Hallo, teman-teman Scholarship Hunters! Sahabat Beasiswa Chapter Salatiga mengadakan Schotalk #2 pada hari Sabtu, 30 Maret 2019 pukul 20.00-22.00 WIB. Narasumber schotalk kali ini adalah Jusmaidi Sahriadi, lulusan dari jurusan Akutansi Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala Aceh. Apa saja sih yang dibahas dalam schotalk kemarin? Yuk, simak ulasan berikut!

Apa pengertian dari beasiswa Exchange Erasmus+ di Italia?

Beasiswa Exchange Erasmus+ adalah salah satu progam unggulan dari  Uni Eropa. Uni Eropa mengadakan semacam project yang bertemakan Long Life Learning”, salah satu project unggulan mereka yaitu Erasmus+, dan Erasmus+ ini terbagi dalam beberapa project. Jadi, ada action 1 kemudian ada action 2. Kebetulan ketika beliau ada di Italia, mas Jusmaidi ini mengikuti project dari action 2 dan di bawah dari project leader.

Mengapa harus mengikuti Erasmus+?

Alasan pertama, karena benefit dari beasiswanya sangat besar dan sifatnya fully funded. Jadi, ketika berada di Indonesia untuk pengurusan visa dari pihak penyelenggara Erasmus+ sudah membayar, termasuk hotel, akomodasi sampai biaya visa, dan juga tiket pesawat. Setiap bulannya juga akan mendapatkan stipend 16.600.000 dan itu terbilang besar, lho.

Jalur mana saja yang terbuka untuk penerima beasiswa Exchange Erasmus+ di Italia?

Mas Jusmaidi mengungkapkan, “Jalur yang terbuka dari action 1 ataupun action 2. Untuk Exchange untuk ke Italia kita menggunakan action 2. Kalau action 1 untuk S2 dan S3. Beasiswa ke Italia sifatnya bervariasi dan untuk sekarang action 2 sifatnya hanya kerjasama antar universitas, jadi pastiin universitas kalian berkerjasama dengan universitas Uni Eropa. Kalau misal ingin mengikuti Erasmus Mundus pastikan dulu bahwa universitas kalian terdaftar dan memilik hubungan kerjasama dengan universitas di Eropa?”

Apa saja kelebihan beasiswa Exchange Erasmus+ di Italia?

Mas Jusmaidi menjelaskan kelebihan-kelebihan Exchange Erasmus+ di Italia, progamnya fully funded artinya kita tidak memerlukan dana sepeserpun. Fasilitas yang didapatkan layaknya mahasiswa Internasional. Kemudian juga mempunyai jaringan internasional, kita juga diayomi oleh ESN atau Erasmus Student Network. Ketika mas Jusmaidi berada di Italia, ia mengungkapkan masyarakat Eropa sangat ramah seperti orang Indonesia, kebanyakan ramah luar biasa dan sangat-sangat terbantu ketika berada di Italia, karena mereka sangat-sangat welcome dan friendly.

Kemudian, keuntungan lainnya ketika berada di Italia, artinya kita memiliki visa schengen sehingga bisa explore ke negara-negara tetangga misalnya Austria, Yunani, Republik Ceko, dan segala macam yang ada di Uni Eropa itu menjadi poin lebih. Kenapa ? karena kita pasti tahu bahwa mahasiswa, mungkin ketika kita di kampus kita sudah dipress habis-habisan. Nah, ketika kita mengikuti progam seperti ini bisa jadi salah satu ajang untuk me-refresh otak atau me-recharge otak melihat hal-hal yang baru kemudian banyak hal yang patut disyukuri dari sana.

Apa saja kekurangan beasiswa Exchange Erasmus+ di Italia?

Mas Jusmaidi mengungkapkan bahwa mungkin kita sudah mengetahui bahwa di luar negeri itu pasti sifatnya bagi kita yang muslim mungkin menjadi seorang minoritas, Islamophobia meskipun tidak ditampilkan secara menyeluruh tapi ada bagian-bagian yang agak sensitif terhadap isu-isu keagamaan. Kemudian, kendala-kendala lainnya seperti bahasa, karena Italia itu masyarakatnya sangat nasionalis sehingga Bahasa Inggris itu bukan menjadi bahasa utama bagi mereka dan kita harus menguasai setidaknya Bahasa Italia untuk bertahan hidup di lokal. Italia juga merupakan negara yang cukup mahal, meskipun sangat bagus touristict place di Italia dan mas Jusmaidi merekomendasikan kalau misalnya teman-teman ingin ke Eropa untuk berlibur, Italia salah satu destinasi wisata yang wajib dikunjungi.

Mas Jusmaidi tidak bisa mengungkapkan banyak hal tentang kekurangan, mungkin yang dikatakan tadi sudah mencakup beberapa. Umumnya secara menyeluruh beliau sangat puas, sangat senang, sangat bersyukur karena banyak hal yang tidak pernah didapat di Indonesia, bisa didapatkan di Italia-Eropa secara lebih luas.

Bagaimana cara menentukan beasiswa Exchange Erasmus+?

Mas Jusmaidi mengungkapkan bahwa dijaman melenial ini, dijaman digital, banyak informasi-informasi hoax yang bertebaran. Kadang-kadang kita sebagai mahasiswa juga dapat tertipu. Salah satu informasi hoax tersebut adalah beasiswa palsu atau mungkin beasiswa exchange yang terselubung. Nah, ini perlu diwaspadai, kenapa? karena zaman sekarang banyak sekali beredar hal-hal seperti itu. Untuk teman-teman ketika kalian menemukan informasi yang valid, kalian harus menggali lagi, kenapa? karena ada beasiswa yang tidak sesuai dengan kita, misalnya kita harus cuti. Mas Jusmaidi merekomendasikan untuk coba mengusahakan memilih beasiswa exchange yang relevan. Jadi, ketika kita mengikuti progam tersebut kita dapat jalan-jalannya, pengalamannya, progamnya, dan juga dapat menyelesaikan perkuliahan kita pada waktu yang tepat.

Mas Jusmaidi menambahkan, “Lihat kembali requirement dan eligibility, misalnya kalian dari jurusan akutansi, coba lihat baik-baik apakah itu relevan dengan jurusan yang kalian minati sekarang. Untuk menentukan beasiswa exchange ini kalian juga harus memastikan durasinya kapan akan berangkat, karena kesalahan informasi atau missunderstanding di dalam informasi ini akan memengaruhi studi kalian ketika berada di Indonesia dan ketika berada di luar negeri.”

Bagaimana perjuangan dalam mendapatkan beasiswa Exchange Erasmus+?

Mas Jusmaidi mengungkapkan pengalamannya dalam mendapatkan beasiswa ke Eropa, “Sangat panjang sebetulnya. Karena sudah melewati beberapa hal, kita nggak pernah nyangka rezeki itu dapat pada percobaan ke berapa. Nah, sebelumnya saya sudah banyak sekali mencoba progam beasiswa kebanyakannya tidak lulus, ada yang lulus namun saya harus mengeluarkan biaya dan segala macam, sampai akhirnya saya tiba-tiba tertarik untuk mengikuti progam beasiswa dari Erasmus Mundus, saya sebenarnya tidak memiliki basic Bahasa Inggris yang baik dulunya tapi karena keinginan yang kuat ketika orang-orang pada bisa kenapa saya nggak bisa. Jadi, saya belajar otodidak waktu itu Bahasa Inggrisnya mulai dari nol, pelan-pelan, sampai akhirnya diwawancara saya harus bisa. Saya suggesti diri saya agar bisa, gimana caranya kekurangan-kekurangan itu dapat tertutupi. Dan juga saya pernah ditolak untuk mengajukan surat rekomendasi karena skill Bahasa Inggris saya yang buruk.” ungkap mas Jusmaidi.

