Minggu (27/01), Sahabat Beasiswa Chapter Purwokerto mengadakan Schotalk dari pukul 19.30-21.30 WIB. Narasumbernya adalah Kak Wida Yunida Putri yang sekarang sedang mengambil program Master di TU Delft jurusan Architecture, Urbanism, and Building Sciences. Kak Wida berangkat ke Belanda dengan beasiswa StuNed lhooo!

Apa yang Dimaksud dengan Beasiswa StuNed?

Beasiswa StuNed adalah beasiswa langsung dari pemerintah Belanda untuk warga Indonesia. Semua Tuition Fee (biaya kuliah) dan biaya hidup ditanggung sama pemberi beasiswa. Informasi lengkap mengenai program ini, seperti sasaran kandidat, prioritas program studi, jumlah uang beasiswa, waktu aplikasi dan lainnya, bisa langsung dilihat di website berikut. http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/StuNed

Alasan Memilih Beasiswa StuNed


Suasana kampus TU Delft University

Sebenarnya, Kak Wida sudah mendaftar banyak beasiswa, tetapi Kak Wida memilih beasiswa StuNed karena beasiswa ini mendukung visi misinya untuk mengambil Master of Architecture dan memenuhi semua kebutuhannya di Belanda (full cover). Alasan kenapa Kak Wida memilih kuliah di Belanda karena universitas dan jurusan yang ia inginkan ada di sana.

Pengalaman Kuliah ke Luar Negeri

Kuliah ke luar negeri lebih dari sekedar menimba ilmu dan mengikuti ujian. Kuliah ke luar negeri membuka wawasan dan menyadarkan kita dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dunia. Kesan pertama Kak Wida saat menginjakkan Kaki di Belanda adalah ketakutan sekaligus semangat yang besar untuk menjelajahi negeri ini lebih jauh. Hal ini membuahkan beberapa pengalaman tersendiri bagi Kak Wida.

Cultural Shock

Pertama, perbedaan kultur yang sangat besar dengan kampung halaman. Walaupun setiap negara atau kota berbeda, tetapi selalu ada budaya yang tidak cocok dengan orang Indonesia. Awalnya, Kak Wida merasa sangat excited, naik sepeda setiap hari, naik transportasi umum, menikmati jalanan yang bersih dan teratur, jalan-jalan melihat bangunan arsitektural yang megah dan konvensional, semuanya sangat baru untuk Kak Wida. Lama kelamaan, saat mulai beradaptasi, Kak Wida merasakan ada kejanggalan dan ketidakcocokan dengan lingkungan baru.

Di Belanda, semua toko akan tutup pada pukul 5 atau 6 sore dan semua orang sudah duduk rapi di meja makan di rumah masing-masing. Sedangkan di Indonesia, pukul 19.00 adalah waktu semua orang bersiap untuk keluar nongkrong di Mall. Hari Minggu pun tidak jauh berbeda, jadwal bus semakin jarang, waktu toko beroperasi juga semakin singkat. Singkat cerita, Kak Wida merasa sedikit kesepian. Tetapi, dengan banyaknya mahasiswa Indonesia yang juga ‘menderita’ seperti Kak Wida, mereka saling bertukar cerita dan saling dukung.

Berbeda Sistem Pendidikan

Kedua, perbedaan sistem pendidikan yang mencapai 180 derajat dengan kampusnya dulu. Sistem pendidikan yang digunakan di kampus Kak Wida sekarang adalah sistem Quarter dengan bobot 15 ECTS (European Credit Transfer and Accumulation System). Dalam satu quarter hanya ditempuh dalam 2-3 bulan saja. Dalam satu quarter ini, Kak Wida akan mengalami 2-3 kali presentasi dengan tambahan tugas mingguan. Berhubung Kak Wida adalah mahasiswa arsitektur, ia tidak perlu mengikuti ujian tertulis di akhir quarter. Tetapi, sebagai gantinya Kak Wida dibebani tugas yang berbobot 10 dan 5 ECTS yang memakan waktu sepanjang quarter untuk menyelesaikannya.

Ketika Kak Wida masih menempuh pendidikan S1, Kak Wida dan teman-temannya tidak pernah atau jarang sekali bekerja dalam kelompok atau bahkan berdiskusi. Sementara, hal utama yang harus Kak Wida lakukan di Belanda adalah berdiskusi dan mengutarakan pendapat. Ketidaklancaran Kak Wida dalam berbahasa Inggris adalah kendala utama dalam mengutarakan pendapat. Tetapi, dengan bantuan teman-teman baru, Kak Wida dapat beradaptasi lebih cepat dan mudah.

Hal yang sangat Kak Wida sukai dalam lingkungan barunya adalah kerjasama yang baik antar mahasiswa. Mereka dibiasakan untuk selalu membagi informasi dan data demi kelancaran studinya. Dosen di Belanda pun sangat kooperatif dan baik dalam pemberian informasi serta data ke mahasiswanya. Sehingga, perkuliahan menjadi cukup mudah bagi para mahasiswa internasional, walaupun harus dituntut untuk lebih aktif.

Winter Depression Syndrom

Ketiga, sindrom Winter Depression. Walaupun Kak Wida termasuk orang yang cukup santai, beliau tetap mengalami sindrom ini. Sindrom ini terjadi ketika musim panas yang terik mulai berganti menuju musim gugur dan musim dingin. Di Belanda, pada musim dingin, matahari akan terbit pada pukul 08.15 dan tenggelam pada pukul 16.30. Berangkat kuliah gelap, pulang pun gelap. Sangat berbeda dengan Indonesia yang kaya akan sumber kehangatan matahari. Perubahan yang terjadi adalah rasa depresi yang sedikit demi sedikit mulai menggerogoti dan mengganggu akademis. Hal ini katanya disebabkan karena kurangnya vitamin D dalam tubuh kita. Sehingga, hal paling penting yang biasanya Kak Wida lakukan setiap hari adalah minum vitamin D.

Urusan Makanan/Perut

Keempat, urusan perut. Di Belanda, banyak sekali toko Asia yang menjual bahan-bahan makanan seperti bumbu tradisional, tempe, dll. Di Belanda pun cukup banyak toko yang menjual daging halal. Walaupun, harganya jauh berbeda dengan Indonesia dan cenderung mahal apabila dibandingkan dengan bumbu-bumbu Eropa. Bahan-bahan makanan di sini cukup untuk melepas kerinduan pada kuliner di Indonesia. Suatu catatan bagi mahasiswa yang bersekolah di luar negeri adalah harus bisa memasak sendiri. Sebenarnya, di Belanda ada banyak restoran Indonesia namun, harganya cukup mahal untuk kantong mahasiswa. Biasanya, mereka akan makan makanan Indonesia ketika sudah selesai ujian atau merayakan sesuatu bersama.

Homesick

Pengalaman terakhir Kak Wida adalah homesick. Seumur hidup, Kak Wida belum pernah merantau jauh lebih dari 2 bulan dari Jogjakarta dan keluarga. Bukannya tidak mau, tetapi kebetulan memang pekerjaan Kak Wida tidak berpindah dari Jogja. Sekarang, Kak Wida diberi kesempatan untuk merasakan kehidupan merantau. Awalnya, pada 2 bulan pertama Kak Wida merasa biasa saja dan belum ada rasa rindu pada rumah. Untungnya dengan bantuan teknologi Kak Wida dengan mudah menghubungi keluarga di Indonesia. Setelah habis 2 bulan pertama, mulai muncul benih-benih kerinduan pada rumah, khususnya keluarga.

Berbulan-bulan berjuang dengan akademis dan kehidupan sehari-hari, Kak Wida memutuskan untuk membuka diri lebih lebar dan ikhlas, tentunya banyak berdoa kepada Tuhan. Akhirnya, Kak Wida merasa menjadi lebih mudah dalam beradaptasi dengan lingkungan. Walaupun awalnya sangat sulit untuk beradaptasi, tetapi kunci dari semuanya adalah “bersyukur” dan “cari teman sebanyak-banyaknya”. Ketika Kak Wida sudah sampai di Belanda, ia sadar bahwa semua hal di sana harus dimanfaatkan dengan baik. Perjuangan Kak Wida dan teman-temannya untuk bisa sampai di Belanda memang tidak singkat dan tidak mudah, tetapi “percaya bahwa semua ini pantas untuk diperjuangkan demi pengalaman seumur hidup yang akan mengubah pandangan dan jalan hidup”, insya Allah.

Tips

Kak Wida berpesan untuk para Scholarship Hunters, pertama, luruskan niat dan siap untuk berjuang. Teman-teman harus niat dari hati sendiri, bukan paksaan dari orang tua atau orang lain atau sekedar pengin saja. Perjuangan untuk mendapatkan beasiswa itu tidak singkat, karena banyak yang harus dikorbankan.

Kedua, tawakal (pasrah) kepada Tuhan. Kerja keras itu tidak akan mengkhianati hasil, begitu kata Kak Wida. Kalau sudah berjuang, sudah usaha keras, tinggal doa terus sama Tuhan, meminta yang terbaik. Terakhir, ikhlas sama keputusan Tuhan, karena itu pasti yang terbaik untuk makhluk-Nya.

Artikel ini merupakan hasil notulensi schotalk Sahabat Beasiswa Chapter Purwokerto

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship