Sahabat Beasiswa Chapter Yogyakarta pada tanggal 23 Februari 2019 baru saja selesai mengadakan Schotalk ke-2. Narasumbernya adalah Kak Rifki Sanahdi, penerima beasiswa LPDP S2 jalur Afirmasi daerah 3T (tertinggal, terluar, terdalam) di Development Practice di University of Queensland, Australia. Berikut ini adalah beberapa poin yang akan diuraikan Kak Rifki dalam perjalanannya meraih beasiswa:

Mengapa Memilih LPDP?

Awalnya Kak Rifki memilih Negara Swedia untuk menjadi negara tujuan studi. Seiring berjalannya waktu, Kak Rifki memilih Australia. Pertama kali adalah apply beasiswa Australian Award Scholarship (AAS) tetapi, pada tahap wawancara Kak Rifki gagal. Kemudian di Polandia, namun tidak di teruskan karena universitas yang dipilih dan jurusannya tidak sebaik negara-negara lain jadi, Kak Rifki memilih mengundurkan diri. Akhirnya, Kak Rifki memutuskan untuk memilih LPDP jalur Afirmasi karena dia berasal dari Sumbawa, NTB yang masuk kategori daerah 3T (tertinggal, terluar, terdalam). Jadi, proses pendaftarannya dipermudah.

Perjuangan Meraih Beasiswa LPDP

Bagi Kak Rifki, untuk selalu memperkuat motivasi di dinding kamar ditempel target beasiswa dengan huruf besar-besar. Sehingga, hal ini secara tidak langsung dapat memengaruhi alam bawah sadar untuk terus bergerak dan mengejar beasiswa yang menjadi target. Awal gagal di AAS, Kak Rifki ingin menyerah tetapi tidak jadi karena adannya teman-teman yang suportif. Jadi, penting untuk bergabung dengan suasana dan iklim yang mendukung.

Kegagalan itu adalah hal yang biasa, Kak Rifki menyebut dengan bahasa anak millenial yaitu “kegagalan yang hakiki”. Karena, pada saat itu Kak Rifki tidak berusaha gigih untuk mengejar beasiswa AAS melainkan, terlalu menggantungkan ke takdir, “jika lolos, ini  takdir saya dan kalau saya ga lolos ini bukan takdir saya, ”kata Kak Rifki. Kemudian, saat mendaftar beasiswa LPDP, Kak Rifki mengubah mindset yaitu “takdir itu kita yang jemput. ”Saat tes wawancara dan  komputer di Yogyakarta bertemu dengan orang-orang hebat, karena mereka memiliki rasasosial yang tinggi, pada saat berkumpul adalah waktu untuk latihan bersama, saling dukung sehingga tidak terasa seperti kompetisi.

Pengalaman Penting yang Bisa Dipetik dari Kak Rifki dan Teman-Temannya untuk Meraih Beasiswa LPDP

LPDP adalah pemberi beasiswa yang menginginkan pemimpin dimasa depan, jadi apa kontribusi konkrit kita di dalam masyarakat. Kak Rifki Membangun organisasi di kampung bersama teman-temannya, menjadi volunteer. Selain itu hal yang penting adalah saat apply beasiswa aplikasi yang di submit harus berkualitas dan pesan Kak Rifki, “Essay itu jantung dari beasiswa”. Jadi, harus benar-benar mengerti tentang isi essay milik sendiri. Nilai plus juga biasanya jika calon penerima beasiswa pernah mengikuti internasional conference, dan yang tidak kalah penting persiapan bahasa inggris (IELTS) secara matang, paham dan benar-benar mengerti jurusan dan universitas tujuan.

Saran untuk Para Scholarship Hunter

Scholarship hunterbisa mencontoh, nih, seperti yang dilakukan Kak Rifki. Dia meyakinkan pemberi beasiswa kenapa memilih keluar negerikarena ada permasalahan di kampung Kak Rifkiyaitu Sumbawa yang ingin diselesaikan. Sehingga memerlukan ilmu yang didapatkan dari luar negeri. Ini adalah salah satu clue yang digunakan oleh pencari beasiswa agar di terima, datang dengan membawa kasus/issu tidak dengan tangan hampa. Clue lain saat sudah mendaftar beasiswa tetapi banyak gagal, kita harus merefleksikan ke diri sendiri apa kekurangan kita. Jangan terlalu show off terutama saat wawancara dan tanamkan mindset pada diri bahwa setiap sesi dalam beasiswa jangan pernah di remehkan dan tunjukkan yang terbaik.

Selain itu, saat hendak memutuskan untuk mendaftar beasiswa harus mencari benar seperti apa kriteria yang diinginkan pemberi beasiswa.Kita harus menyesuaikan diri menjadi orang yang diinginkan pemberi beasiswa serta memposisikan diri sebagai pemberi beasiswa. Misal, LPDP menginginkan pemimpin di masa depan; yang di tunjukkan kepemimpinan kita disana.

Saran Kak Rifki bahwa terma-terma yang di gunakan adalah terma kolaborasi. Maksudnya dengan bekerja sama, misalnya membangun sebuah organisasi dengan bantuan orang lain, poinnya akan lebih tinggi karena pada zaman sekarang dari banyak hal membutuhkan kerja sama dan yang tidak kalah penting adalah “Never stop trying”,  gagal itu biasa dan hal paling tidak terpuji menurut Kak Rifki itu menyerah karena kegagalan itu mengajarkan kita untuk mengevaluasi diri dan terus mengembangkan kapasitas diri.

Sesi Tanya-Jawab

Apa IPK itu berpengaruh untuk mendapatkan beasiswa LPDP?

Ya, berpengaruh saat tahap administrasi, kalau reguler itu mulai 3,00 dan afirmasi itu 2,75. Jangan berkecil hati kalau IPK tidak tinggi, kalau sudah memenuhi standar minimum daftar saja.

Jika mengikuti banyak organisasi itu apa akan menambah nilai plus?

Ya, karena biasanya yang di tanyakan itu pengalaman kerja atau pengalaman organisasi karena hal tersebut menjadi pertimbangan oleh pemberi beasiswa seberapa jauh pengalaman seseorang dalam berorganisasi, bersosialisasi. Saran dari Kak Rifki, bagi yang masih S1 ikutlah orgaisasi karena itu penting terutama organisasi yang bentuknya langsung real kepada masyarakat itu bisa membuat grade lebih tinggi, atau bisa juga dengan membuat organisasi di luar kampus.

Jikalau kita mendapatkan LoA di tahun berikutnya, namun tidak sesuai dengan tujuan yang terdapat di Essay rencana studi bagaimana?

Sejak tahun 2018, LPDP menerapkan sebuah peraturan bahwa universitas tujuan studi yang sudah tertulis diaplikasi beasiswa sulit untuk diubah. Kalaupun bisa, harus dengan alasan yang sangat kuat. Teman-teman harus benar-benar mematangkan pilihan di mana tujuan universitas sesuai keinginan, kebutuhan, dan jurusan yang diambil.

Apabaila tahun ini lolos LPDP dan sudah mendapatkan LoA, apakah baru bisa mengikuti perkuliahan tahun depan?

Sepengetahuan Kak Rifki, teman-teman baru bisa kuliah kalau sudah mendapatkan LoA adalah setelah minimal 6 bulan setelah diterima oleh beasiswa dan setelah mengikuti PK (persiapan keberangkatan) karena hal ini wajib untuk para awardee LPDP.

Hal tersulit apa yang dialami saat berjuang untuk beasiswa hingga mendapatkan LoA dan bagaimana cara Kakak survive sampai jadi awardee?

Bagi Kak Rifki hal yang tersulit itu yang pertama untuk membangkitkan motivasi setiap hari karena semangat itu seperti iman, kadang naik kadang turun. Harus dimatengin benar-benar niatnya karena mencari beasiswa tidak segampang itu, butuh pengorbanan yang besar yaitu mengorbankan waktu, materi, kadang pun pertemanan dikorbankan karena lebih fokus ke aplikasi beasiswa dan jarang berkumpul dengan teman-teman yang lain. Kedua, hal kedua yang sulit adalah teknis menyelaraskan previous background, previous studies kita dengan study yang akan diambil di luar negeri dan juga kontribusi kedepannya. Hal ini harus benar-benar di matangkan, harus di buat relevan semua.

Cara untuk survive sampai jadi awardee adalah dukungan orang tua. Menurut kak Rifki, dukungan dari orang tua ini penting.Dukungan dari teman-teman dan fasilitas, misal dengan membuka dan melihat di Youtube testimoni dari para awardeeyang sudah kuliah di luar negeri.Terakhir adalah Blberdoa, karena bagi Kak Rifki dirinya adalah seorang yang beruntung karena misalnya mendapatkan pewawancara yang baik, pertanyaan-pertanyaan yang bisa dijawab. Dan pesan dari Kak Rifki,”Preparing is number one, performa harus sebagus mungkin, all out.”

Seusai lulus S1 apakah kita perlu bekerja/mencari pengalaman terlebih dahulu untuk mengetahui apa yang akan dituju di S2, atau kita fokus untuk mempersiapkan scholarship yang dituju? karena dalam hal ini ketika kita mengambil S2 itu salah jurusan

Kalau sudah lulus, langsung daftar saja karena pekerjaan akan tergantikan dengan  pengalaman-pengalaman organisasi. Kak Rifki dulu tidak ada pengalaman kerja profesional, mempersiapkan Bahasa Inggris ke Pare dan sembari menunggu beasiswa mengikuti aktivitas tambahan dengan mengikuti kegiatan volunteer atau terjun langsung di masyarakat. Karena hal tersebut akan sangat membantu kedepannya jadi, tidak perlu harus bekerja dulu. Tetapi yang bekerja biasanya memiliki nilai plus karena banyak pengalamannya.

Langkah-langkah penting apa saja yang harus menjadi prioritas agar kita fokus sehingga lolos untuk mendapatkan beasiswa?

Ada dua hal penting yang harus di prioritaskan, pertama Bahasa Inggris karena Bahasa Inggris adalah hal fundamental. Untuk saat ini IELTS dari LPDP memberikan ketentuan 6,5 dan yang kedua harus benar-benar paham jurusan dan universitas yang diinginkan karena hal itu dapat memperkuat alasan kenapa memilih luar negeri dan LPDP memberikan beasiswanya.

Diantara semua berkas-berkas atau syarat-syarat mendapatkan beasiswa, hal mana yang harus diutamakan dan di fokuskan terlebih dahulu sehingga alurnya lebih efektif dan efisien?

Hal yang harus diutamakan adalah Essay, karena Essay adalah jantung dari beasiswa.Saat wawancara jawaban-jawaban yang nanti akan di berikan itu adalah jawaban-jawaban dari elaborasi Essay yang ditulis. Jadi, saat menulis Essay itu ga bisa dengan waktu singkat harus di persiapkan sebelumnya.

Adakah tips-tips khusus untuk setiap tahap kita apply scholarship?

a. Cari info beasiswa secara mendalam, bisa dengan membaca policy handbooknya. Untuk tahap administrasi apakah syarat-syaratnya sudah dipersiapkan dan disubmit, menanyakan Essay kita pada orang lain, misal dosen atau orang yang sudah meraih beasiswa, menanyakan kesesuaian grammar-nya, koheren dan kohesinya sudah pas sebagai bentuk Essay apa belum karena hal tersebut penting.

b. Kalau di LPDP tahap kedua ada seleksi berbasis komputer (tes potensi akademik, soft kompetensi, Essay on the spot). Persiapkan secara matang TPAnya,biar bisa ke sesi selanjutnya. Kemudian ada soft kompetensi, lebih ke pertanyaan yang berbau psikologis, semisal ada sebuah permasalahan apa yang akan dilakukan.Disoft kompetensi sudah ada grid jawabannya tinggal memilih.

c. Untuk Essay on the spot mulai dari sekarang harus belajar writingbiar bisa menulis cepat. Bagaimana kita merespon isu itu dengan cepat. Kalau Kak Rifki karena pernah belajar IELTS, jawabannya menggunakan sistematika IELTS. 5 menit untuk membaca soal yang sangat panjang, 5 menit selanjutnya untuk membuat sejenis mapping tentang jawabannya dan sisanya 20 menit Kak Rifki menuliskan jawabannya.

d. Tahap terakahir wawancara dan LeaderlessGroupDisscusion (LGD), usahakan saat wawancara jangan terlalu show off, jangan terlalu PD banget, bicara seperlunya dan sejujurnya karena nanti ada 3 penanya yang pertama akademisi, yang kedua praktisi yaitu dari LPDP sendiri, yang ketiga psikolog. Biasanya,psikolog sangat krusial perannya. Attitude, manner dijaga sebelum wawancara.

e. Searching dulu universitas yang dituju, cari tahu tentang hal tersebut.Untuk LGD, jangan terlalu mendominasi berbicara sekitar 2 menitsaja karena untuk memberikan kesempatan kepada orang lain. Attitude dijaga seperti: menghargai pendapat orang lain, memperhatikan saat orang lain berbicara, saat tidak sepakat dengan pendapat orang lain kita bisa tidak setuju dengan cara-cara seperti “saya mengapresisasi pendapatnya tetapi akan lebih bagus kalau kita juga melihat dari aspek yang lain.”

Wah, inspiratif banget, kan, cerita dari Kak Rifki? Intinya, teman-teman memang harus benar-benar sudah matang dalam menentukan pilih jurusan, kampus dan negara tujuan studi. Tak lupa syarat pendaftaran juga harus dipersiapkan dengan baik, ya.

Kak Rifki membagikan sebuah pepatah Arab buat teman-teman, “Kamu menginginkan sebuah kesuksesan tapi kamu belum berusaha untuk mencari jalan untuk meraihnya itu sama saja ibaratnya seperti kapal yang tidak mungkin bisa berjalan di atas daratan.” Mulai sekarang, gapai mimpi kita! Usahakan apa yang kita inginkan kedepannya. Good Luck, teman-teman! (ndl)

Artikel ini merupakan notulensi Schotalk #2 Sahabat Beasiswa Yogyakarta, 23 Februari 2019.

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship