugal warganya memang mayoritas beragama Katolik namun mereka begitu menghormati dengan keberadaan muslim yang ada di Portugal khususnya di Kota Evora ini. Tentu sudah barang wajar jika keadaan sekitar Evora di waktu Ramadhan tetaplah sama seperti hari-hari biasa, restoran tetap buka dan masyarakat sekitar tetap makan dengan bebas. Di penginapan, Syol tinggal dengan awardee Erasmus lainnya yang mayoritas non-muslim. Selama ramadhan mereka makan diam-diam demi menghormati Syol yang tengah berpuasa. “iya mereka tahu, tapi kadag-kadang masih kedengeran suara mereka makan keripik, kriuk kriuk gitu walau pelan”, tutur mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang ini sambil tertawa.

Momen Berbuka Bersama Muslim Beda Negara

Lalu bagaimana dengan momen berbuka puasa yang notabene jauh dari keluarga dan teman sesama muslim layaknya di Indonesia?. “buka nya bareng sama komunitas muslim dari Syiria, Bangladesh dan imigran luar portugal”, ungkapnya. Di kota Evora sendiri, muslim Indonesia hanyalah Syol dan salah satu rekannya sesama awardee Erasmus, sehingga ketika ia akan berbuka, shalat maghrib bersama dan tarawih berbaur dengan masyarakat muslim lainnya yang berasal dari negara lain. Total anggota komunitas muslim di Evora sejumlah 20 orang namun yang paling sering hadir ketika momen iftar sekitr 10 orang karena sisanya berbuka dengan keluarganya. Syol pun menambahkan jika ia jarang berbuka di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) setempat karena jarak tempuh yang bisa memakan waktu hingga 1,5 jam melalui bus, selain itu tak ada akses bus di jam-jam berbuka yang memang sudah memasuki waktu malam hari yang cukup larut. “ya ibaratnya jam 9 malam berbuka, jam 10.30 malam tarawih hingga jam 12 malam, sudah tidak ada bus dari KBRI di Lisbon ke Evora”,imbuhnya.

Sedih, Rindu dan Keikhlasan

Bagi umat seluruh dunia, bukan rahasia lagi jika Ramadhan adalah bulan yang spesial diantara 11 bulan lainnya. Bagi muslim Indonesia, momen Ramadhan selain untuk beribadah, juga sebagai sarana berkumpul dengan keluarga tercinta sembari menjalani momen sahur dan berbuka bahkan idul fitri. Mereka yang jauh di perantauan, akan berlomba-lomba untuk pulang kampung atau yang biasa kita sebut mudik demi merayakan momen suci nan bahagia dengan yang tercinta. Selain cukup excited dengan pengalaman pertama berpuasa di Eropa, Vice President OGIP AIESEC UMM 2014/2015 ini mengaku cukup sedih karena tak bisa berkumpul dengan keluarganya di Padang, Sumatera Barat.

Biasanya ketika di rumah, ia beribadah bersama orang tua dan kakak-kakaknya. Bermaaf-maafan dan sungkem dengan kedua orang tuanya, makan masakan rumah hingga berkunjung ke keluarga ayah dan ibu nya secara bergantian. Apalagi memang selama berkuliah di Malang, Syol hanya dapat pulang 1-2 kali dalam setahun, dan untuk tahun ini ia harus menahan rindu untuk menuntaskan keinginannya tersebut.

Namun, ia senantiasa bersyukur dengan apa yang telah ia dapatkan selama ini terlebih pengalaman dan beberapa pelajaran hidup yang banyak ia dapatkan selama di Portugal dan ketika melakukan perjalanan ke negara lainnya di Eropa. Ia juga cukup senang karena masih bisa menjalani ramadhan hingga menyongsong idul fitri bersama keluarga barunya di Evora, Portugal. Ia juga menambahkan bahwa bagaimana keadaanya, kita harus senantiasa ikhlas menerima. Jika ditantang untuk menjalani rutinitas puasa yang baru dan berbeda, kita harus sudah menyiapkan niat dan mental serta menyesuaikan dengan lingkungan yang ada. Berusaha menjalani yang ada sembari berserah diri.  “semua itulah yang akan menjadikan kita menjadi lebih kuat”, tutupnya.

nah itu tadi adalah cerita Ramadhan dari Portugal. manfaatkan momen Ramadhanmu dengan sebaik mungkin ya sobat SB. selamat menunaikan ibadah puasa dan berkumpul dengan keluarga.

About the author

Arina Widya Kurniawati