Nur Shabrina Safitri, Inisiator Sahabat Beasiswa Jombang (dok. pribadi)

Berbekal cita-cita ingin sekolah tinggi sejak SMP, Nur Shabrina Safitri, yang akrab disapa Shabrina, mencoba untuk apply pada tiga beasiswa yang berbeda, dan akhirnya mendapatkan surat penerimaan dari Kemristekdikti. Shabrina adalah anak sulung dari dua bersaudara yang tinggal di Curah Malang, sebuah desa di kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ia pernah menjadi pengurus Sahabat Beasiswa Chapter Surabaya dan sekaligus menjadi inisiator Sahabat Beasiswa Chapter Jombang bersama ketiga temannya yang lain.

Bertemu Sahabat Beasiswa Ketika Ospek Jurusan

Sejak SMP di Gontor, Shabrina bercita-cita jika lulus nanti, ingin ke Mesir. Namun, belum sampai kelulusan SMP, Shabrina berpindah sekolah sambil tetap mengendapkan keinginan kuliah di luar negeri. Ia melanjutkan pendidikan Sarjana di Universitas Negeri Surabaya jurusan Fisika dengan konsentrasi Pendidikan Fisika. Pada saat masa orientasi, Sahabat Beasiswa Chapter Surabaya berkesempatan untuk mengisi talks di jurusan tersebut. Merasa “klik” dengan komunitas tersebut, ia mencoba mencari tahu lebih dalam dan akhirnya menjadi pengurus SBC Surabaya saat menjadi mahasiswa.

Pemuda asal Jombang ini kuliah di USA

Pindah Ruangan Sebelum Detik-detik Waktu Pelaksanaan

Dalam kepengurusan, ia menjadi anggota Media Creative Sahabat Beasiswa Chapter Surabaya. Saat ditanya hal apa yang paling berkesan saat menjadi pengurus, Shabrina mengaku, “Let me think! Ah, itu pas workshop tahun 2018 di UIN Sunan Ampel. Itu ya ampun, unexpected banget! Mendadak gedung berubah, ruangan berubah, sedangkan posisi aku di Jombang. Meskipun itu teknis, tapi challenging banget. Problem solvingnya harus cepet. Soalnya besok sudah acara, ga nyampe H-1, kurang dari 16 jam. Alhamdulilaah!”

Apply Beasiswa Manapun

Perempuan kelahiran 1997 ini sudah mempersiapkan sedikit demi sedikit rencana studi ke luar negeri sejak kelulusan pendidikan sarjana. Mulai dari recomendation letter hingga CV. Sambil mengajar ekstrakurikuler di sekolah, ia mulai apply beasiswa ke Korea dan Hungaria.

Ke Korea dengan skema KGSP

Tapi dua-duanya dinyatakan tidak lolos. Ia juga sempat berkeinginan studi ke Belanda namun saat itu, skor IELTS belum ada, dan belum menghubungi profesornya. “Pada masa-masa itu semua beasiswa aku apply gitu. Selama ada biaya, usaha dan ada waktu yang aku bisa, aku apply aja. Sama pengen nyoba ke Belanda tapi belum punya skor IELTS. Plus belum menghubungi Profesor.”

Selancar via Instagram SB dan Schoters

Arus informasi kini jauh lebih cepat dan mudah diakses setiap orang melalui genggaman. Shabrina memanfaatkan hal tersebut untuk mengikuti update dari instagram Sahabat Beasiswa dan Schoters. Pada awal tahun sekitar bulan Februari 2019, ia melihat feed-post informasi beasiswa. “Jadi, aku sering banget berkelana di instagram. Terus aku lihat timeline muncul postingan Schoters tentang pembukaan Chinese Government Scholarship (CGS) melalui jalur Dikti. Emang banyak jalurnya. Bisa via embassy atau direct ke kampus di Cina. Dan aku baru taunya H-7 hari.”

Baca informasi beasiswanya di sini

Nekat Daftar Chinese Government Scholarship

Melihat persyaratan CGS yang menurutnya gampang-gampang susah, ia bertekad apply. “Kayak syarat-syarat study plan, student of purpose. Itu kan lumayan mikir. Harus ada proofreader. Terus ada recomendation letter dari dosen. Yang paling ribet sih, cek kesehatan. Karena di Cina cek kesehatan lumayan kompleks. Untungnya di Surabaya banyak klinik yang menyediakan physical examination untuk mengurus visa ke Cina (ada satu paket). Jadi tinggal datang aja ke rumah sakit, besoknya udah jadi,” jelas Shabrina.

Saat mendaftar beasiswa untuk jenjang tertentu, CGS membatasi usia calon pelamar. Secara garis besar aplikasi yang harus dikirimkan antara lain academic transcript, study plan, recomendation letter, physical examination yang semuanya diterjemahkan dalam bahasa Mandarin atau bahasa Inggris. Semua dokumen aplikasi dikirimkan via email dan via pos ke alamat Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) di Jakarta.

Interview by Video Call

Mendaftar H-7 hari, membuat Shabrina tidak patah semangat dan terus berdoa. Sembari tracking dokumen aplikasi, ia pasrah kapan dokumen tersebut tiba di gedung tujuan. Ternyata dokumen tersebut sampai pada hari Jumat pukul 5 sore, waktu mayoritas kantor sudah tutup. “Aku dag-dig-dug-der pas tracking di website Pos Indonesia. Soalnya baru nyampe jam 5. Padahal kantornya udah tutup jam 4 sore.”

Setelah lolos seleksi administrasi, bagi calon penerima beasiswa CGS akan melaksanakan interview. Selang 7 hari, ia menerima email notifikasi untuk persiapan wawancara. Shabrina menjelaskan, “Ada dua pilihan. Kalo kamu tinggal di daerah Jabodetabek, datang ke sebuah hall hotel. Kalo kamu misalnya tinggal di luar Jabodetabek, please confirm to us(Kemistekdikti) soalnya ada video call.”

Pada saat hari wawancara, Shabrina mengaku ada di kota, agar signal lebih jernih dan lancar. Selama 20-30 menit wawancara dengan pihak Kemristekdikti, Shabrina sebelumnya sempat memprediksi pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan oleh interviewer. “Di layar ada 2 interviewer. Untuk pertanyaannya sih, ada yang sudah terprediksi dan ada yang gak aku expect. Yang gak aku expect itu pertanyaannya kalo kamu udah dapat beasiswa ini kamu bakalan gimana? Bakal diambil atau dilepas. Karena pada saat itu aku kan apply di lain beasiswa. Yaaa, aku ambil aja dong!”

Yeay, Alhamdulillah ke Tiongkok!

Pengumuman lolos seleksi wawancara CGS ini terbilang cukup lama. Pihak Kemristekdikti sebenarnya telah mengumumkan bakal calon awardee CGS selang 2 minggu setelah interview. Namun, disaring lagi oleh pihak Kedutaan. Pengumuman bakal calon awardee CGS dari kedutaan ini baru dirilis awal Agustus 2019.

Penyuka buku Laskar Pelangi ini, diterima di Central China Normal University (CCNU), Wuhan, Tiongkok, School of Education dengan major Principal of Education. Major Principal of Education ini sejenis ilmu pedagogik murni.

Pada saat pengambilan admission letter di Jakarta, Shabrina tengah menjalankan kursus bahasa Inggris di Pare, Kediri, Jawa Timur. Setelah dari Jakarta, ia melanjutkan kursusnya yang hanya tinggal hitungan hari. Akhir bulan Agustus ia habiskan untuk mempersiapkan keberangkatan ke Wuhan pada 2 September 2019.

Life’s Just Begining

Shabrina mengungkapkan bahwa ia pernah menuliskan di blog pribadinya, “Ternyata, di awal tahun 2019 aku nulis di tumblr kalo tahun 2019 harus nambah stempel di paspor dan kudu ngurus visa. Dan alhamdulillah dikabulin.”

Untuk registrasi ulang di CCNU, Wuhan, akan dimulai pada tanggal 5-6 September 2019 bersama dengan ribuan mahasiswa baru lain. Pada pekan ini ia memulai kuliah magisternya dengan menggunakan kelas bahasa Inggris (master by coursework taught in English).

Wish for Sahabat Beasiswa

Menurut Shabrina, Sahabat Beasiswa dan Schoters memang telah menjadi platform informasi beasiswa exchange, magister, doktoral dan lain-lain yang semakin dikenal banyak orang. Ia menambahkan, “Bahkan pas aku ke Pare, tutor di sana ngadain workshop beasiswa. Nah, jadwal beasiswanya itu pun ambil dari Schoters.”

Baca kalender beasiswa 2019

“Harapannya biar lebih baik, sering-sering ngadain kegiatan offline di mana pun. Bukan hanya di kota besar, lebih ke akar rumput, ke daerah-daerah. Sebenernya di sini anak-anaknya potensial tapi kurang informasi, kurang ada inspirasi. Mereka tidak menemukan, tapi menunggu ditemukan,” lanjut Shabrina.

“Enggak papa punya mimpi setinggi langit. Tulis. And go ahead!” pungkasnya.