Inspirasi Santri: Kuliah di 2 Negara yang (literally) Berbeda

Inspirasi Santri Kuliah di 2 Negara yang (literally) Berbeda

Perkembangan pesantren di Indonesia bisa dibilang cukup pesat. Pesantren merupakan tempat para santri belajar dan digembleng ilmu agama oleh gus/kyai dengan bantuan asatidz/asatidzah. Dalam perkembangannya, beberapa pesantren juga memberikan kurikulum ilmu umum. Santri adalah istilah yang dilekatkan kepada murid (pelajar), sedangkan gus/kyai merupakan orang yang memiliki pengetahuan agama yang lebih yang sanad (silsilah) ilmunya jelas, biasanya mereka adalah ‘ulama. Asatidz/asatidzah adalah guru yang membantu gus/kyai menyampaikan pelajaran di kelas, yang membantu mengelola pesantren.

Bagi sebagian santri, kuliah di luar negeri adalah impian. Termasuk Nuha Qonita, salah satu santri pesantren di Ciwaringin Cirebon pada bangku sekolah. Ia ingin kuliah di Negeri Piramid, Mesir. Mulailah mencari informasi pendaftaran tes masuk Al-Azhar, Kairo, persyaratan dll di situs internet Kemenag. Tidak hanya di Al-Azhar, Nuha, begitu ia biasa dipanggil, kini tengah menuntaskan program master degree di University Business School, UK.

Dua negara tersebut (literally) berbeda.
Tapi tujuan Nuha adalah satu, yaitu menuntut ilmu. Yuk simak selengkapnya 🙂

Proses Aplikasi

Saat apply ke Kemenag dengan tujuan Al-Azhar tentu mendapat saingan yang sangat banyak adalah tantangan tersendiri. Perempuan kelahiran Cirebon ini percaya prinsip tentang niat-doa-usaha-strategi adalah hal-hal yang harus dilakukan terutama pada tahap wawancara. Seperti kemampuan berbahasa Arab, hafalan Qur’an, tarikh Islam dll.

Ternyata, tujuan sekolah penggemar film Sherlock Holmes ini, setelah Al-Azhar adalah di Inggris dengan beasiswa dari Kemenkeu RI. Pada saat di Mesir ia sudah mempersiapkan mencicil berbagai persyaratan yang dicanangkan oleh LPDP. Dari tes sertifikasi bahasa seperti TOEFL/IELTS, essay, hingga tahap interview.

“Kunci dari essay adalah jangan terlalu idealis, tapi jadilah orang yang realistis dan membayangkan target kita ke depan bagaimana dan seperti apa disesuaikan dengan kemampuan lingkungan kita.” Ia pun juga menuturkan bahwa dalam seleksi wawancara pun juga harus meyakinkan pihak pemberi beasiswa bahwa kita bersungguh-sungguh dengan niat dan tujuan baik kita, jawab dengan jujur, tahan mental, dan menganggap kita sedang meminta izin ke orangtua untuk kuliah ke luar negeri.

Kehidupan; Karakter orang

Agar luwes bergaul juga termotivasi dan komunikatif dengan teman-teman dari berbagai negara, sebaiknya kita memahami bagaimana kehidupannya, kebiasaannya, cara berbicara, makan, berpendapat dll. Bahasa perkuliahan di Mesir (bahasa Arab Mesir) sedikit berbeda dengan bahasa Fusha Mesir. “Hati orang Mesir seperti malaikat, saat dia baik dia akan memberikan apapun yang dia punya untuk kita sebagai thaalibulilmi (re: pelajar) seperti makanan, bahan makanan, juga uang sehingga banyak sekali lembaga asrama yang disediakan gratis untuk mahasiswa/i khususnya untuk non-egyptian.”

Namun, tidak melulu mulus perjalanan sosok alumni pesantren modern Gontor Putri 3 ini di Kairo, Mesir. Karakter keras orang Mesir (re: kriminal) pernah ia lihat saat naik angkutan umum. Sopir angkutan yang ia naiki bertengkar dengan sopir angkutan yang lain yang mengakibatkan jendela angkutan umum yang Nuha naiki dipecah dengan besi. Siapa sangka, ia duduk di jendela tersebut. “Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa namun hanya sedikit shock,” ujar perempuan yang terinspirasi dari Nabi Muhammad SAW dan BJ. Habibie ini, saat ditanya lebih jauh tentang hal yang paling membekas selama di Mesir.

Mau tidak mau dipaksa ataupun tidak, untuk tinggal di luar negeri haruslah menjadi pribadi yang berani dan mental yang kuat. Karena sukses itu tantangannya bukan dari hal buku aja tapi bagaimana menjadi pribadi yang kuat di segala keadaan.

Lain halnya ketika ia berada di Inggris. Sebuah tantangan tersendiri menjadi minoritas sebagai Muslim untuk menjalankan kewajiban dan sunnah. One thing she remembered ketika tinggal di negeri Elizabeth adalah orang-orang British yang sangat ramah. Ia sudah tinggal di sana selama satu tahun untuk mendalami studi Bisnis dan Management.
“Sekian banyak orang Inggris yang saya temui setiap harinya di berbagai kota bisa terhitung 4 dari 5 mereka adalah orang yang ramah. Walaupun kita yang bersalah seperti memecahkan botol minuman saat di mini market maka kita tetap dapat ganti baru tanpa bayar.”

Hal yang bikin hati adem

Untuk kaum Muslim, sholat dan ibadah lainnya itu adalah kebutuhan makhluk kepada Sang Pencipta. Apalagi tinggal di negara yang Islamnya minoritas. Menjadi keunikan tersendiri. “Nemuin masjid itu rasanya luar biasa nikmatnya, itu nyess pertama kebutuhan manusia dengan Penciptanya.”

Selain itu, ia melanjutkan, “Nemuin orang-orang yang luar biasa ramahnya tidak pernah gengsi untuk mengatakan maaf, banyak sekali saya belajar dari mereka tentang kemanusiawian dimana derajat manusia semuanya sama, tidak ada yang lebih rendah dan tinggi.”

Buku adalah ilmu. Mau yang kitab kuning ataupun bukan

Bagi santri, kitab kuning adalah makanan sehari-hari. Sehingga membaca kitab juga merupakan kebutuhan. Ketika di Mesir, perempuan yang suka rendang ini mengaku, bacaannya kitab berbahasa Arab, sedangkan di Inggris, bacaannya berubah berbahasa Inggris.

Meski demikian, itu bukanlah sebuah rintangan yang berarti. “Poinnya adalah buku itu ilmu jadi ilmu dari kitab-kitab yang pernah kita baca itu harus membekas di benak kita, karena sejatinya menuntut ilmu itu salah satunya untuk semakin mengerti keagungan Sang Pencipta (innamaa yakhsyallahu min ibadihil ulamaa).”

Nasehat masyayikh/ ulama

Dalam lingkungan pesantren, kyai sering memberikan nasehat-nasehat saat mengaji. “Hidup kita itu ga lebih hanya untuk Yang Menciptakan kita (wa mahyayaa wa mamaati lillahi rabbil alamin), agama adalah satu fondasi hidup kita untuk menjadi makhluk yang bermoral dan mengenal Tuhannya, makanya kita diwajibkan menuntut ilmu, passion ilmu apapun itu harus diniatkan untuk ibadah dan lebih mengenal serta dekat dengan Pencipta Ilmunya,” jelas perempuan yang juga hobi baca novel ini.

Kendalikan niat bukan untuk ke luar negeri

Manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna; dianugerahi akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan. “Niat utamanya harus dikontrol bukan untuk ke luar negeri, untuk pamer atau bahkan bukan untuk sombong. Niatkan untuk menuntut ilmu.”

Strategy of Du’a & understanding the information well

“Jadilah manusia yang positif untuk cita-cita yang ingin dicapai, alihkan rasa minder itu dengan mencari strategi dan cara untuk menggapai yang dicita citakan. Jangan jadikan doa menjadi nomor 2, jadikan doa menjadi nomor 1 dan 3, yakni – Doa, Usaha, dan Doa lagi. Agar keinginan kita didukung oleh penduduk langit untuk segala kelancarannya.”

Mencari informasi tentang perkuliahan, beasiswa dari dalam maupun luar negeri merupakan suatu ikhtiar menuntut ilmu. Haruslah dipenuhi persyaratannya, dan paham dengan baik. “Dan juga pakailah teori memanah yaitu panahlah kesempatan beasiswa sebanyak banyaknya karena dari panah-panah itu pastilah ada satu panah yang kena objeknya,” imbuhnya.

 

So, sudahkan kamu menyiapkan segalanya untuk keperluan sekolahmu? Yuk, semangat kejar ilmu sampai setinggi langit dan tetap membumi. 🙂