Mas Jusmaidi juga menambahkan, “Beasiswa Erasmus kita boleh memilih tiga progam. Saya pertama pilih progam Swap and Transfer, kedua alfabet, ketiga leader. Progam Swap and Transfer saya mengambil ke Austria jurusan Political Science. Kedua alfabet, jurusan Teknik Pertambangan. Ketiga, leader di Italia jurusan Akuntansi. Qodarullah, saya di Swap and Transfer dinyatakan lulus cadangan di Universitas Innsbruck Austria. Kemudian, di progam alfabet dinyatakan lulus di progam Teknik Pertambangan di University Of Porto. Walaupun saya akhirnya harus menolak Portugal waktu itu karena saya lebih tertarik ke Italia dengan jurusan yang relevan. Alhamdulillah di tahun 2016 saya dinyatakan lulus di jurusan Akuntansi Universitas Sanio Italia.”

Bagaimana cara menyesuaikan diri dengan lingkungan, makanan, budaya, bahasa dan yang lainnya?

Beliau mengungkapkan saat sebelum berangkat ke Italia, “Saya sering menonton youtube gimana cara percakapan orang-orang Italia, cara greeting-nya, kalau mau membeli sesuatu. Jadi, ketika berada di Italia kita nggak buta harus ke mana dan ngapain, karena kita sudah belajar sedikit paling nggak kalau kita salah mereka pasti bakal ngebenerin.”

Untuk budaya mas Jusmaidi mengungkapkan bahwa agak shock dengan budayanya, karena sangat jauh berbeda dengan biasa ia alami, “Kita harus berhati-hati dalam proses penerimaan budaya baru, yaitu menolak secara halus tentang budaya yang tidak sejalan dengan agama atau budaya Indonesia, berusaha untuk mengambil sisi positifnya. Lalu untuk menyesuaikan diri dengan makanan mas Jusmaidi juga agak shock awalnya, untuk masalah makanan sebenarnya tidak sulit alhamdulillah tidak menjadi masalah karena makanan halal mudah ditemui. Tetapi jika ingin benar-benar terjamin dan berhemat, lebih baik masak sendiri. Mengenai cuaca di sana, cara menyesuaikan diri dengan cuaca awalnya tubuh menggigil dan meriang tapi lama-lama juga dapat menerima cuaca ekstrim setelah beradaptasi dan disarankan untuk membeli baju musim dingin.”

Tips dan trik untuk scholarship hunters dalam mempersiapkan diri hingga lolos beasiswa Exchange Erasmus+ di Italia

Dari pengalaman beliau, sangat disarankan untuk menyiapkan berkas sejak dini. Terutama mengenai motivation letter yang paling baik, yang bisa “menjual” kapabilitas. Karena jika tidak menarik, pihak pemberi beasiswa pun enggan untuk menindaklanjuti. Dalam motivation letter bisa dipadatkan dengan (susunan) paragraf pertama dapat memperkenalkan diri, menjelaskan prestasi, lalu menjelaskan tentang daerah asal. Setelah itu, jelaskan alasan memilih jurusan yang diambil serta kontribusi apa yang dapat diberikan lewat jurusan tersebut. Pada paragraf kedua dapat dijelaskan alasan memilih beasiswa yang diambil, alasan memilih negara yang dituju. Dalam paragraf ini dapat dijelaskan dengan singkat dan padat, tentunya harus dikemas dengan bahasa yang menarik. Dan yang terakhir di penutupan dapat dijelaskan apa yang akan kalian lakukan ketika sudah kembali dari program tersebut.

Untuk recommendation letter pastikan memilih dosen yang benar-benar mengenal kalian, karena apa yang dituliskan oleh dosen pasti akan memengaruhi poin bahkan di beberapa program Erasmus bisa sampai 30%. Lalu, ketika mengambil program di negara yang tidak berbahasa Inggris, kalian juga harus memersiapkan bahasa negara tersebut agar tidak mengalami shock culture dan bisa survive di sana. Lalu terkait kemampuan Bahasa Inggris yang minim, juga harus diperbaiki karena keinginan yang besar tidak akan seimbang ketika kita mengerjakan pekerjaan yang kecil.

FAQ                                       

1. Pernahkah diterima dua beasiswa sekaligus? Apa konsekuensi jika kita menolak beasiswanya?

Pernah mengalami seperti itu, ketika di Portugal diterima di teknik pertambangan dan di Italia diterima di akuntansi, lalu yang diambil di Italia. Dalam Erasmus sendiri sangat fleksibel, maka untuk beasiswa yang tidak diambil kemungkinan akan dialihkan ke penerima cadangan. Lalu untuk konsekuensinya sejauh ini belum ada yang seperti itu.

2. Persyaratannya pendaftarannya apa saja? apa perlu filenya di legalisir oleh notaris? ketika kita sampai disana, apa ada dri pihak italia yang menjemput kita di bandara? perlu TOEFL gitu gk sih, untuk menentukan kita diterima / tidak diterima? jalur beasiswanya itu sama seperti KGSP tidak? (kan klo KGSP : jalur kedubes & university) nah kalo beasiswa ini jalur nya apa saja?

Persyaratan untuk beasiswa Erasmus sangat simple, yaitu CV, motivation letter, recommendation letter, passport, TOEFL, sertifikat penunjang lainnya (kejuaraan, aktivitas) dan transkip nilai berbahasa Inggris. File tidak perlu dilegalisir oleh notaris. Dalam beasiswa Exchange bersifat mandiri, jadi ketika sampai di sana, kita mengurus sendiri, tapi ada dari pihak kampus semacam BEM yang akan mengarahkan kita. Tergantung dari jenis beasiswa itu sendiri mensyaratkan atau tidak, karena umumnya poin TOEFL sendiri tidak terlalu besardalam persyaratan. Dan yang terakhir jalur beasiswa berbeda dengan KGSP, karena Erasmus sangat gampang dan simple.

3. Kalau conferrence yang kakak ikuti itu fully funded semua apa self funded? Kalau self funded biasanya kakak bikin proposalnya bagaimana? Rekomendasi perusahaan yang mau jadi sponsorship? Dan feedback apa yang kita beri kepada sponsorship?

Konfrensi yang diikuti oleh beliau adalah fully funded, lalu jika self funded perlu dipikir lagi, karena adanya biaya tiket pesawat serta biaya program. Untuk proposal sendiri, jika di Aceh cukup sulit untuk proposal, mungkin jika di Jakarta lebih mudah mengajukan ke perusahaan besar. Dan mengenai feedback harus dilakukan secara nyata, misalnya membuat baju disisipkan nama perusahaan, atau dalam konfrensi, disebutkan nama perusahaan yang menjadi sponsor, atau yang sifatnya akademis, ketika ikut karya tulis dicantumkan nama sponsornya.

Pesan untuk Scholarship Hunters

Terlepas dari requirement yang menurut teman-teman memberatkan, atau mungkin mengenai Bahasa Inggris yang masih minim, tidak ada kata terlambat. Ketika teman-teman punya mimpi, maka tulislah sebanyak-banyaknya, karena nanti akan ada suatu hari di mana kalian menulisnya bukan sebagai mimpi, melainkan sebagai pengalaman. Tidak ada yang tidak mungkin, percayalah jika kalian mampu. Lalu, ketika ada peluang, ikutilah sekalipun itu adalah peluang kecil. Karena peluang-peluang kecil seperti itulah yang akan membiasakan kita, yang akan mengantarkan kita pada peluang yang lebih besar.

Artikel ini merupakan hasil notulensi Schotalk #2 Sahabat Beasiswa Salatiga yang diselenggarakan pada 30 Maret 2019.

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship