Inspirasi Santri: Studi Master di Leicester dengan MoRA Scholarship

Hanya karena tinggal di pesantren, mulanya Nurul tidak yakin dengan kemampuan bahasa Inggrisnya. Memang, (tes sertifikasi) bahasa Inggris merupakan persyaratan utama bagi sobat SB yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Kendati demikian, meski sempat memiliki nyali ciut, ia bertekad untuk mewujudkan mimpi “study abroad.

Tak patah semangat, ia mulai belajar bahasa Inggris. Strugglingnya belajar IELTS hingga mengambil tes 3x demi mendapat score 6,5; sebuah minimum score IELTS untuk sebagian besar kampus di luar negeri. Di sisi lain, ia juga menyiapkan semua dokumen akademik yang dibutuhkan. “Berbicara mengenai proses, wah banyak sekali proses yang harus dilalui terlebih saya bukan dari golongan seorang yang brilliant (which is mostly awardees adalah orang-orang yang brilliant hehe) dan kemampuan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan,” jawab pemilik nama lengkap Nurul Hidayatul Ummah, saat ditanya mengenai proses aplikasi dan tantangannya sebagai santri. Memang tidak ada hasil yang menghianati usaha, jadi jangan menyerah dan terus berdoa dan keep going!

“Tantangan dan kendala terbesar saya yah kemampuan bahasa Inggris yang sangat pas-pasan tadi karena dulu sekolahnya mesantren bukan di internasional school jadi bahasa sehari-hari nya yah bahasa Jawa lahwong nyantrennya di Jawa hehe. Dari pengalaman saya tersebut, ada baiknya pesantren-pesantren membekali santrinya dengan bahasa inggris agar supaya bisa terbiasa dan memudahkan untuk mendapat peluang belajar ke luar negeri.”

Melalui MoRA (Ministry of Religious AffairsScholarship, yang informasinya ia dengar dari alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada awal tahun 2015 itu, akhirnya Nurul menjejakkan kaki melanjutkan master degree jurusan Global Media and Communication di University of Leicester, United Kingdom, pada tahun ini. Di jurusan tersebut ia mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan komunikasi, development di berbagai negara dan globalization. Tidak ada yang spesifik siapa yang menginspirasi untuk belajar ke luar negeri. Tapi, alumni pondok pesantren Tarbiyatut Tholabah Lamongan ini mengaku bahwa banyak sekali orang-orang yang menginspirasinya terutama lulusan luar negeri.

Adaptasi; cuaca, makanan, tempat ibadah

Sesampainya di Leicester pada bulan September tahun 2017, yang mana di daerah tersebut memasuki cuaca autumn; suhu berkisar 9-15 derajat Celcius, penggemar lagu-lagu Reggae ini memerlukan waktu 3 minggu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru.

Menurut Nurul, tinggal di sana cukuplah menyenangkan, “Leicester adalah kota yang sangat toleran dan ramah muslim.” Makanan halal di Leicester mudah ditemukan. Hal ini karena rata-rata penduduknya (khususnya yang tinggal dekat kampus) adalah imigran dari Pakistan yang sebagian besarnya adalah muslim. Selain mudah menemukan makanan halal, di kota tersebut juga memiliki tiga masjid besar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kampus dan tempat Nurul tinggal.

“Hal yang paling membuat saya terkejut sekaligus bersyukur adalah kampus menyediakan tempat sholat, jadi bagi mahasiswa muslim tidak perlu mencari tempat-tempat tertentu untuk sholat, even di supermarket yang terletak di city center pun terdapat faith room; ruangan kecil seperti bilik yang dapat dipakai oleh beberapa kepercayaan, so kita tinggal bawa mukena saja ketika bepergian.” Tak hanya itu, banyak muslimah yang mengenakan hijab di tengah keramaian kampus-city center. Hal tersebut membuat ia merasa nyaman.

Menghadapi Perbedaan Budaya

Meski Leicester menawarkan kemudahan dalam beribadah, mendapatkan makanan halal serta keramahan beberapa komunitas muslim yang welcome terhadap pendatang, budaya negara tersebut bertentangan dengan kehidupan di pesantren.

“Terdapat hal yang bertentangan memang dalam segi budaya, disini semua orang sangat bebas melakukan sesuatu, bebas berpenampilan, minum minuman keras di sepanjang jalan, bahkan kissing di berbagai tempat, tentu hal ini sangat bertentangan dengan kehidupan zaman di pondok dahulu. Namun sebagai santri yang pernah mengenyam pendidikan agama, kita wajib membentengi diri dengan selalu berdzikir dan mengingat Allah, insyaAllah akan selalu diberi perlindungan,” jelas perempuan kelahiran Lamongan, Jawa Timur ini.

Kebiasaan Ala Santri

Beberapa hal yang masih dipegang teguh Nurul ialah membaca surah Yasin-Tahlil pada malam Jum’at walaupun sendirian. Selain itu, mengamalkan sunnah; membaca sholawat, berdoa saat akan memulai pekerjaan. Saat masih di pesantren, banyak amalan yang dilakukan oleh santri secara rutin. Namun, hal itu tidak terjadi pada Nurul saat di salah satu kota Britania Raya tersebut, seperti jam’iyah (perkumpulan, diskusi keagamaan, diba’iyah), dikarenakan perbedaan budaya dan terlebih tidak semua pelajar Indonesia di kota tersebut beragama Islam.

Nasehat Masyayikh

Pesan yang dipegang teguh oleh Nurul, yang merupakan alumni jurusan Management Dakwah UIN Jakarta, hingga saat ini adalah sebuah motto dari KH Muhammad Baqir Adelan (Allah Yarhamh), yaitu “Haitsumaa tastaqiim yuqoddiru lakallahu najaahan fii ghaabiril azman. Sekiranya engkau beristiqomah, maka Allah akan menakdirkan kesuksesan bagimu sepanjang masa.” Intinya adalah selalu menjaga istiqomah.

Manfaat nyantri yang masih terasa

Ketika di pesantren, santri melakukan banyak kegiatan (baik formal; sekolah, maupun nonformal; diniyah, ngaji). Oleh karena itu santri diharuskan memiliki time management yang baik. Penggemar film Sherlock Holmes ini menambahkan, “Disini sangat terasa sekali manfaat time management karena jadwal kuliah yang padat dan assignments yang lumayan memeras otak. Dahulu di pondok diajarkan untuk menghargai orang lain, disini juga sangat terasa ketika kelas seminar, kita dapat menghargai pendapat orang lain tanpa mencela.”

“Manfaat yang lain tentu menambah wawasan, semakin berfikiraan luas, bahwasanya ilmu bisa didapatkan dimana saja dan kapan saja. Dan hal yang paling penting adalah kemampuan berkomunikasi dengan warga negara lain, memahami kultur dari negara lain, kemampuan bahasa dan networking. Satu lagi percaya diri,” terang salah satu sekretaris pimpinan pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) ini.

Tips ala santri studi ke luar negeri

  • Belajar bahasa Inggris; dari yang paling sederhana, belajar dari internet, atau menemukan partner untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris
  • Perbanyak membaca buku tentang bidang yang diminati
  • Menentukan bidang yang akan diambil selanjutnya
  • Istiqomah menjalankan ibadah wajib dan sunnah
  • Berdoa
  • Jangan pernah menyerah; jika gagal coba lagi, yakin pasti Allah menunjukan jalan yang terbaik.

 

Jangan minder menjadi santri, santri itu istimewa karena kita belajar banyak hal dalam satu waktu, kita belajar tentang kemandirian, keagamaan, keduniawian dan juga ilmu kehidupan gotong royong yang mungkin jarang didapatkan oleh student biasa. Jadi yakin pasti santri dapat mudah beradaptasi di lingkungan luar dan tentunya juga membawa fondasi keagamaan yang telah tertancap dalam jiwa santri. Santri hari ini adalah santri yang berfikiran luas, cerdas namun kental akan budaya keagamaan pesantren. Santri jaman now* harus memiliki pribadi yang tangguh, berwawasan luas, berakhlaqul karimah dan cinta NKRI. (*bahasa kekinian katanya di Indo wkwk)