Narasumber spesial pada Schotalk kali ini ialah Kak Andhika Hardani Putra yang merupakan dokter hewan lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Saat ini, Kak Andhika tengah menjalani studi Pascasarjana bidang Veterinary Medical Sciences di University of Florida, Amerika Serikat dengan beasiswa penuh Fulbright.

Yuk, Kenalan Sama Beasiswa Fulbright

Beasiswa Fulbright adalah beasiswa bersifat merit-based yang disponsori oleh US Department of State, atau kementerian luar negeri dari negara Amerika Serikat. Di Indonesia, program ini dijalankan oleh AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation). Program ini bertujuan untuk meningkatkan Mutual Understanding antara Amerika dengan negara lain di dunia. Program ini bukan hanya untuk negara Indonesia saja, tetapi juga untuk banyak negara lain, dan sudah berlangsung sejak lama yang menjadikan program beasiswa ini sangat prestisius terutama di kalangan orang Amerika Serikat. Hampir semua orang Amerika Serikat tahu bahwa beasiswa Fulbright adalah beasiswa yang sangat kompetitif. Setelah lulus, penerima beasiswa ini sangat disarankan selama 2 tahun untuk kembali ke negara asal. Tetapi, bagi kalian yang mau lanjut langsung S3 nantinya setelah lulus S2, tidak harus kembali ke negara asal selama 2 tahun dulu. Kalian juga tidak boleh untuk apply visa kerja (visa kelas H untuk visa kerja, sementara visa student itu kelas F atau J) setelah lulus. Jadi, penerima beasiswa ini harus kembali ke negara asal terlebih dahulu kalau mau kerja setelah lulus.

Beasiswa Fulbright Memiliki Beberapa Keunggulan, Loh, Dibandingkan Beasiswa Lainnya

Ada beberapa kelebihan yang dimiliki beasiswa Fulbright ini bila dibandingkan beasiswa lainnya. Antara lain sebagai berikut:

  1. Networking!
    Selama masa studi kalian di Amerika Serikat, kalian bakal bertemu sama Fulbrighter dari seluruh dunia di berbagai event, seperti pre-academic traning, on campus Fulbrighter gathering, dan enrichment seminar yang mana semuanya gratis.
  2. Traveling Time!
    Beasiswa ini juga provide untuk traveling keliling US, karena para grantee Fulbright itu di encourage untuk “Go out there and explore the US!!”, karena beasiswa Fulbright bukan melulu untuk belajar, tapi juga cultural exchange. Sangat jarang, loh, beasisbwa lainnya memberikan pengalaman seperti ini.

Perjuangan Kak Andhika dalam Mendapatkan Beasiswa

Ada 2 beasiswa yang Kak Andhika daftarkan, yaitu Fulbright dan LPDP. Awalnya beasiswa yang Kak Andhika inginkan itu LPDP, “Aku incer banget itu sebetulnya LPDP. Selain karena LPDP itu betul-betul fully-funded, aku tau Fulbright itu terlalu kompetitif, sehingga aku gak berharap banyak dengan Fulbright.” kata Kak Andhika.

Pertama, Kak Andhika dinyatakan lolos wawancara beasiswa Fulbright di sekitar bulan Mei 2018. Ia dinyatakan lolos interview Fulbright, tetapi sebagai Alternate Candidate (Waitlisted Candidate) yang mana kandidat yang akan naik jadi kandidat utama (Principal Candidate) hanya jika ada principal yg mundur, gagal di tengah proses, atau ada dana tambahan. Karena sebab inilah ia masih mendaftar LPDP, karena posisinya belum 100% aman. Kemudian, ia juga tetap daftar beasiswa LPDP dan dinyatakan lolos mendekati akhir 2018 yang diumumkan saat ia sudah PK (Persiapan Keberangkatan) untuk beasiswa Fulbright. Dikarenakan ia menjadi Principal Candidate Fulbright dan terpaksa ia harus mundur dari LPDP karena mau berangkat dengan beasiswa Fulbright.

Tips Pendaftaran Beasiswa Fulbright

Ada beberapa tips umum untuk pendaftaran beasiswa Fulbright saat tahap application. Untuk persyaratannya bisa kalian buka di https://www.aminef.or.id/grants-for-indonesians/fulbright-programs/scholarship/ . Berikut ada beberapa tips umum yang Kak Andhika sampaikan, antara lain sebagai berikut:

1. Persiapkan essay sedini mungkin

Minta proofread jika sudah bikin essay-nya mulai dari sekarang. Your study objective essay is the cornerstone of your application. Make sure spelling is right. Contoh paling sederhana: Fulbright not Fullbright. Keep in mind, bukan berarti bagian lain dari application itu tidak penting ya! Also, usahakan ada satu orang proof reader di bidang kalian, dan satu orang yang bukan dibidang kalian supaya komentarnya seimbang. “Untuk kalian yang bidangnya di veterinary medicine, I will be more than happy to proofread your essay!!” ungkap Kak Andhika.

2. Dokumen yang dikirim harus lengkap!

Pastikan dokumen yg diminta AMINEF untuk dikirim lengkap tanpa ada yang terlewat satu pun. AMINEF kemungkinan besar akan disregard dokumen pendaftaran kamu kalau ada satu saja yang kurang.

3. Siapkan skor tes IELTS/TOEFL kalian

Buat yang masih punya waktu, persiapkan skor TOEFL/IELTS sejak dini. Mendapat skor minimal di tes ini butuh waktu yang berbeda-beda tiap orang. Ada yang cuma butuh 1 minggu persiapan, sampai juga ada yang butuh 1-2 tahun khusus untuk persiapan serta untuk TOEFL IBT Dan IELTS hasil tes keluar 10-14 hari setelah tanggal tes.

4. Be bold! Alias nekat!

“Gak usah banyak mikir bakal gak keterima, gak usah banyak alasan karena takut ga dapat ijin belajar dari tempat kerjaan, udah hajar aja dulu. Coba aja apply dulu tanpa takut ini itu. Dont let those fear block your path!” kata Kakak Andhika. Yang penting kalian mau memperjuangkan untuk mendapatkan beasiswa ini.

5. Jangan hanya terpaku di Fulbright

Mungkin kalian sudah mengunci impian kalian di Amerika dengan Fulbright. Tapi kita gak pernah tahu apa yang terbaik versi Tuhan. Jadi, cobalah beasiswa lain juga. Kak Andhika dulu juga daftar beasiswa Australia Awards, cuma lolos seleksi berkas tapi tidak lolos ketika interview. Selain itu, untuk ke Amerika ada opsi beasiswa lainnya termasuk LPDP, USAID Prestasi, atau beasiswa dari universitas yang bersangkutan.

6. Jaga semangat

Menurut Kak Andhika, ini yang paling sulit. “Kita manusia biasa, ada kalanya semangat tinggi, ada kalanya semangat down, that is perfectly normal. Saran aku, banyak-banyak bergaul sama temen yg sama-sama berjuang cari beasiswa. Ada kalanya ketika lagi down semangatnya, terus liat ig or fesbuk temen km yang sedang semangat-semangatnya kejar beasiswa, ini insya Allah akan bisa mengembalikan semangatmu. Atau sesimpel follow ig dari awardee/grantee yang sedang belajar ke Amerika. Jadikan postingan-postingan mereka selama di luar negeri itu jadi cambuk semangatmu.” kata Kak Andhika. Jadi, kalian yang akan daftar beasiswa manapun harus tetap dipertahankan bahkan harus ditingkatkan lagi semangatnya.

7. Jangan lupakan akademik dan non-akademik kalian

Buat yang sekarang masih dibangku kuliah, tidak ada salahnya untuk prepare lebih dini. Jangan lupa pula untuk tingkatkan IPK kalian bagi yang masih kuliah karena IPK itu salah satu parameter penting dari kalian untuk penerimaan mahasiswa dari kebanyakan universitas di Amerika. Tetapi kata Kak Andhika IPK bukan segalanya, jangan lupa juga perkuat pengalaman organisasi. Ada satu juga dari Kak Andhika buat yang masih di bangku kuliah, perbaikilah hubungan kalian dengan dosen. Merekalah yang akan kalian mintai surat rekomendasi untuk mendaftar beasiswa, kalau minta surat rekomendasi, maka minta ke dosen yang tahu kalian, bukan semata-mata dosen yang punya gelar guru besar tetapi mereka tidak kenal kalian yang buat surat rekomendasi ada esensinya. Bahkan, dulu Kak Andhika dapat surat  rekomendasi dari 2 dosen yang bukan guru besar, tetapi Kak Andhika bisa lolos beasiswa, kok.

Berikut sesi tanya-jawab pada Schotalk #2 Sahabat Beasiswa Chapter Depok:

Kenapa milih Amerika untuk melanjutkan studi? (Andini_Univ Gunadarma_Manajemen)

Kenapa sih aku ambil Amerika? Alasannya sih karena subject-related ya, so it might not apply to your field. Alasanku karena Amerika itu salah satu kiblatnya kedokteran hewan di dunia. Selain itu, program di Amerika rata-rata 2 tahun, dan buat saya kalau lebih lama durasi belajarnya pasti dapatnya lebih banyak juga (in terms of content knowledge, cultural lesson dan adaptasi pola pikir), jadi itulah mengapa saya pilih Amerika. Berhubung saya dulunya dokter hewan praktek, tentu saya ambil S2-nya linier dengan bidang saya yaitu veterinary medical sciences. Selain itu, aku memang pilih negara yang berbasis Bahasa Inggris, supaya bisa easily keep contact dengan para locals disini hehe.

Boleh minta tolong dijelaskan secara singkat terkait peluang menjadi penerima beasiswa Fullbright bagi WNI? (Fitri_Umum)

There will be always a chance buat diterima di beasiswa Fulbright. Selama dokumen-dokumen kamu lengkap dan essay-nya betul-betul menyatakan semangatmu dalam mengejar studi.

a. Apakah semua universitas di US bekerjasama dengan Fulbright? b. Jika ada universitas yang tidak bekerjasama dengan Fulbright adakah booklet atau list universitas2 yang bekerjasama dengan Fulbright? (Salwa_Universitas Islam As-syafi’iyah)

Semua universitas di Amerika akan menerima Fulbrighters, dan beberapa dari mereka akan memberi kita semacam diskon SPP supaya beban biaya studi kita jadi lebih ringan! Kalau booklet sih belum ada ya setau saya.

Apa saja yang ditanya sama interviewer pada saat proses interview ? Dan ada berapa orang yangg wawancara kita nanti ? ( Malinda_Universitas Bung Karno_Ilmu Politik )

Jadi, nanti akan ada 4 orang yang wawancara kamu, dua orang Amerika dan 2 orang Indonesia yang biasanya mereka alumni Fulbrighter atau bisa juga duta besar dari Amerika. Pertanyaannya itu nggak jauh dari essay yang kamu tulis itu nanti yang bakal ditanyain sama mereka, contoh “kenapa sih kamu kok pengen banget ngejar field ini?”, “kenapa kok nggak mau mencari yang lain?”, dan “apa signifikan efeknya untuk Indonesia?” terus pokoknya intinya muter-muter aja di situ pertanyaannya. Selama kamu menguasai banget bidang kamu yang mau kamu ambil pasti kamu saja pertanyaan tersebut.

Perihal IELTS, aku lihat dipersyaratan Fulbright tidak terlalu specifik untuk score band ielts-nya. Kira-kira ada batas aman tidak menurut Kak Dika? ( Rayi Pasca_President University_ Business Administration )

IELTS ini memang banyak pertanyaan dan kita pun (para grantee) tentunya juga ada debat antara 6 atau 6,5. Soalnya ada yang bilang ekuivalensi TOEFL ITP 550 itu 6 tapi menurut aku nilai 6 itu ukuran standar. Jadi usahakan tetap dapat 6,5 untuk amannya, kalau bisa lebih.

Kak, kebanyakan awardee yang menerima beasiswa itu sudah punya bejibun prestasi. Jadi presiden organisasi sana sini. Pembicara sana sini. Bagaimana ya kak bangun semangat buat apply beasiswa yang notabenenya tidak punya banyak prestasi seperti itu? ( Rita_Uinsu Medan_PBI )

Sebenarnya untuk beasiswa Fulbright, kalian tidak harus jadi ketua sana sini kok, contoh saja aku tidak jadi ketua. Contohnya aku bukan siapa-siapa cuma anggota biasa saja tapi bisa dapat beasiswa ini, dari sini mungkin bisa jadi semangat buat teman-teman bahwa untuk jadi seorang Grantee, tidak harus jadi ketua. Yang penting kalian punya kemampuan berorganisasi dan skill komunikasi yang bagus itu sudah cukup.

Apakah akreditasi kampus asal berpengaruh terhadap seleksi beasiswa Fullbright? Dan apakah kampus swasta dan negeri memiliki peluang yang sama? ( Rizki_Universitas Esa Unggul )

Kampus swasta punya chance yang sama dengan kampus negeri. Aku punya banyak banget teman-teman grande full crack yang dari kampus swasta. Akreditasi juga aku rasa tidak pengaruh banyak ya, yang penting kalian bisa demonstrate kalau field yang aku pelajari ini adalah field yang penting dan signifikan untuk Indonesia. Nanti aku akan kembali ke Indonesia dengan kontribusi aku rasa, that’s all matter. Jadi kampus negeri atau akreditasi aku rasa tidak terlalu ber-impact besar sih kalau dari beasiswa fulbright.

Artikel ini merupakan notulensi Schotalk #2 Sahabat Beasiswa Chapter Depok, 17 Februari 2019.

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship