TOEFL/IELTS & Kroco-kroconya For Dummies
(Now Everyone Can Get Scholarship – NECGS part 2)

Salah satu syarat mendaftar beasiswa yang paling jamak adalah memiliki bukti kemampuan bahasa inggris. Lazimnya diminta dalam bentuk TOEFL, IELTS, atau TOEIC. Sejauh ini sih belum pernah mendengar yang selain tiga itu. Kita coba bahas tuntas yuk, terutama untuk TOEFL. Sering kita mendengar ada IBT, ITP, PBT, prediction, dsb bedanya apa ya?

Oke, jadi begini. TOEFL itu sebuah standardized test yang pertama kali diperkenalkan pada tahun 1964 untuk mengukur kemampuan bahasa inggris. Dari dulu hingga sekarang, TOEFL itu diadakan secara resmi oleh lembaga bernama ETS, based in The USA. ETS ga cuma ngurus TOEFL loh. Kalo pernah tahu GRE (Graduate Record Examination), salah satu syarat wajib kalau mau kuliah S2-S3 di amerika, ini juga diselenggarakan oleh ETS. Jadi, selama ini lembaga yang menyelenggarakan TOEFL di indonesia kayak LBI UI, Perbanas, AMINEF, dan lain sebagainya hanya perpanjangan tangan ETS yang membantu menyelenggarakan di negara lokal.

Oke, masuk ke jenis-jenis tes TOEFL dan perbedaannya. Secara major, TOEFL dibagi menjadi beberapa jenis berikut: TOEFL resmi (IBT, PBT, CBT), Institusional (ITP), dan Prediction. Yuk kita simak satu per satu.

    1. TOEFL resmi

Maksudnya adalah, sesungguhnya jenis tes TOEFL yang secara resmi diterima oleh hampir seluruh lembaga internasional (universitas, dsb) adalah yang resmi ini.
Terbagi menjadi IBT, CBT, PBT, yang kepanjangannya secara berurutan internet-computer-paper based test. Saya ga mau bahas CBT dan PBT karena dua tes ini sudah ditinggalkan, kalau ga salah sejak tahun 2000an akhir. Sekarang satu-satunya TOEFL resmi yang diterima secara global adalah TOEFL IBT.
TOEFL IBT ini berbeda dengan TOEFL yang umum kita ketahui selama ini. Sebelum lebih lanjut, pasti anda berpikir bahwa TOEFL itu nilainya maksimum 600an itu kan? Nah itu adalah tipe TOEFL PBT atau ITP. Kalau IBT maksimum skornya adalah 120. Dibagi menjadi 4 segmen soal: reading, listening, speaking, dan writing. Masing-masing maksimum skornya 30.

Bedanya TOEFL IBT dengan TOEFL era sebelumnya (PBT) adalah lebih menekankan pada kemampuan bahasa inggris secara umum, bukan grammar dan structure. Jadi, bahasa kasarnya, asal kita bisa grammar yang basic, seharusnya bisa dapat nilai yang cukup baik. Kalau TOEFL PBT, mau ga mau kita harus paham betul grammar sedalam-dalamnya, yah persis pelajaran di LIA lah: dangling modifier, gerund, past principle dan tetek bengeknya hehe. Kalo IBT, practically, asal kita bisa membaca, mendengar, berbicara dan menulis, maka IBT score-nya akan bagus.

Lanjut. Tipsnya apa biar TOEFL IBT bagus? Kalo pengalaman saya sih untuk reading dan listening, tinggal cari latihan soal yang banyak. Googling aja. Yang agak tricky itu speaking dan writing. Saya paling suka belajar dari youtube. Tips dan trik-nya ‘nendang’ banget. Bisa cek : http://youtu.be/436Ac6_QMAg
Dengan keyword yang kurang lebih sama, silakan dipelajari speaking question 1, 2, 3 dan seterusnya, juga writing. Alhamdulillah bermodalkan otodidak seperti ini saya pernah dapat nilai TOEFL IBT 106 .

Nah, beberapa hal miscellaneous mengenai TOEFL IBT nih.

    Pertama, bayarnya mahal! Terakhir, kalau ga salah sekitar 230 USD, alias sekitar 2,5 juta rupiah untuk kurs dolar saat ini.
    Kedua, daftarnya harus jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya kita mau daftar sekarang, kemungkinan baru bisa tes paling cepat 1-2 bulan lagi. Bergantung pada antriannya. Kalau lagi kosong sih, bisa saja minggu depan langsung dapat. Daftarnya di mana? Harus daftar terpusat di www.ets.org/toefl. Bohong kalau ada institusi yang menyelenggarakan TOEFL IBT secara mandiri tanpa mendaftar via website ETS.
    Ketiga, harus dapat skor berapa? Tentu saja berbeda tiap program dan tiap negara. Jepang, korea, taiwan, biasanya agak moderat hanya minta skor 79. Negara native inggris seperti amerika atau inggris banyak yang minta minimal 100. Negara Eropa agak di tengah-tengah, misalnya 90an

Ini untuk sekedar referensi syarat TOEFL IBT di beberapa program :

    [1] S2 dan S3 di hokkaido university syarat TOEFL 79
    www.eng.hokudai.ac.jp/e3/admission.html
    [2] S2 nanotechnology Erasmus syarat TOEFL 92 Mundus
    www.emm-nano.org/?page_id=417
    [3] S2 dan S3 Biomedical engineering di toronto university syarat TOEFL 100, dengan spesifikasi 25/30 untuk writing dan speaking ibbme.utoronto.ca/students/applying-to-ibbme/admissions-requirements/

Oh ya, waspada ya, IBT ini masa berlaku skornya cuma 2 tahun loh!

    2. TOEFL ITP

Kepanjangannya adalah institutional testing program. Jadi dari namanya saja sudah terbatas untuk kebutuhan institusi, sebenarnya secara aturan ga boleh TOEFL ITP dipakai untuk daftar admission kuliah/beasiswa. Ia hanya untuk kebutuhan internal institusi. Nah, ini jenis TOEFL yang umum kita pahami dengan maksimum skor 677. Serupa dengan TOEFL resmi ketika masih zaman PBT.

Saya tidak ingin panjang lebar, walaupun tidak sesuai dengan peruntukannya aslinya, TOEFL ITP ini masih bisa digunakan untuk mendaftar ke lembaga penyedia beasiswa, biasanya pihak ke-3. Sebutlah beasiswa LPDP, Beasiswa ADS (Australia), beasiswa Fulbright (Amerika) dan beberapa lainnya. Sangat terbatas. Itu pun in the end of the day, kita tetap harus ikut TOEFL IBT (untuk case fulbright) atau IELTS (untuk case ADS), bedanya kalau lewat program beasiswa Fulbright atau ADS, biaya tesnya akan dibayarin! Hehe. Eh, tapi beberapa universitas terutama di Korea atau Jepang atau Taiwan setahu saya masih ada yang membolehkan TOEFL ITP. Banyak rekan saya yang mendaftar hanya bermodal skor TOEFL ITP tapi bisa lolos. Coba cek ceritanya mas Ario Muhammad, peraih gelar master di NTUST Taiwan di blog berikut
ariomuhammad.com/2010/09/24/tips-mendapatkan-beasiswa-ke-taiwan-1/

TOEFL ITP banyak yang menyelenggarakan. Di jakarta yang saya tahu di LBI UI, Perbanas, AMINEF, LIA dan masih banyak lainnya. Silakan search saja di google. Biayanya murah, hanya 300 rb. Antriannya paling panjang hanya 1 bulan, kecuali kalau sedng sial, hehe.

Gimana caranya dapat skor bagus di TOEFL ITP? Menurut saya sih ITP itu ga terlalu menantang. Model belajarnya seperti belajar buat SPMB aja. Banyak latihan soal, beli aja buku-bukunya di gramedia. Pelajari pola soal yang sering keluar, mestinya sih bisa mengalami peningkatan… FYI, saya pernah mengikuti ITP-like TOEFL test di IPB, dan mendapatkan skor 623. Caranya ya itu tadi, mampu mengetahui pola dan karakteristik soal yang sering keluar.

Oh ya, biar ga terlalu keluar uang banyak, bisa juga ikut prediction test dulu. Biayanya jauh lebih murah, hanya 75 ribu. Tapi ingat, jangan pakai hasil prediction untuk daftar-daftar ya, bisa digebukin hehe.

FYI, ini ada tabel konversi nilai yang sangat bermanfaat untuk membandingkan skor TOEFL IBT (max skor 120) dan ITP/PBT (max skor 677) : yudhisti.files.wordpress.com/2013/06/toefl.jpg

3. Tes lain (IELTS, dkk)

IELTS itu setara dengan TOEFL IBT. Ia juga diterima di hampir seluruh institusi pendidikan. Bedanya dengan IBT hanya 2:

    – Listening nya aksen british
    – Speaking nya langsung dengan orang. Kalau di IBT speaking di depan komputer kemudian suara kita direkam.

Lebih sulit mana? Tergantung selera . Saya personally lebih suka IBT karena american dan ga grogi ngomong di depan komputer. IELTS ini maksimum skor 9, biasanya akan aman kalau di atas 6,5 atau yah… 7 kali ya.
Apakah kalau daftar ke kampus british (UK dan australia) wajib pakai IELTS? Hingga 2014 ini sih ga wajib. Jadi daftar ke UK maupun Australia, silakan saja pake TOEFL. Begitupun daftar ke kampus non-british, bisa pakai IELTS. Namun kemarin sempat baca berita bahwa kebijakan akan diubah, namun sepertinya masih gosip. Kita tunggu.
Jenis tes lain seperti TOEIC diterima di kampus-kampus di Jepang. Tapi saya ga mau bahas tuntas deh, silakan googling sendiri, hehe.

Kira-kira seperti itu untuk tes bahasa inggris ya. Selamat mempersiapkan.

“All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them.” (Walt Disney)
Jadi, jangan bingung lagi ya guys.:D Semoga sukses.

Tunggu edisi selanjutnya.

End of NECGS – part 2

Radyum Ikono
Founder @sahabatbeasiswa

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship