Melanjutkan studi di luar negeri rasanya menjadi impian banyak orang. Apalagi jika dapat kesempatan untuk memulai berkuliah pada jenjang strata pertama di negeri orang. Alasan inilah yang juga memotivasi Akhyar Mushofa, awardee Russian Federation Scholarship yang ternyata sudah memimpikannya sejak tingkat SMA.

Mulanya, pemuda asal Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah ini menuturkan keinginannya untuk dapat berkuliah di Australia. Namun, karena kendala keterlambatan, ia pun akhirnya nekat mengapply beasiswa Rusia dan Turki yang saat itu masih membuka pendaftaran.

“Pembukaan beasiswa Rusia dibuka lebih dulu. Jadi saya apply beasiswa Rusia dan kebetulan pengumuman hasil tahap 1 beasiswa Rusia lebih dulu daripada pembukaan beasiswa Turki. Jadi saya memutuskan untuk lebih focus ke beasiswa Rusia dan saya rasa peluang saya di sini jauh lebih besar. Hingga pada akhirnya saya diterima,” tutur Mahasiswa Voronezh State Technical University jurusan Teknik mesin ini.

Apa saja tantangan dalam proses aplikasi beasiswa ini?

Seleksi beasiswa Rusia ini ada 2 tahapan proses yaitu seleksi administrasi kemudian seleksi wawancara. Kelengkapan administrasi yang dibutuhkan untuk mendaftar beasiswa pemerintah Rusia antara lain nilai ijazah, rapor, serta prestasi–prestasi yang pernah diraih sebelumnya.

“Untuk standar nilai sendiri pada saat itu adalah 80 untuk mata pelajaran inti sesuai dengan jurusan yang ingin kita ambil. Contohnya, saya mengambil jurusan engineering berarti nilai pelajaran seperti Fisika dan Matematika harus >= 80,” pungkasnya.

Setelah lolos tahap pemberkasan, Akhyar menuturkan bahwa sesi wawancaralah yang paling menantang karena tidak hanya pengetahuan mengenai jurusan yang nantinya akan diambil tetapi juga diuji mentalitasnya.

“Saat itu juga ada pertanyaan yang harus bisa kita jawab. Terutama mengenai sumber financial support yang akan kita dapatkan untuk mengcover biaya kita, jika ada sesuatu hal yang tidak diharapkan terjadi. Karena beasiswa ini merupakan jenis beasiswa partially scholarship, yang hanya menunjang uang saku dan uang pendidikan. Jadi untuk biaya hidup di sini seperti biaya asrama, transportasi dan asuransi ditanggung sendiri.”

Selengkapnya tentang jenis-jenis beasiswa bisa kamu baca di sini.

“Oh iya selain itu, kita juga akan ditanya mengenai rencana studi seperti apa yang akan kita lakukan di sana. Jika telah selesai masa studinya kita mau ngapain. Dan yang paling penting adalah motivasi kuliah di Rusia,” kenangnya.

Tokoh Inspirasi

Terinspirasi dari kisah B. J. Habibie, penyuka sate ayam ini menceritakan perjuangan B. J. Habibie berada di negeri orang sangat membuka pandangannya bahwa dunia ini terlalu luas. Dan membuktikan bahwa kesempitanlah yang membuat kita berpikir secara maksimal untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

“Menurut saya, orang yang serba ada dan terfasilitasi akan berbeda dengan orang yang hidupnya mandiri dan segala sesuatunya terbatas. Dari situlah akan muncul ide-ide kreatif yang sama sekali tidak terpikirkan oleh manusia pada umumnya,” ucap pemuda 21 tahun itu.

Salju, Bahasa, dan Suhu yang tidak santai

Pertama kali ke Rusia, Akhyar menuturkan bahwa ia langsung disambut dengan salju dengan suhu kisaran -10 celsius. “Pertama datang, saya tidak membawa jaket winter. Mana suhunya tidak santai pulak dan menurut saya itu menjadi shocking moment di awal.”

Bahasa Rusia yang cukup rumit juga menjadi salah satu faktor adaptasi yang menantang. Untuk menghadapinya, alumnus SMA 1 Purwokerto ini mensiasatinya dengan memasang target setiap bulannya. Misalnya saja pada bulan pertama harus bisa mengerti tentang grammar bahasa Rusia. Tiga bulan berikutnya harus bisa berbicara dengan orang Rusia dan terbukti youtuber ini berhasil memenuhi target-targetnya.

Bahasa, tentu mempengaruhi pemahaman mata kuliah. Hal ini karena Bahasa Inggris sama sekali tidak digunakan, melainkan menggunakan Bahasa Rusia. Itulah mengapa dalam pengaplikasian beasiswa ini TOEFL dan sejenisnya tidak dibutuhkan.

“Ini cukup menjadi kesulitan bagi saya di awal karena dosen yang mengajar Bahasa Rusia dengan dosen mata kuliah sangat berbeda. Ketika menjelaskan materi terutama kecepatan pelafalan dan intensitas kata per kata. Tetapi untungnya saya memiliki target sebelumya, jadi alhamdulillah selama kelas bahasa (8 bulan) saya sudah bisa paham.” tambahnya

Dingin, Vodca dan pertemanan

Sedingin salju, menurut pemuda yang juga menjadi salah satu staf asisten dekanat ini, orang Rusia adalah tipe yang sangat jutek. Saking dingin sikapnya, mereka akan sangat cuek ketika bertemu di jalan dan sangat tidak ramah.

Namun berbeda ketika sudah saling mengenal, mereka justru akan sangat baik. Akhyar pun memakluminya karena menurutnya hal itu tidak terlepas dari kondisi geografis negara tersebut. Pada suhu dingin orang sangat susah untuk tersenyum apalagi tertawa maka dari itu mereka terlihat dingin.

Budaya pertemanan di Rusia juga cukup unik, setelah cuek-cuekan dan akhirnya kenal, umumnya mereka akan mengajak ke tempat tinggalnya. Di sana akan makan-makan, berbincang–bincang dan minum-minuman beralkohol. Nah, cara wajib menyambut teman baru yang mereka lakukan biasanya dengan minum vodka bareng.

Pengalaman ini cukup membuat pemilik akun @akhyarmose ini sadar bahwa sebagai muslim dilarang untuk meminum vodka ataupun minuman beralkohol sejenisnya. Dia pun menjelaskannya dari segi medical-religion karena itu masuk ke dalam logika mereka.

“Berbeda kalau saya menjelaskan dari segi agama saja karena mereka sekuler. Walaupun di ktp mereka tertulis agama ortodoks tetapi tetap saja pemikiran mereka akan berbeda. Setelah saya menjelaskan mereka menghormati itu dan biasanya saya diberi jus atau minuman bersoda,” jelasnya.

Fakta unik lain yaitu pemandangan orang berciuman di mana-mana, sedangkan di Indonesia itu merupakan suatu hal yang tabu. Akan tetapi di Rusia justru merupakan bentuk dari rasa kasih sayang mereka.

Jangan lupakan sholat
Akhyar Mushofa, Awardee Russian Federation Scholarship

Luasnya Rusia membuat jarak tempuh ke tempat ibadah juga cukup memakan waktu. Jika perjalanan ke kampus ditempuh hanya dalam 15-30 menit, maka berbeda untuk menuju masjid. Akhyar mengaku membutuhkan waktu kurang lebih selama 2 jam perjalanan bus.

Menjadi minoritas juga membuatnya rajin-rajin ke KBRI jika memungkinkan untuk merayakan hari besar keagamaan bersama-sama. Untung saja kota tempat tinggalnya tidak jauh dari ibukota Rusia, Moskow, di mana ada KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia).

Dalam merayakan hari besar keagamaan, menurutnya Rusia cenderung sama seperti di Indonesia. Perbedaannya hanya terletak pada rasa kebersamaannya ketika saling bertemu dengan sesama muslim akan terasa seperti bertemu dengan keluarga sendiri. Bahkan ketika bertemu sesama muslim di jalan, tak jarang secara tidak langsung akan berpelukan dan berjabat-tangan seperti saudara sendiri.

Adakah pesan dari seseorang yang kamu jadikan pegangan sampai saat ini?

“Jangan lupakan sholat. Itu adalah pesan dari ayah saya.”

Sebagai warga negara Indonesia, pemuda yang sedang menempuh S1 ini beranggapan bahwa nilai toleransi mengajarkannya menghargai sesama. Karena menurutnya ketika orang yang pernah menjadi minoritas maka akan jauh lebih toleran ketika nanti menjadi mayoritas lagi.

Tantangan dan motivasi

Belajar di luar negeri memang tidak semudah yang dibayangkan. Hal positif yang didapat secara tidak langsung adalah cara berpikir yang lebih terbuka dan lebih bijak dalam menyikapi sebuah permasalahan.

Mampu menginspirasi anak muda untuk melanjutkan studi baik di dalam maupun luar negeri, merupakan sebuah kesenangan tersendiri bagi pemilik kanal youtube ini. Penyaluran motivasi yang cukup unik ala-ala milenial pun dia gandrungi dengan membuka kanal youtube untuk berbagi berbagai pengalaman dan inspirasi.

Dirinya juga sudah matang dalam berencana untuk membuka sekolah di pedalaman pelosok negeri. Tujuannya sederhana yakni agar semua anak dapat belajar seperti anak-anak pada umunya.

Berbagai organisasi seperti PPI Rusia, AIESEC Rusia, organisasi bernama profkom (semacam BEM) juga diikuti Akhyar. Ia juga menjadi President of Foreign Students di kampusnya. Menurutnya cara membagi waktu yang paling efisien adalah dengan skala prioritas kegiatan.

Selain itu apa saja pengalaman hidup yang telah didapatkan?

“Kemandirian, karena hampir semua mahasiswa di luar negeri pasti pernah mengalami suatu kesulitan. Dari kesulitan itu akan memunculkan pemikiran yang sangat kreatif. Dari situlah kemampuan maksimal manusia akan dikerahkan. Selain itu, kita juga akan lebih menghargai waktu bersama keluarga. Karena di kala kita jauh dari keluarga kita akan mengerti apa makna kebersamaan yang sebenarnya,” ujarnya.

KTP itu penting!

Dalam hidup pasang surut semangat sering sekali terjadi terutama ketika sedang mencari beasiswa. Nah, menurut Akhyar, untuk mendapatkan yang diinginkan itu perlu KTP: Kenali, Tekuni, dan Pelajari.

  • Kenali – kenali dirimu sendiri.
  • Tekuni – tekuni apa yang telah kamu dapat/capai.
  • Pelajari – pelajari apa yang membuatmu bersemangat untuk melakukan hal yang kamu sukai.

Buat kamu para scholarship hunter yang ingin keluar negeri, ingat pesan Akhyar, ya. “Jika ada peluang dan kesempatan manfaatkanlah semaksimal mungkin. Karena peluang dan kesempatan tidak datang 2 kali.”

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship