Artikel Berita Profil Inspiration

Ramadhan di Jerman, Siap kah?

Senyum: Mayra yang tengah berfoto di depan masjid DITIB-Merkez-Moschee, Jerman

Mayra Diandra Nabila Ratnadi, yang akrab disapa dengan Mayra merupakan salah satu mahasiswi S1 Program Fast-track jurusan Computer Engineering di Universität Duisburg-Essen (UDE), Jerman. Info lebih lengkap terkait program dapat dilihat di sini:

http://way2studying.de/material/German_Engineering-Fast_Track_Bachelor_Admission_Di.pdf

http://www.way2studying.de/material/FastTrack2ISE-UDE-Flyer.pdf

Keuntungan dari program tersebut adalah kita bisa langsung diterima di universitas terlebih dahulu tanpa mengikuti studienkolleg yg biasanya ± 1 tahun atau kursus bahasa ± 1 tahun juga. Pada tahun pertama ia mengambil studi di Jerman, Mayra masih menggunakan bahasa Inggris kemudian disusul menggunakan bahasa Jerman di tahun selanjutnya sehingga ia dapat beradaptasi terlebih dahulu. Walaupun begitu, proses seleksinya cukup rumit dan butuh persiapan yang matang lho sobat SB.

Di sini, Mercator Office (lihat di linknya) bukan bertindak sebagai agen, melainkan sebagai kantor perantara UDE dan calon mahasiswa di Indonesia dan biayanya gratis. Pada dasarnya, kita tidak mendapat uang apapun dari program ini seperti pada program beasiswa, karena memang universitas di Jerman saat ini masih gratis. Walaupun gratis, kita tetap harus membayar semester fee sebesar 100-300€/semester dengan rincian yakni untuk transportasi satu negara bagian, subsidi untuk makanan di kantin, dan iuran ke Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) setempat.

Saat ditanya persiapan apa yang akan dilakukan Mayra selama bulan Ramadhan, ia mengaku bahwa yang dia lakukan yakni tidur siang yang cukup karena berkurangnya jatah tidur di malam hari. Selain itu menyiapkan stok makanan dan minuman yang sehat dan cukup, vitamin, air mineral, serta tentunya usaha untuk lebih mendekatkan diri ke Allah.

Puasa 18 jam, kuatkah?

Tinggal di Duisburg, Jerman yang sedang mengalami musim panas  yakni dimana durasi siang hari lebih panjang dibanding malam hari, membuat umat muslim disana harus menjalani puasa selama 18 jam. Tak hanya durasi puasa yang cukup panjang, status sebagai muslim minoritas juga cukup mewarnai pengalaman berpuasa di Jerman.

Sebagai kaum minoritas, memang sudah sepatutnya umat muslim harus kuat puasa mata dan hati karena semua restoran buka seperti biasa, orang-orang tetap makan dan minum di sekitar. Bahkan ada beberapa toko ice cream yang menjadi primadona masyarakat sekitar termasuk mahasiswi semester 4 ini yang buka dan usut punya usut, toko ice cream ini hanya buka saat summer saja. Kebayang kan gimana harus tahan supaya gak ngiler kan sobat SB.

Ndak masalah sih sebetulnya puasa di antara orang-orang yang tidak puasa, tapi karena lamanya puasa 18 jam, jadilah terasa berat awalnya. Biasanya orang-orang disini sangat senang saat summer, kemana-mana tidak perlu pake jaket lagi, baju warna-warni, tiap weekend ada saja yang menggelar pesta barbeque atau olahraga di taman. Selain itu,  hampir tiap weekend cuacanya panas banget (yang bagi mereka bagus banget untuk rekreasi), soalnya kadang saat weekdays suka mendung atau hujan.”

menjadlin puasa ramadhan di Jerman bersama mahasiswa Indonesia yang lain

Di luar tanngan yang ada, bertemu mahasiswa Indonesia lain yang juga menjalani puasa Ramadhan di Jerman adalah kesenangan tersendiri

“Dan disini sedang puncak panas-panasnya, panasnya tuh kering dan tidak ada angin, bikin tenggorokan kering”, imbuhnya. Awalnya memang berat, namun pepatah “bisa karena biasa” memang sangat bisa diterapkan disini. “Menyibukkan diri dengan hal positif juga bisa bikin puasa ndak kerasa kok, hehe”.

Namun demikian, orang Jerman sangat menghormati prinsip orang lain dan menerima para muslim dengan perilaku yang baik. Terutama karena sudah banyak juga muslim pendatang dari negara lain, membuat Jerman menjadi negara dengan toleransi yang cukup tinggi. Dan bagi perempuan yang juga aktif di PPI Dunia ini bukan masalah untuk menerima perbedaan yang ada di antara mereka.

Untuk menggambarkan betapa tinggi toleransi disini, perempuan asal Jakarta ini bercerita bahwa kemarin kampusnya mengadakan buka puasa bersama, yang boleh diikuti lintas agama dan kultur. Cukup banyak yang mengikuti acara ini, sampai ratusan orang (kurang tahu berapa tepatnya). Buka puasa ini gratis, seluruh biayanya ditanggung atas kerja sama universitas, organisasi mahasiswa muslim di kampusnya, dan badan eksekutif mahasiswa (disana singkatannya “AStA”). Wow banget kan sobat PPI, di kampus kalian gimana?

suasana buka bersama ketika ramadhan di jerman

Ramai: Ramadhan di Jerman. Suasana buka bersama di salah satu kampus

“Bagi para mahasiswa, acara itu sudah termasuk mewah, jadi semacam dinner. Malah dibolehkan kalau mau nambah porsi lagi hehe, dan mereka sampai dikasih makanan untuk sahur dan permen/manisan kecil khas Turki.” Ujar Kru Radio PPI Dunia ini.

Ada juga salah satu restoran Maroko di daerah perempuan ini yang mengadakan iftar gratis selama sebulan penuh, walaupun cuma terbatas buat 80 orang pertama karena sisanya harus bayar harga normal, tapi nyatanya tidak pernah sampe “crowded” dan porsinya cukup banget untuk ukuran berbuka. Beberapa masjid juga mengadakan iftar gratis, ada yang setiap hari ataupun saat weekend saja.

“Kalau giat mencari, Insha Allah banyak rezeki bertebaran di bulan Ramadhan kok. Yah maklum lah, namanya juga mahasiswa”, tambahnya. Kayaknya sobat SB juga gitu, kan? Jadi pencari rezeki di bulan ramadhan hehe.

Tarawih dan lebaran di Duisburg?

Seperti yang dijelaskan di awal, pada malam hari Mayra tidak sempat tidur jadi kadang dia belajar maupun mengerjakan tugasnya di waktu antara buka dan sahur, sekalian menyiapkan makanan buat sahur. Jadi pada siang/sorenya kalo tidak ada kelas biasanya digunakan untuk tidur atau bahkan belajar jika ingin. Mayra sendiri mengungkapkan bahwa tidak ada kelas kuliah yang sampai malam, biasanya kuliah itu telah usai maksimal pukul 6-7 waktu setempat. Sedangkan Duisburg baru beranjak gelap sekitar pukul 10.00, jadi tidak terlalu terpengaruh.

Sobat SB, seperti kita tahu bahwa maghrib di Jerman sekitar pukul 10 malam waktu setempat. Setelah maghrib dan berbuka tentu kita sebagai muslim biasanya menjalankan shalat isya dan tarawih tentunya. Lalu bagaimana suasana tarawih di Jerman?. “Jujur aja, aku agak jarang ikut tarawih, karena baru Isya aja pukul 23.30. Selain itu masjid jauh dari rumah, jadi agak takut pulang sendiri ke rumah, dan bus/tram yg menuju ke rumah jam segitu udah mulai nggak beroperasi,” papar Mayra.

Tentang lebaran di Jerman, perempuan yang juga jadi pengurus PPI Duisburg-Essen mengaku tiap tahun kerja sama untuk membuat acara buka puasa bersama dan shalat idul fitri bareng komunitas sekitar, seperti Muslim Ruhr. Untuk di Universität Duisburg-Essen sendiri juga ada 2 organisasi mahasiswa muslim yaitu Islamische Studierenden Verein (ISV) Duisburg dan Islamische Studierendenbund (ISB) Essen.Warga Indonesia di sekitar sini diundang untuk shalat ied bersama sekalian halal bi halal, jadi mempererat tali persaudaraan. “Karena kami semua jauh dari keluarga di indonesia, jadi rasanya seperti punya keluarga kedua di sini. Apalagi kita selalu makan makanan khas lebaran saat setelah selesai shalat, seperti opor gulai dll yang bikin kita kangen sama suasana lebaran di Indonesia.”

Untuk diluar acara keagamaan, tentunya PPI masih punya segudang acara lain yang nggak kalah seru. Di Jerman pun tidak ada libur lebaran khusus jadi semua berjalan seperti biasa, cuma mayoritas toko Turki atau yg pemiliknya muslim pasti tutup karena mereka merayakan lebaran juga. Nah, itu tadi cerita Mayra saat Ramadhan di Duisburg, Jerman. Gimana Sobat SB, sudah siap Ramadhan di Jerman?

About the author

Admin

teacher, blogger, entrepreneurship