Hello, Good People!

Sahabat Beasiswa Chapter Salatiga mengadakan Schotalk pada tanggal 12 Februari 2019 dimulai dari pukul 20.00-22.30 WIB. For the first time, Schotalk perdana ini mengangkat tema tentang beasiswa ICCR.

Tak Kenal, Maka Harus Kenalan

Narasumber pada Schotalk kali ini adalah Kak Alfin Rosyidha, mahasiswa dari University College Mangalore. Dulu, Kak Alfin kuliah S1 jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Salatiga. Sekarang sedang menempuh Postgraduate M.A. in English di Mangalore University di India melalui jalur beasiswa ICCR.

Apa sih yang dimaksuddengan beasiswa ICCR itu?

General Cultural Scholarship Scheme (GCSS) of the Indian Council for Cultural Relation (ICCR) setiap tahun membuka peluang bagi pelajar Indonesia dan negara lainnya untuk melanjutkan kuliah di India. Jenjang yang disediakan meliputi S1, S2, M.Phil dan S3. For your information, setiap tahun tersedia 20 kuota bagi pelajar Indonesia dan Timor Leste untuk diberangkatkan ke India melalui beasiswa ini. Beasiswa ini merupakan kerja sama antara pemerintah India dan Indonesia yang cakupan beasiswanya secara keseluruhan ditanggung oleh pemerintah India. Biaya yang ditanggung oleh pemerintah India meliputi: living allowance, contingent grant, biaya pendidikan, termasuk biaya medis dan study tour. Hanya saja, awardee harus mempersiapkan sendiri untuk biaya transportasi berangkat dan pulang. Penyelenggaraannya diadakan setahun sekali, biasanya pendaftaran dibuka antara bulan Januari-Februari.

Alasan Memilih Beasiswa ICCR

Mengapa beasiswa ICCR? Karena beasiswa ini merupakan beasiswa ekslusif yang hanya menerima 10-20 pelajar Indonesia setiap tahunnya. India juga menwarkan sistem pendidikan yang baik. Tidak hanya berhenti di situ, beasiswa ini memberikan akomodasi yang cukup, baik dari segi operasional maupun finansial. Selain itu, India juga merupakan salah satu negara dengan keanekaragaman budaya dan mungkin bahkan lebih beraneka ragam daripada di Indonesia. Oleh karena itu, kita bisa sekaligus belajar langsung mengenai Cross-Cultural Understanding dengan studi lanjut di sini. Pihak ICCR pun juga menghendaki adanya Cultural Exchange, sehingga dalam beberapa kesempatan awardee juga diminta untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia.

India, Ibarat Secuil Tanah Eropa

Dengan menjadi mahasiswa perantauan di tanah asing, akan banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari, belajar mandiri, beradaptasi, survive, mengelola keuangan, relasi, dan masih banyak lagi. India juga bagaikan secuil tanah Eropa. Kalau teman-teman ingin kuliah di tempat yang ada winter dan bersalju, bisa ambil universitas misal di Shimla atau Kashmir. Ingin merasakan suasana kota metropolitan misalnya di Delhi, Mumbai atau Bangalore. Ada juga daerah ala-ala gurun Timur Tengah, bisa coba daftar di Rajashtan. Dan untuk yang suka coastal area atau dekat dengan pantai bisa pilih Goa, Mangalore, atau Chennai. Tentunya masih banyak lagi yang bisa dipilih dengan kualitas pendidikan yang bagus, seperti Hyderabad, Ahmedabad, Tamil Nadu, dan lain sebagainya. India itu beragam sekali tempat-tempatnya, dari yang bersalju, bersejarah, romantis, sampai berpaintai ria, komplit sekali. “Yang jelas, tetep, ke mana pun nanti semisal mau daftar, bisa dikonsultasikan dulu pilihan Universitasnya dengan awardee yang utamanya di terima di sana.” kata Kak Alfin.

Jurusan yang Tersedia

Jurusan yang disediakan meliputi semua bidang studi kecuali bidang medicine (MBBS), dentistry (BDS), nursing dan jurusan lain terkait bidang kedokteran. Namun, ICCR menyediakan beasiswa untuk jurusan Ayurvedic yaitu ilmu kesehatan yang berasal dari India yang dikenal sebagai ilmu yang membahas tentang pengobatan yang menggunakan bahan alami sebagai media pengobatannya, dan juga Yogic Science (Yoga). Kak Alfin juga menyampaikan bahwa untuk studi lanjut S2 Pendidikan Bahasa Inggris seperti dirinya, ada beberapa pilihan yang bisa sesuai dengan preference, seperti Master of Education, Linguistics, English (Literature), TES dan lain sebagainya. “Tetapi kemudian saya memilih untuk yang M.A in English sebagai PG course saya.” ungkap Kak Alfin.

Alur Beasiswa ICCR

Alur pendaftaran beasiswa ICCR

Catatan:

  1. Selain harus mempersiapkan berkas-berkas seperti passport, translate ijazah dan TOEFL, yang tidak kalah penting adalah speaking skill. Karena, semisal diterima tentunya akan tinggal di luar negeri. Jadi, speaking skill untuk Bahasa Inggris harus diperhatikan juga agar mampu berkomunikasi dan mengikuti pembelajaran dengan lancar.
  2. Setelah submit, jangan lupa berdoa. Mengapa? Karena kita hanya tinggal menunggu 2 pengumuman setelah submit: 1) Admission dari universitas yang dipilih; 2) Pengumuman final dari Kedutaan India di Indonesia. Penyelenggaraan interview tergantung kebijakan dari Kedutaan India di Indonesia. Batch 2017 ada interview, tetapi batch 2018 tidak ada.
  3. TOEFL adalah kasus khusus di ICCR. Karena dalam form pendaftaran tidak ada kolom yang meminta untuk mencantumkan skor TOEFL. Namun, pada bagian upload berkas ada “Translation Document”, nah, bisa di-upload dibagian itu. “Atau, tidak di-upload pun sepertinya tidak apa-apa karena tidak ada kolom yang disediakan. Tetapi, untuk jaga-jaga tetap harus ada karena setelah diterima bisa jadi ditanyakan oleh pihak Kedutaan India ataupun universitas yang menerima kita.” ungkap Kak Alfin.

Kelebihan dan Kekurangan Beasiswa ICCR

Namanya beasiswa pasti ada kurang dan lebihnya. Kak Alfin menyampaikan bahwa dari beasiswa ICCR kelebihannya, yaitu:

  1. Awardee mendapat fasilitas yang terbilang mumpuni (eksklusif).
  2. Akomodasi selama di India fully-funded
  3. Persyaratan tidak begitu rumit
  4. Interview tergantung kebijakan Kedutaan India di Indonesia

Untuk kekurangannya:

  1. Tiket pesawat pulang-pergi mandiri
  2. Pengurusan klaim asuransi kesehatan rumit
  3. Website terkadang susah diakses karena terlalu banyaknya pengakses
  4. Jangka waktu pendaftaran sampai dengan pengumuman lumayan lama (± 5 bln)

Apa Saja yang Harus Disiapkan?

Pendaftaran beasiswa ICCR tahun 2018 dengan tahun 2019 tidak jauh berbeda. Ada beberapa berkas wajib yang harus di-upload, meliputi:

  1. Scan KTP
  2. Passpor yang masih berlaku
  3. Pas Photo
  4. Translate ijazah (SMA dan S1)
  5. Certificate of Physical fitness dari dokter

Pada bagian Translation Document bisa diisi dengan:

  1. Academic qualificationmark sheet, sertifikat lomba
  2. Surat rekomendasi atau surat berkelakuan baik, bisa dari sekolah atau kantor
  3. TOEFL/IETLS score

Info lebih lengkap bisa kunjungi link http://a2ascholarships.iccr.gov.in/. Bisa juga membuat akun di website itu terlebih dahulu untuk melihat berkas-berkas yang dibutuhkan dan info lainnya sebelum apply.

Cara Menentukan Universitas

Untuk menentukan universitas memang agak susah, karena ada kurang lebih 150 universitas di India yang dipilih untuk menjadi penerima awardee ICCR. Ada beberapa saran bagi pendaftar dalam menetukan universitas:

  1. Cari info melalui social media, melalui ig: @ppi_india atau fb: PPI India. Biasanya nanti oleh admin akan ditanya-tanya preference kalian ke mana dan jurusan apa, setelah itu akan di arahkan ke komisariat PPI yang bersangkutan.
  2. Komunikasi langsung dengan awardee ICCR baik yang masih menjalani program beasiswa ataupun yang sudah lulus. Jadi, semisal kenal dengan awardee bisa minta saran secara langsung kepada yang bersangkutan supaya memberikan gambaran tentang pilihan universitas.
  3. Small research. Biasanya universitas mempunyai website masing-masing yang memuat informasi tentang fakultas, jurusan, courses, bahkan silabus juga tersedia sehingga kita bisa melihat perkuliahan apa yang akan kita dapatkan dan mampu memperkirakan apakah kita sanggup atau tidak dengan courses yang ditawarkan tersebut.
  4. Cari info mengenai bahasa yang digunakan di jurusan yang akan dipilih. Di India memang benar bahwa Bahasa Inggris sudah menjadi second language, tetapi beberapa jurusan masih ada yang maintain local language. Untuk itu, perlu ditelisik lebih jauh tentang pemilihan jurusan dan universitas sehingga apabila kita diterima kita sudah siap dengan segala kemungkinan yang ada.
  5. Kenali kemampuan diri. Hal yang tak kalah penting dalam menentukan universitas adalah mengetahui dan mengenali kemampuan kita sendiri. Seberapa tough-nya kita dalam menghadapi tantangan karena dari beberapa kasus yang pernah terjadi, karena salah pilih universitas tanpa memperhatikan kemampuan sendiri malah jadinya berhenti ditengah jalan. Ada juga yangg karena asal pilih tanpa bertanya-tanya atau research, ketika sampai di universitasnya ternyata jauh dari yang dibayangkan.

Dari kelima saran di atas bukan berarti satu saran lebih unggul dari yang lain, akan lebih bagus kalau dilaksanakan semua. Sehingga, teman-teman bisa benar-benar memilih universitas yang terbaik untuk diri sendiri.

Perjuangan dalam Mendapatkan Beasiswa

Ada dua jenis beasiswa yang pernah Kak Alfin perjuangkan untuk diikuti: ICCR dan Beasiswa Unggulan KEMENDIKBUD. Kak Alfin mengatakan, “ICCR menjadi beasiswa pertama yang saya daftari karena kebetulan saya asisten salah satu dosen lulusan dari India dan awardee ICCR. Beliau sangat men-support saya untuk studi lanjut di India. Akhirnya, setelah semua keribetan mempersiapkan berkas-berkas, karena memang saya mulai dari nol dan ini perngalaman pertama saya daftar beasiswa dan langsung yang luar negeri tentunya ribet sekali. Namun, karena support dari berbagai pihak proses yang super ribet ini berjalan dengan menyenangkan. Jadi, beasiswa ICCR angkatan saya adalah beasiswa ICCR dengan sistem pendaftaran online yang pertama kali karena sebelumnya berkas-berkas harus dikirim ke Kedutaan India di Jakarta. Positifnya, tidak perlu ribet-ribet copy  berkas rangkap enam dan kirim via pos. Negatifnya, karena sistem online buatan manusia jadi harus bener-bener ekstra sabar dan teliti dalam proses pengisiannya. Setelah up and down website dan harus bikin akun sampe 3 kali, akhirnya data-data semua sudah tersubmit. Tinggal menunggu pengumuman dan ini sekitar 5 bulan.”

Dalam jeda waktu menunggu pengumuman, ada baiknya mengambil kesempatan-kesempatan beasiswa yang datang. Kebetulan sekitar bulan April ada pembukaan pendaftaran Beasiswa Unggulan (BU) KEMENDIKBUD, jadi Kak Alfin juga mendaftar beasiswa itu. “Jujur, persiapan berkas-berkas untuk beasiswa ini jauh lebih ribet daripada beasiswa ICCR. Dan sangat dianjurkan sudah mendapatkan LoA (Letter of Acceptance) ketika mendaftar beasiswa ini supaya lebih diutamakan. Dan ini bener-bener saya harus cari universitas yang buka pendaftaran, tes dan bisa mengeluarkan LoA (misal diterima) sebelum deadline penutupan beasiswa. Alhamdulillah waktu itu ketemu Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang pas banget dengan yang aku cari. Harus dini hari motoran dari Salatiga-Yogyakarta dan itu bener-benar pengalaman yang bikin deg-degan antara perjuangan dan takut dibegal. Singkat cerita, diterima dan dapet LoA dari UNY buat daftar BU.” sambung Kak Alfin. Selain LoA, beasiswa BU juga mengharuskan pendaftarnya  untuk membuat essay dan mencantumkan sertifikat-sertifikat prestasi yang dmiliki.

Singkat cerita, akhirnya Kak Alfin mendapatkan e-mail lolos tahap pertama dari BU. Meskipun sudah ada harapan dari BU, tetapi Kak Alfin masih ragu karena waktu itu ICCR belum memberi kabar dan merasa dilema untuk meninggalkan pekerjaan. Sekitar seminggu setelah interview kemudian mendapat kabar dari kakak kelas yang berada di salah satu universitas India yang Kak Alfin pilih bahwa admission-nya sudah diterima dan tinggal menunggu acc dari Kedutaan India di Indonesia.

Namun, saat pengumuman BU disampaikan ternyata Kak Alfin tidak lolos tahap interview. Kecewa? Iya. Tetapi Tuhan itu Maha Baik. Dia tidak membiarkan terlalu lama kekecewaan itu. Selang kurang lebih 1-2 minggu setelahnya, e-mail dari Kedutaan India di Indonesia (JNICC) datang memberi kabar bahwa admission dan application ICCR scholarship diterima dan diharapkan segera mengurus visa dan lain sebagainya. “Itu rasanya udah yang speechless, nothing to say but thanks to Allah. Dia tidak mengabulkan doa-doa saya untuk diterima di BU tetapi Dia kasih yang lebih dan pasti baik untuk saya, Mangalore University, India. Tidak pernah terbayang sebelumnya untuk post-graduate di luar negeri dengan beasiswa pula. Karena sebenarnya impian saya sederhana, “Studi Lanjut S2”, dan tidak menyangka yang sederhana itu Dia kabulkan dengan segala lebihnya.” ungkap Kak Alfin. Ini menjadi bukti bahwa terkadang usaha yang terbaik dari kita pun tidak selalu Dia balas dengan yang baik. Tetapi yakinlah, Dia akan ganti dengan sesuatu yang lebih baik dari yang pernah kita bayangkan. Jadi, jangan mudah menyerah ketika satu impian atau mimpi kita tidak terwujud setelah perjuangan yang terbaik yang kita berikan, yakinlah, Tuhan akan berikan yang lebih baik.

Adaptasi dengan Lingkungan Baru

Tinggal di lingkungan India mungkin yang paling mengganggu itu polusinya karena disini masih banyak sekali bahu-bahu jalan yang tidak berplester dan masih dalam wujud tanah. Sehingga, polusinya ketika musim panas bukan main. Hanya saja karena jenis tanahnya berbeda, ketika musim hujan bisa menjadi padat.

Apa lagi terkait makanan. India itu terkenal dengan negara mayoritas pemeluk agama Hindu, kebanyakan mereka merupakan vegetarian. Memang akan agak susah menemukan makanan yang sesuai dengan selera.

Bahasa Inggris vs Bahasa Lokal

Kesulitan lain yang Kak Alfin alami adalah bahasa, karena penduduk lokal tidak semua bisa berbahasa Inggris. Jadi, terkadang agak susah berkomunikasi ketika harus ke pasar atau naik kendaraan umum maupun taksi. Selain itu, intensitas masyarakat India untuk maintain bahasa lokal juga sangat tinggi. Dalam beberapa acara formal mereka terkadang menggunakan bahasa lokal yang membuat Kak Alfin tidak paham tentang apa yang dibicarakan.

Muslim di Tanah Hindustan

India merupakan negara dengan budaya yang sangat beranekaragam. Karena mayoritas beragama Hindu, maka akan ada berbagai perayaan. “Kadang kalau kita tidak aware dengan tanggal perayaan, tau-tau kita ke kampus atau ke sarana publik yang lain padahal hari libur. Kalau cultural shock sebagai muslim di sini itu ketika mau masuk masjid tetapi ternyata masjidnya itu tidak boleh dimasuki perempuan. Hanya masjid-masjid tertentu yang memperbolehkan perempuan untuk masuk.” ungkap Kak Alfin.

Masjid di India tidak seperti di Indonesia yang bisa ditemui di mana saja. Di daerah selatan masih lebih mudah menemukan masjid-masjid karena mayoritas Muslim tinggal di daerah itu. In short, untuk daerah perkotaan, bisa dibilang India tempat yang modern baik dari segi bangunan, akomodasi, fasilitas dan lain sebagainya. Daerah pedesaan pun meski tidak semodern perkotaan, namun untuk bangunan, akomodasi dan fasilitas bisa dibilang cukup baik.

Fokus Pada Tujuan

Semua ada sisi positif dan negatifnya yang penting fokus pada apa yang menjadi tujuan berada di India. Setiap impian ada harganya dan biasanya itu tidak melulu dalam bentuk materil. Seringnya ‘harga yang mahal’ itu datang dari non-materil, semisal harus jauh dari keluarga dan sahabat, ataupun mengorbankan rencana lain yang sudah dipersiapkan. Kak Alfin mencamkan pada diri sendiri ketika memutuskan untuk datang ke India, dia mengatakan, “Jangan jadi pecundang atas apa yang sudah kita putuskan!”.

Nampak dari dalam gedung perkuliahan di Mangalore University

Tips dan Trik  

Kak Alfin memberikan tips and trick menurut Emotional Quotient (EQ) yang paling tidak harus dimiliki oleh scholarship hunters:

  1. Mental baja. Optimis itu bagus tetapi tetap harus persiapkan mentalnya. Kenapa? Karena belum tentu scholarship yang kita apply diterima. Scholarship hunters yang veteran mungkin sudah terbentuk dengan sendirinya. Namun, untuk scholarship hunter pemula, mental baja itu perlu agar nanti apapun hasil pengumuman scholarship bisa diterima dengan lapang dada.
  2. Bulatkan tekad dan niat. Niatkan diri untuk bertekad mengejar mimpi di tanah asing. Karena ini beasiswa di luar negeri, jadi akan tinggal jauh dari keluarga, dan kehidupan yang akan dijalani pun bisa jadi 100% berbeda dengan di Indonesia. Utamanya di India dengan keanekaragaman budaya dan adatnya.
  3. Pantang menyerah. Proses mendapatkan beasiswa dari mengumpulkan dokumen sampai pengumuman itu lumayan panjang dan melelahkan. Maka dari itu, dibutuhkan sikap pantang menyerah dari scholarship hunter agar dapat menjalani semua proses dengan sebaik-baiknya.
  4. Sabar.  Sejak proses pendaftaran hingga penerimaan, jangkanya kurang lebih 5 bulan. Maka, scholarship hunters harus sabar juga menunggu sampai pengumumannya. Dalam upaya sabar menunggu pengumuman atau menunggu kesempatan lainnya, doanya juga jangan pernah berhenti.
  5. Jaga komunikasi. Meski tidak temasuk EQ, tetapi hal ini sangat perlu diterapkan. Utamanya menjaga komunikasi dengan awardee di universitas yang sama, karena biasanya dari International Students Centre akan mengomunikasikan dengan mahasiswa dari negara yang sama mengenai calon mahasiswa yang akan diterima.

Made weak by time and fate, but strong in will To strive, to seek, to find, and not to yield (Tennyson). Waktu itu terus berputar. Bila gagal, tinggalkan di belakang. Bangkit dan teruskan perjuangan. Tak akan tertukar apa yang ditakdirkan untuk kita asal kita selalu mau berusaha. Bila itu datang kepadamu maka itu rejekimu, milikmu. Bila tidak, Tuhan telah siapkan yang lebih baik.

Terinspirasi atau termotivasi oleh orang lain boleh banget. Tetapi jangan jadikan kesuksesan dia menjadi tolak ukur kesuksesan kita. Kemampuan kita hanya diri kita sendiri yang tahu. Terinspirasi, termotivasi, tersemangati untuk meraih mimpi, tetapi jangan terintimidasi. Seperti siang dan malam, matahari dan bulan, semua akan punya waktu masing-masing untuk bersinar. Berjuang. Berdoa. Bersabar. Do the best. Let God do the rest. Salam semangat dari Negeri Acha-Acha! (ndl)

Oleh-oleh pendobrak semangat scholarship hunter dari Kak Alfin (awardee ICCR)
Artikel ini merupakan notulensi Schotalk #1 Sahabat Beasiswa Chapter Salatiga

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship