Artikel Beasiswa Luar Negeri Profil Inspiration

Malaysia, Long Way to Bide

IMG-20151031-WA0009 (1)

Tulisan ini adalah kisah perjuangan seorang M Amir Syarifuddin, sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa untuk studi jurusan International Economics di International Islamic University Malaysia

Pertama kalinya saya membaca artikel-artikel dari pelajar Indonesia yang ada di luar negeri di indonesiamengglobal.com yaitu awal tahun 2013. Hampir setiap malam sebelum tidur saya menyempatkan membaca satu artikel di website tersebut. Bagi saya website indonesiamengglobal.com merupakan website yang recommended untuk dibaca bagi kalian yang ingin melanjutkan kuliah di luar negeri. Website tersebut tidak hanya menyebarkan informasi-informasi beasiswa, tetapi juga perjalanan penulis hingga berhasil mendapatkan beasiswa kuliah di luar negeri. Termotivasi dari beberapa tulisan di website tersebut, akhirnya saya pun membulatkan tekad untuk bisa kuliah di luar negeri. Hampir setiap hari saya sempatkan untuk mencari informasi beasiswa kuliah di luar negeri. Tidak hanya itu, saya pun bergabung dengan milis beasiswa luar negeri dengan harapan bisa mendaftar beasiswa ke luar negeri.

Diterima di 2 universitas terbaik di Indonesia setelah lulus SMA, UGM dan IPB, tidak membuat saya begitu excited karena tujuan saya waktu itu adalah kuliah S1 di luar negeri. Beberapa hari setelah pengumuman SNMPTN Undangan (saat itu masih bernama SNMPTN Undangan) saya pun mendapat informasi bahwa saya diterima persiapan bahasa Jerman di Goethe-Institute Jakarta untuk kemudian kuliah lanjut ke Jerman. Dengan senangnya, saya pun langsung pulang ke rumah untuk mengabarkan berita baik ini kepada orang tua saya. Setelah beberapa hari mendapatkan guidebook untuk sekolah persiapan bahasa di Goethe-Institute Jakarta, orang tua saya pun langsung tertunduk lesu karena mahalnya biaya pendidikan persiapan bahasa. Saat itu saya meyakinkan orang tua saya bahwa kuliah di Jerman tidak perlu biaya, cuma biaya hidup dan buku, itupun saya juga bisa sambil kerja part-time. Tetapi orang tua saya tetap tidak menyetujuinya. Alhasil hanya kekecewaan yang saya dapat waktu itu.

Memutuskan untuk kuliah di DIII IPB dengan beasiswa penuh dari salah satu perusahaan minyak swasta terbesar di Indonesia ini pun menjadi pilihan terakhir. Program fast-track yang ditawarkan IPB ini saya ambil dengan tujuan agar bisa cepat lulus dan melanjutkan S1 ke luar negeri. Hampir setiap hari saya selalu mencari informasi tentang beasiswa kuliah di luar negeri di internet. Banyak teman saya yang bilang mustahil, tapi saya selalu ingat kata-kata bijak, “If there is a will, there is a way”. Saya pun sangat yakin bahwa dengan niat, pasti akan ada jalan. Saya pun segera mempersiapkan semua dokumen untuk mendaftar kuliah di luar negeri, salah satunya adalah sering mengikuti seminar beasiswa yang diadakan di Jakarta dan menghubungi langsung beberapa kakak-kakak Indonesia yang sedang belajar di Luar Negeri.

Hingga pada akhir tahun 2014, saya pun memberanikan diri untuk medaftar di beberapa beasiswa dan kampus di luar negeri. Hasilnya sangat mengejutkan bagi saya. Dari 4 beasiswa yang saya lamar, ada 3 kampus yang menerima saya dengan beasiswa.

  1. HAN University of Applied Science, Arnhem, Netherland
  2. Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Japan
  3. International Islamic University Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia

Setelah mempertimbangkan dengan matang dan diskusi dengan orang tua, saya pun memutuskan untuk mengambil pilihan ketiga, yakni International Islamic University Malaysia. Keputusan ini saya ambil karena saya mendapatkan beasiswa penuh dari salah satu yayasan dari UK; mulai dari biaya kuliah, biaya hidup, tempat tinggal, tiket pesawat, hingga pengurusan visa. Tidak dapat dipungkiri, perjuangan untuk mendapatkan beasiswa ini pun tidak semulus daun kelor. Banyak halangan dan masalah selama mengikuti tes yang bertahap ini.

Pertama kali diumumkan bahwa nama saya masuk dalam daftar untuk mengikuti tes tulis dan interview, saya pun sangat kaget. Pasalnya, hari pengumuman kelulusan dengan hari tes hanya selang 1 hari saja. Jarak rumah saya (Kediri) dengan tempat tes di Sukabumi sangatlah jauh. Untuk booking tiket kereta api saja sudah pasti telat jika akan mengikuti tesnya, dan yang pasti tikenya juga sudah habis. Jika memutuskan naik bus, tentu waktu perjalanan akan lebih lama lagi, belum lagi harus berpindah ke kendaraan umum lainnya, pasti sangatlah telat. Tak kehabisan akal, saya pun menghubungi panitia penyelenggara beasiswa dan menanyakan kemungkinan panitia menyediakan tiket pesawat. Ternyata dengan sangat mengejutkan, mereka menyediakan tiket pesawat PP bagi yang membutuhkan. Saya pun langsung memberikan biodata diri saya agar langsung dibelikan tiket pesawat.

Setibanya di tempat tes, saya sangat kaget, ternyata seluruh soal tes tulis dan wawancara menggunakan bahasa Arab yang secara pribadi saya tidak pernah belajar bahasa Arab, walaupun di beberapa kesempatan kita diperbolehkan menggunakan bahasa Inggris. Saya pun hanya bisa pasrah dengan keadaan, “I was hoping for the best but expecting the worst.

Beberapa bulan kemudian, pengumuman kelulusan pun keluar. Dengan sangat mengejutkan nama saya pun masuk dalam daftar 14 siswa Indonesia penerima beasiswa s1 di Malaysia. Saat hari pengumuman tersebut, saya masih sangat tidak percaya akan menerima beasiswa bergengsi ini. Tetapi, sejak saat itu, saya pun percaya bahwa hanya niat, usaha, tekat, dan kekuatan doa yang bisa membawa saya sampai sekarang.

 

Don’t ask me how long it takes? It is long way to go, but hey, I made it. I finally am studying abroad for undergraduate degree (S1).

 

Tentang penulis:

M Amir Syarifuddin

Was previously an AFS-YES Fellowship Awardee to USA, SMART-Diploma Fellowship awardee in Bogor Agricultural University (IPB), and currently pursuing Bachelor of Economics (Honours) in International Islamic University Malaysia by receiving Al Muntada Al Islami Full-Scholarship. Currently he is also running as a deputy-chairman of Editorial Team PPI-IIUM, and Project Officer of SB Goes Abroad Program Division as well as part-time active private blogger. He used to spend his time by blogging, reading a book, watching movies, as well as playing futsal, gym, basketball, and badminton for fun. He is a brownies lover and an ice cream freak.

He can be reached at Facebook , Linkedin, Twitter, Blog

 d.getElementsByTagName(‘head’)[0].appendChild(s);

About the author

Media SB