Pagoda dengan pemandangan Gunung Fuji di belakangnya (activityvillage.co.uk)

Konnichiwa!

Narasumber kali ini bernama Atiqotun Fitriyah atau akrab disapa Kak Atiq. Sekarang, ia sedang menempuh program doctoral di Tokyo University of Agriculture and Technology, Bidang agricultural and environmental engineering.

Alasan Memilih Jepang

Masing-masing negara punya karakteristik yang berbeda sesuai dengan bidangnya. Sebelum menentukan negara tujuan, lebih baik cari tahu dulu bidang yang ingin dipelajari itu kuat di negara mana saja. Kemudian dari beberapa negara yang ada, dipilih yang paling sesuai dengan yang kita inginkan. “Kalau untuk saya sendiri, karena bidang saya agriculture engineering dan pertanian Indonesia (yang notabene mainnya adalah padi) tidak jauh beda dari Jepang. Tetapi Jepang punya teknologi yang lebih maju dibanding Indonesia. Karena itu saya pilih Jepang. Dan juga Jepang itu lebih kuat ke research based education-nya, ya. Jadi, kalau yang punya minat kuat ke penelitian, silakan mempertimbangkan Jepang jadi salah satu pilihannya. Selain itu, karena budaya Jepang juga tidak jauh beda dengan Indonesia (sebutlah masih sama-sama Asia) menjadi salah satu pertimbangan saya menentukan untuk study di Jepang.” ungkap Kak Atiq.

Proses Pendaftaran

Untuk prosesnya sendiri ketika mendaftar ada dua alternatif, yaitu cari beasiswa dulu baru cari kampus atau cari kampusnya dulu baru cari beasiswa. Kak Atiq menyampaikan, “Tapi sebenernya bisa juga dikerjakan secara bersamaan, tergantung timeline dari beasiswa yang ada saja. Untuk Jepang sendiri, ada beasiswa yang bisa kita cari ketika di Indonesia. Ada juga yang tersedia setelah kita diterima dan sampai di Jepangnya.”

Beasiswa yang tersedia sebelum berangkat beberapa di antaranya yang paling populer adalah sebagai berikut:

  1. Beasiswa MEXT (Monbukagakusho) dari pemerintah Jepang, ini ada dua macam yaitu:
  2. G to G, melalui embassy (siapa saja bisa mendaftar asal memenuhi syarat yang ditentukan)
  3. U to U, melalui university (tergantung kerjasama kampus tujuan dengan kampus di Jepang, terkadang tanpa kerjasama antar kampus asalkan profesor di kampus Jepang mau menerima, teman-teman bisa mendaftar beasiswanya)
  4. LPDP dari pemerintah Indonesia

Perguruan Tinggi (PT) di Jepang yang masuk list LPDP terbesar hanya PT yang masuk 50 besar sedunia yang bisa untuk mendaftar.

  • Inpex foundation (kuota yang tersedia hanya sedikit)
  • Dan masih ada yang lainnya (baik yang dari institusi pemerintahan untuk para PNS seperti KEMENTAN, BAPPENAS, atau dari swasta seperti Mitsui Busan)

Sedangkan, beasiswa setelah di Jepang kebanyakan dari perusahaan swasta. Tetapi, jika dibandingkan dengan beasiswa pra keberangkatan, jumlahnya lebih sedikit dan terkadang hanya mencakup biaya sehari-hari saja. Kalau dibandingkan mencari beasiswa sebelum berangkat ke Jepang lebih aman, secara pemasukan, dibanding ke Jepang dulu baru cari beasiswa.

Hal terpenting saat cari beasiswa adalah usahakan dibaca dengan seksama apa saja yang ditanggung oleh pemberi beasiswa dan apa yang tidak. Sehingga, teman-teman bisa menyiapkan lebih mantap seperti apa nantinya kehidupan di Jepang. Dan juga, beasiswa setelah kita sampai di Jepang kebanyakan memakai Bahasa Jepang. Jadi, ini juga menjadi salah satu faktor betapa susahnya cari beasiswa setelah sampai di Jepang.

Apa Saja Yang Perlu Dipersiapkan?

Tentunya kemampuan Bahasa Asing (Inggris, Jepang) dan IPK di transkrip ijazah jadi faktor yang menentukan saat mendaftarkan diri untuk beasiswa dan ke universitasnya. Untuk Bahasa Asing, sekarang ini program Internasional yang menggunakan Bahasa Inggris di Jepang sudah makin meningkat jadi, jangan takut meski tidak bisa Bahasa Jepang. Tetapi, kalau ingin masuk program regular, mencari Beasiswa MEXT yang G to G jadi alternatif yang baik karena kita akan diberi kesempatan belajar bahasa Jepang terlebih dahulu. Selain itu, kita perlu mengisi dokumen-dokumen yang diperlukan dengan teliti dan hati-hati karena itu menjadi penentu saat tahap pertama seleksi beasiswa.

Seperti pengalaman yang disampaikan Kak Atiq, “Dulu, pengalaman saya bahkan saya menyiapkan dokumen jauh sebelum pengirimannya. Bisa jadi setahun atau beberapa bulan sebelumnya. Tapi meskipun begitu, kalau ada peluang tapi waktunya tinggal sedikit jangan kecil hati. Coba aja sebisanya, siapa tahu memang rejekinya bisa jadi diterima.”

Kemudian, saat ingin mendaftar ke universitas di Jepang ini menjadi salah satu yang perlu dipersiapkan-kontak sensei (profesor). Salah satu karakteristik unik dari kampus di Jepang adalah sensei atau profesor punya kewenangan yang kuat untuk memilih mahasiswa. Kalau Sensei sudah memutuskan diterima, bisa jadi hampir 95% kita diterima. Tinggal 5%nya adalah mengurus adminitrasi dan sebagainya. Maka dari itu, untuk yang ingin mendaftar ke graduate atau research program akan lebih mudah kalau mengontak sensei di bidang yang kita minati terlebih dahulu.

Cara mendaftarnya ada bermacam-macam, di antaranya:

  1. Meminta rekomendasi dari dosen kita di S1, siapa sensei yang sebaiknya kita hubungi
  2. Browsing sendiri sesuai bidang atau topik yang kita minati kemudian cari info profesor yang bersangkutan. Setelah itu, baru kontak beliau lewat email.

Ingat, bagaimanapun caranya, jangan lupa persiapkan rencana studi atau rencana penelitian yang akan kita lakukan. Rencana studi ini mungkin tidak perlu berlembar-lembar terlebih dahulu yang penting merangkum topik apa, metode, serta target yang ingin kita capai dari studi itu. Baru kalau kita dapat balasan dari profesor yang kita hubungi dan beliau meminta kita untuk buat yang lebih detail, kita bisa membuat rencana studi yang lebih lengkap.

Tanya-Jawab

1. (Jihan Nabila_Universitas Negeri Semarang)
Saya adalah mahasiswa kesehatan masyarakat konsentrasi kesehatan lingkungan. Nah, pada pemaparan pertama tentang negara tujuan yang harus dipilih itu berdasarkan kuatnya prodi yang akan kita ambil nanti. Pertanyaan saya, kalau saya ingin mengambil bidang kesehatan berbasis lingkungan, apakah di Jepang termasuk negara yang kuat dengan prodi kesehatan lingkungan? Kalau iya, univ apa saja dan kalau tidak, kira-kira negara mana yang kuat dalam prodi kesehatan lingkungan?

Jawaban:

Jepang setahu saya juga bagus di bidang ini. Dan concern mereka juga kuat di kesehatan lingkungan. Ada beberapa yang saya pernah dengar tapi saya lupa universitasnya apa. Tapi setahu saya banyak kok bahkan di kampus-kampus besar juga ada prodi itu. Coba nanti dicari informasinya dengan keyword prodi atau topik yang ingin dicari kemudian di tambah keyword japan. Ini salah satu metode yang saya pakai juga waktu cari info studi ke Jepang.

2. (Mela gustiana_Bandar lampung)
Kalau di Tokyo University, ada jurusan teknologi pangan atau teknologi hasil pertanian tidak? Lalu kampus apa saja di jepang yang ada jurusan tersebut dan termasuk kampus yang terbaik?

Jawaban:

Di kampus saya ada. Karena memang specialization-nya di agriculture. Tapi, kalau di Tokyo University saya kurang tahu.

3. (Septian_Undip)

a. Untuk jalur G to G, tidak ada persyaratan maksimal lulusan berapa tahun setelah jenjang terakhir, kan, ya? Bagaimana ya supaya lulus di jalur ini? Saya sudah 2 tahun mencoba dan keduanya gagal di tahap tertulis. Kemampuan bahasa Inggris sudah mencukupi. Apakah memang benar kalau harus bisa setidaknya Bahasa Jepang yang bagus juga? Saya baru sekitar N4.

b. Jalur U to U, bulan kemarin saya sudah sempat urus semua berkas untuk jalur ini. Di akhir, ternyata sensei saya tidak bisa mengajukan berkas saya ke universitas untuk diproses dikarenakan masa lulusan saya setelah S1 lebih dari 2 tahun. Apakah memang ini tersurat di bookletnya? Saya cari ternyata tidak ada.

c. Apakah dari mbak sendiri pernah mendengar ada penerima beasiswa dari ADB-JSP? Saya mau coba ini kalau memang ada anak PPI penerima beasiswa ini.

Jawaban:

a. Tidak ada, tapi ada syarat usia maksimum. Coba nanti dicek lagi ya, berapa usia maksimumnya. Kalau harus bisa Bahasa Jepang, setahu saya tidak. Karena kalau yang G to G itu, ujian tertulis diambil yang lebih bagus hasilnya apakah Jepang atau Inggris. Kebanyakan yang lolos beasiswa ini yang sudah punya kontak dengan profesornya (dalam artian punya peluang tinggi sudah diterima di kampus Jepang).

b. Kemungkinan besar karena pertimbangan sensei atau kampusnya. Setahu saya tidak ada peraturan seperti itu. Bahkan temen saya ada juga dengan kasus yang sama, tapi tetap dapat beasiswa.

c. Iya, pernah dengar. Saya malah tidak tahu kalau Indonesia juga dapat beasiswa ini. Karena teman-teman saya yang dapat ini kebanyakan dari Afrika. Atau mungkin tergantung dari bidangnya, ya. Coba dicek bidang yang dicakup sama beasiswanya.

4. (Nuhiyah_Untirta)
Bagaimana pendapat kakak mengenai jurusan master bidang pendidikan di Jepang? Apakah universitas yang terbaik disana di bidang pendidikan? Dan bagaimana sistem pembelajaran di jepang kekurangan dan kelebihannya?

Jawaban:

Setahu saya, Tsukuba University, Chuo University, dan Nihon University ada. Tapi 2 universitas yang terakhir itu swasta. Pasti ada lagi juga kampus lain. Dibrowsing aja, ya, buat sistem pendidikannya. Kalau untuk pendidikan dasar Jepang, termasuk bagus sekali jadi kalau mau fokus di topik ini, mungkin oke. Sistem pembelajarannya, ya, karena saya di graduate program lebih dititikberatkan ke risetnya, pekerjaan sehari-hari, ya, baca paper dan penelitian. Kelas ada beberapa, tapi tidak banyak dan sistem penugasan pun menurut saya tidak terlalu susah. Jadi, kalau di Jepang itu bagusnya memang untuk orang yang ingin fokus di penelitian. Kalau ingin fokus di lesson class atau kurikulumnya, kemungkinan Eropa lebih baik.

5. (Dini AP_Unila)

Banyak tidak sih, teman kakak yang pindah jurusan? Dari pendidikan ke murni gitu? Survive kah mereka?

Jawaban:

Kalau ini, saya jarang sekali dengar, atau tidak pernah ya. Yang pernah dengar sih, dari bidang yang lain. Misalkan dari agronomi ke agriculture engineering atau dari farmasi ke kesehatan masyarakat. Kalau teman-teman saya itu survive kok, cuma ya, memang berat karena harus belajar lagi dari awal. Meski mungkin terkadang basic-nya dapet, tapi begitu masuk graduate program, knowledge yang dipakai kebanyakan lebih dalam. Karena itulah berat.

6. (Dinda_IPB)

Khusus untuk MEXT, yang paling concern untuk kita persiapkan saat apply apa kak, yang kira-kira bisa meningkatkan peluang untuk diterima? (Selain adm seperti transkrip, research plan, persetujuan supervisor)

Jawaban:

Surat rekomendasi, mungkin karena isi rekomendasi itu juga menjadi salah satu yang kasih kita nilai tambah. Saya rasa yang disebutkan Dinda itu memang yang paling critical untuk disiapkan. Dan juga waktu wawancara untuk yang G to G, ya, ini sangat penting karena kesan kita ke pewawancara itu yang menentukan apakah kita meyakinkan atau tidak.

7. (Tiyas_Serang_UPI)

Perihal pendidikan Jepang yang bagus secara sistem. Apakah di Jepang ada jurusan pendidikan dasar? Dan waktu itu saya pernah lihat ada jurusan pendidikan dasar di salah satu universitas. Namun kabarnya sedikit berbeda dengan Indonesia. Apa kakak punya informasi tentang itu?

Jawaban

Ada kok. Tapi, saya tidak tahu detail info kampus dan departemennya apa. Dulu, teman saya ada yang di Tsukuba University tapi dia pendidikan khusus seperti ABK, gitu. Coba dilihat di Tokyo Gakugeidai Univery, itu juga khusus pendidikan dan arts.

8. Kalau mengenai riwayat pendidikan sebelumnya, lama tidaknya kita S1 bagaimana kak? Adakah teman kakak yang S1nya lama? S1 lama tapi jadi awardee gitu.

Jawaban:

Jujur saya belum pernah tanya soal lama S1nya. Tapi ada syarat minimum pendidikan 16 tahun, jadi saya kira tidak ada masalah untuk lulusnya kapan.

9. (Fadhil_Depok_UI)

Ada batas maksimal umurkah untuk pendaftaran beasiswa S2 di Jepang? Batas umur maksimal kuliah di universitas di Jepang?

Jawaban:

Ada. Kalau tidak salah 34 tahun, ya. Tapi mungkin beda beasiswa, beda syaratnya. Kalau di universitasnya sendiri, tidak ada kok batasan umurnya.

10. (Fakhri_Tangerang)

Kehidupan kuliah dan labnya di Jepang bagaimana? Dan bagaimana bedanya degree by research dan degree by course?

Jawaban:

Kalau kehidupan di Jepang itu, bayangin saja seperti ngampus tiap hari dari pagi sampai sore bahkan ada yang sampai malam. Di Jepang, rata-rata kita punya student room yang bisa kita pakai buat ‘ngantor’ tiap hari dan disitu ada beberapa student dari lab yang sama. Mostly, seperti itu sih. Jadi, kalau mau masuk graduate program disini, siap-siap saja untuk ngelab tiap hari. Kalau degree by course itu kelas dan kurikulum yang disediakan lebih detail dan integrated. Jadi, pasti SKS bakalan lebih banyak dibanding yang degree by research. Kalau pengalaman saya, dulu saya cuma ambil kelas di semester pertama dan sedikit di semester kedua. Sisanya dihabiskan buat riset.

11. Kak Atik kan juga tergabung dalam PPI dunia kak, apakah ada database alumni yang telah kuliah di luar negeri di setiap negara yang bisa kita hubungi sehingga lebih mudah dalam mendapatkan informasi dan rekomendasi gitu? Atau apakah ada agenda pembinaan khusus dari tim PPI dan clustering perdaerah gitu bagi teman-teman yang ingin lanjut kuliah ke luar negeri?

Jawaban:

Sayang sekali, sampai sekarang mengumpulkan database ini sulit sekali. Dan kalaupun ada, mainly hanya untuk sensus statistiknya dan kita tidak bisa kasih data detail ke publik karena berkaitan dengan privasi. Kalau untuk pembinaan, sampai sekarang saya belum dengar apakah akan ada atau tidak. Saya juga sudah selesai PPI Dunianya tahun kemarin, jadi tidak begitu tahu program kepengurusan sekarang. Saran saya sih, kalau mau cari kontak via google cari publikasi mereka terus kontak by email, itu yg paling safe jalurnya. Dan akan lebih menyasar karena bidang dan topiknya kamu sudah tahu dari papernya. Ah, sorry, kalau seperti ini, memang susah menemukan mana yang Indonesia mana yang bukan sih, ya.

Closing Statement

Pesan dari Kak Atiq:

1. Kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya

2. Persiapkan berkas dengan baik. Misalnya, kalau toeflnya belum sampai, dikejar sampai melebihi batas minimumnya.

3. Jangan pernah minder. Yang penting dicoba saja karena kita tidak pernah tahu rejeki kita yang mana.

Apalagi, akhir-akhir ini peluang untuk sekolah di luar itu lebih terbuka lebar dibanding beberapa tahun lalu dan cari informasi juga lebih gampang dengan internet. Jadi jangan patah semangat, ya, cari beasiswanya. Kalau belum bisa lolos di satu tempat, mungkin bisa dicari alternatif beasiswa lain atau metode lain kontak profesornya. Tetap semangat, ganbatte kudasaine! (tyu)

Link Beasiswa MEXT bisa kamu akses di: http://www.mext.go.jp/en/index.htm

Artikel ini merupakan hasil notulensi schotalk SBC Madura pada 27 Februari 2019

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship