Sabtu, 6 Oktober bertempat di Gramedia Expo Surabaya, para audience memenuhi acara Bedah Buku Perantau Ilmu karya PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia se-) Dunia. Antusias masyarakat tidak kalah seru saat peluncuran di Jakarta beberapa waktu lalu. Sebanyak 9 penulis hadir di Surabaya untuk berbagi suka duka saat kuliah di luar negeri.

Sejak pukul 12.30 WIB peserta sudah memadati venue Bedah Buku yang dimoderatori oleh Imas. Acara tersebut dibagi menjadi 3 sesi. Sesi pertama ada Dinda yang kuliah di India, Hanna kuliah di Jepang, dan Andre di Belanda. Sesi kedua, empat penulis yaitu Tri (Taiwan), Agus (Maroko), Ubaid (UAE), dan Nindi (Korea). Dan sesi selanjutnya Hanif (Inggris) serta Hatta (Belanda).

suasana bedah buku Perantau Ilmu

Buku ini merupakan karya yang terlahir dari keresahan para penulis, bukan hanya tips & trik. Proses pembuatan sekuel kedua dari buku Explore: 20 Kisah Perantau Ilmu ini melewati seleksi tertutup, jelas Dinda. “Jadi ini tuh project sejak dua tahun lalu saat saya dan mas Hatta berada di Komisi Biro dan Pers.”

Mereka juga menegaskan bahwa kuliah di luar negeri bukan untuk aktualisasi diri. Ada hal yang lebih penting untuk disoroti yaitu tentang niat. Niat untuk belajar di luar negeri haruslah ditata sedini mungkin, sekuat mungkin. “Di kuartil pertama, saya ngambil 4 mata kuliah tapi ga lulus semua. Di saat yang lain ambil 3 mata kuliah. Mungkin waktu itu saya terlalu meremehkan, dan sombong. Akhirnya saya dapat tamparan sama Allah. Tuh, Andre saksinya,” imbuh Hatta.

Lebih dalam lagi, Tri juga mewanti-wanti jika ada yang mau kuliah di luar negeri. “Harus dicroscek bagaimana ketika tiba di negara tujuan, kuliahnya bagaimana. Apalagi kalo ada program kuliah dan kerja, ” jelas Tri, yang merupakan ketua PPI Taiwan.

Pada akhirnya, sebagai pelajar Indonesia baik di dalam maupun luar negeri, tatalah niat yang benar. Apalagi yang di luar negeri, juga harus menghormati teman-teman lain dengan menggunakan bahasa negara/ Inggris kalau sedang berkumpul dengan teman-teman berbagai negara. “Jangan mentang-mentang orang Indonesia terus ngomongnya bahasa Indonesia-an sama teman sendiri. Kan ga sopan, ” tukas Hanif.

Salah satu pengunjung mengungkapkan dengan senang, “Penulisnya sangat ramah kepada
audiencenya dan banyak pengalaman yang sudah diceritakan yang membuat para pejuang scholship lebih semangat lagi.” Lebih lanjut ia menambahkan, “Mungkin lebih baik lagi kalau untuk tempat bedah bukunya lebih dipersiapkan lagi karena banyak yang belum dapat tempat duduk.”

Meskipun demikian acara yang berlangsung hingga pukul 15.30 WIB hari Sabtu lalu, memberikan semangat positif yang terlihat dari hubungan solid antar anggota PPI Dunia kepada rekan-rekan Sahabat Beasiswa Chapter Surabaya. Hab, salah seorang tim HR SBC Surabaya, menambahkan, “Harus sering mainbareng atau kumpul bareng agar bisa lebih kompak.”

 

 

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship