Apa yang Dimaksud dengan Beasiswa AAS?

Lebih sering dikenal dengan AAS atau singkatan dari Australia Awards Scholarship adalah beasiswa yang diberikan oleh pemerintah Australia dan dikelola oleh Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT). Beasiswa AAS diberikan kepada orang Indonesia dan beberapa negara lain yang ingin belajar S2 atau S3 di Australia.

Membahas beasiswa AAS, kali ini ada kak Pandu Utama Manggala,
MA, M.Dipl. Kak Pandu adalah lulusan master di Australian National University (ANU), Canberra, Austalia dengan beasiswa AAS (Australia Awards Scholarship). Secara umum, untuk list kampus di Australia dan programnya, teman-teman bisa cek di website CRICOS ini ya: http://cricos.deewr.gov.au.

Di Australia, untuk program Master, teman-teman bisa memilih dua opsi, yakni mengambil Master by Coursework atau Master by Research. Bedanya apa?Jika kamu memilih Master by Coursework, maka tidak perlu menulis proposal dan tidak perlu kontak calon pembimbing/supervisor/professor. Sebaliknya, kalau master by Research, teman-teman nanti di aplikasi awal, sebisa mungkin mengisi proposal riset dan sudah kontak profesor terlebih dahulu. Benefitnya apa? Untuk master by research ini, seperti bridging buat ke S3. Jadi. nanti lebih mudah dapat beasiswa S3nya. Secara umum, pelamar beasiswa AAS per tahun biasanya di atas 5000 orang dengan penerima beasiswa sekitar 500 orang setiap tahunnya.

Motivasi Melanjutkan Pendidikan dengan AAS

Beberapa faktor yang membuat Kak Pandu memilih mengambil beasiswa AAS:

  1. Beasiswa AAS adalah salah satu beasiswa paling bergengsi. Banyak universitas yang ada di Australia masuk dalam top rank universitas di dunia. Contohnya kampus ANU.Jurusan Ilmu Hubungan Internasional di ANU itu masuk no.5 terbaik sedunia, dan kampus paling top di Australia. “Saya memang pengen ambil master di Australian National University yang menjadi “kiblat’ bagi disiplin ilmu hubungan internasional dengan perspektif Asia Pasifik.” ungkap Kak Pandu.
  2. Australia dekat dengan Indonesia, sehingga memudahkan jika perlu pulang ke tanah air. Dari Canberra ke Jakarta, total perjalanan sekitar 7 jam dengan pesawat. Sehingga kalau sedang break musim panas yang cukup panjang (dari November-Februari), biasanya mahasiswa Indonesia di Australia bisa pulang juga untuk mengobati rasa kangen ke Indonesia.
  3. Beasiswa AAS itu sangat besar nominalnya. Perbulan awardee diberi 2300 AUD, atau sekitar 25 juta/bulan untuk hidup di Australia. Gede banget,kan? “Buat single, saya pastiin, pulang-pulang tabungan langsung penuh deh. Itu kira-kira ya kenapa saya ambil beasiswa AAS untuk S2 saya.” kata Kak Pandu.
Australian National University

Apa Saja Persyaratan untuk Mendapatkan Beasiswa AAS?

Idealnya calon pelamar harus memulai dari membaca secara cermat semua informasi yang sudah ditulis dengan lengkap di website AAS Indonesia (https://www.australiaawardsindonesia.org/). Jika sabar dan cermat, semua hal ada di sana dan sebenarnya tidak perlu banyak bertanya, terutama tentang persyaratan. Secara umum, menurut kak Pandu: Tentang TOEFL atau IELTS, pelamar S2 harus mencapai skor minimal 500 (paper-based TOEFL) atau 5,0 untuk IELTS agar bisa mengajukan lamaran. Sedangkan untuk pelamar S3, TOEFL minimal adalah 530 atau IELTS 6.0 untuk bisa mendaftar.

Persyaratan lain misalnya adalah dokumen (ijazah, akte kelahiran, transkrip nilai, KTP, dan lain-lain.) yang harus diterjemahkan ke Bahasa Inggris. Jika dokumennya belum diterjemahkan, lakukan ini dulu di lembaga yang berwenang. Yang paling krusial tentu saja IPK. IPK yang disyaratkan adalah 2,9 (skala 4,0) atau 2,75 jika Anda berasal dari kawasan geografis prioritas yaitu Papua, Papua barat, NTB, NTT, dan Aceh. IPK ini penting karena setelah lulus S1, IPK tentu tidak bisa diubah, kecuali Anda mengulang S1. Jadi buat yang masih S1, persiapkan dengan baik ya.

Tahap Seleksi Beasiswa AAS

  1. Tahap awal adalah seleksi berkas. Sekarang AAS sudah buka pendaftarannya dan paling lambat hingga bulan April. Lalu, jika lolos akan mengikuti tes IELTS. “Sebenarnya ini nanti akan mengukur aja kalo lolos kita akan masuk di berapa lama waktu pre departure training nya. Minimal skor 5 untuk IELTS kalo tidak salah untuk fase kedua inidan selanjutnya masuk.” terang Kak Pandu.
  2. Tahap akhir yakni wawancara. Wawancara dilaksanakan dengan tiga panelis. Nanti pendaftar akan ditanya rencana hidup, info tentang program studi yang mau diambil di Australia, dan gambaran secara umum hubungan bilateral Indonesia-Australia. “Ini secara umum aja ya, ga pasti juga. Tapi kira-kira ini tahapannya. kalo lolos wawancara, selamat deh, kamu udah jadi penerima beasiswa AAS.” kata Kak Pandu.

Bagaiamana Gambaran Fasilitas yang Akan Didapatkan dari Beasiswa AAS?

Pihak AAS menyediakan dan menyiapkan semua yang awardee butuhkan. Jika sudah lolos, tahap selanjutnya adalah Pre Departure Training(PDT) di Indonesia, dimana awardee akan diasah kemampuan menulis essay, Bahasa Inggris dan persiapan lainnya untuk studi di Australia. Lamanya masa PDT ini tergantung skor IELTS saat mendaftar. Apabila diatas 7.5, biasanya hanya 6 minggu. Tapi kalau dibawah 6, bisa 3-9 bulan. Tapi jangan khawatir karena selama PDT awardee akan dapat “uang saku” yang cukup.

Fasilitas lainnya yang didapat dengan AAS adalah selama proses keberangkatan, awardee akan dibantu untuk membuat visa Australia, pemesanan tiket pesawat dan lain-lain. Kak Pandu berkata, “Dan seperti yang saya bilang di awal, beasiswa bulanan yang kita terima dari AAS itu 2300 AUD atau sekitar 25 juta. Ini kita harus manage sendiri untuk akomodasi makan dan lain-lain. Buat yang single, pasti bisa nabung banyak.” Nanti per 1 tahun juga akan ada agenda kumpul-kumpul di Australia sesama penerima beasiswa AAS buat networking dan pantau progress studi awardee. Kak Pandu mengungkapkan bahwa beasiswa yang struktur pemberiannya paling rapi adalah AAS. Awardee seperti dimanjakan dan sangat diperhatikan oleh AASnya.

Bagaimana Sistem Pendidikan di Australia ?

Sistem pendidikan di Australia itu menekankan pada critical thinking. Mahasiswa harus membaca bahan dulu sebelum masuk kelas. Kalau tidak membaca bahan, percayalah, pasti akan bengong saja di kelas. Tentunya harus berani speak up kalau di kelas. “Jangan diem aja. Karena sistemnya dosen itu sebagai fasilitator. Tidak akan banyak pemberian materi dari dosen ke student. Tapi dosen akan memantik beberapa pertanyaan kritis tentang bacaaan yang harus kita baca, dan kita diskusikan dengan teman sekelas,” kata  Kak Pandu. Secara umum, kelas itu jadinya seperti focus group discussion. Mahasiswa dituntut untuk bisa berpikir kritis terhadap bahan bacaan yang diberikan.

Bagaimana Pengalaman Selama Menempuh Pendidikan di Australia?

Dua tahun tinggal di Canberra, Australia sudah seperti rumah kedua bagi Kak Pandu. Tentunya banyak pengalaman seru yang diperoleh. Kuliah di ANU-yang merupakan salah satu kampus top dunia untuk Ilmu Hubungan Internasional- membuat Kak Pandu jadi mendapat kesempatan diajar oleh dosen-dosen top dunia dan pejabat-pejabat dunia. Misalnya Aung San Suu Kyi penerima nobel dari Myanmar pernah mengisi kuliah umum. Keseruan lainnya yang Kak Pandu rasakanya adalah karena ia merupakan fan Juventus banget, jadi yang paling berkesan ketika Alessandro Del Piero bermain untuk klub Sydney FC. “Jadi interaksi saya intens banget bisa ketemu Del Piero setiap minggunya.” ungkap Kak Pandu. For your information, Australia itu merupakan negara dengan 4 musim. Meskipun di Canberra tidak turun salju, tapi masih bisa merasakan main ski ke gunung salju terdekat kalau sedang musim dingin.

Apa Saja Tips untuk mendapatkan beasiswa AAS?

Tips paling utama menurut Kak Pandu, karena AAS ini mengarahkan pada pengembangan kapasitas diri, jadi kita harus tahu apa tujuan hidup kita, mau jadi apa nanti dan mengapa dengan mendapatkan beasiswa AAS akan mendukung pengembangan karir kita ke depan. Ini umumnya yang akan ditanyakan pada sesi wawancara akhir. Ada juga pertanyaan mengenai pilihan jurusan, sudahkan kita membaca mata kuliah yang ditawarkan dan dimata kuliah apa yang akan mendukung rencana karir ke depan. Kak Pandu juga menyampaikan, “Terkait ini, saya rasa teman-teman dari sekarang coba renungin deh, mau jadi apa ke depannya nanti. Dan biasain bikin target-target dalam hidup. Pasti ngebantu banget nantinya. Selain itu, karena kita mau sekolah di Australia, coba deh teman-teman baca juga tentang negara Australia itu. Gimana sih hubungan Indonesia dengan Australia, apa yang menjadi isu terkini yang lagi dibahas sama dua negara ini. Jadi banyak baca koran aja dan sumber-sumber di internet.”

Pesan

“Jangan jadikan dapat beasiswa ini sebagai tujuan. Tapi jadikan beasiswa ini sebagai platform saja buat teman-teman bisa mengembangkan kapasitas diri. Itu yang terpenting. Karena kalau jadi tujuan, once sudah dapat beasiswa, nanti pas kuliahnya kita tidak akan ada motivasi lagi,” pesan Kak Pandu. Ketika sudah di luar negeri, jangan pernah berhenti berpikir dan berbuat untuk Indonesia. Setiap dari kita harus bisa jadi manusia yang kata-kata dan langkahnya membuat perubahan yang positif. Keterdidikan bukan semata-mata membuat seseorang meraih cita-cita individual, tetapi keterdidikan haruslah menjadi instrumen untuk menggerakan, untuk menginspirasi dan untuk memberi gagasan. Semangat terus untuk dapat mengejar cita-cita ya! Intinya, You only get what you give!

Artikel ini merupakan hasil notulensi Schotalk #2 SBC Palembang pada Sabtu, 16 Februari 2019.

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship