Artikel Berita

Enam Cerita Puasa di Negeri Gingseng

suasana di Gamcheon Cultural Village

Korea, tentu negara yang sudah tak asing di telinga kita. Terkenal dengan korean wave nya mulai dari Kpop dan drama Korea yang mayoritas digandrungi kaum perempuan Indonesia , Korea menyimpan beberapa cerita menarik  tentang Ramadhan. Pengen tau, Sobat SB? Yuk kenalan dulu sama kakak satu ini. Fajar Budi Laksono atau yang biasa disapa Fajar, adalah awardee BK21 (Brain Korea 21) yang telah menempuh studi masternya di Pukyong National University, Korea Selatan, pada tahun 2014-2016 lalu. Ia mengambil jurusan Interdisciplinery Program (gabungan beberapa jurusan) bidang teknik lingkungan.  Selama dua tahun di Busan, Korea Selatan, Fajar Budi Laksono punya beberapa pengalaman Ramadhan. Simak ceritanya berikut ini.

1.Puasa 17 jam

Tinggal di Korea Selatan, membuat ia harus menjalani waktu puasa lebih lama dari Indonesia. Mulai dari jam setengah tiga hingga setengah delapan.

2.Summer Time

Hal ini juga menjadi tantangan tersendiri. Selain banyak kedai makan & minum yang tetap buka, godaan lain yang menurut Fajar cukup membuat goyah adalah banyaknya “KFC” di jalan. Nah lho apa maksudnya KFC nih?. “itu lho, karena ini musim panas, pakaian kaum perempuan di Korea lumayan minim hehe”, tutur Fajar. Oh ternyata itu maksudnya KFC, aneh-aneh aja ya istilah lelaki single asal Salatiga ini “selain itu panasnya beda. Korea panas humid, banyak kadar air alias gerah atau dalam bahasa jawa itu sumuk. Kalo Indonesia kan panasnya matahari,” tambah alumni S1 Kimia Universitas Diponegoro ini.

3.Ramadhan tetap nge-Lab

Orang Indonesia pertama yang lolos di bidang Teknik Lingkungan melalui beasiswa dari Kemenperin Korea ini mengaku bahwa kuliahnya adalah research based. Meski demikian tetap ada kuliah di kelas. Sebagai mahasiswa riset, tentu akan sangat dekat kegiatan yang berbau lapangan dan laboratorium. Apa aja ya? Yuk simak.

-Sampling 6 titik air sungai di Korea Selatan

Untuk suatu penelitian, ia harus mengambil sample air sungai di 6 titik dengan cara menimba dari jembatan yang tingginya hampir 20 meter. Ada sekitar 72 sample yang harus dikerjakan dalam waktu 3 hari. Sehingga pengalaman yang cukup menguras tenaga di bulan Ramadhan ini akan menjadi pengingat untuknya.  “Jadi ngambil air sampel di sungai Korea berangkat dari rumah jam 5 pagi pulangnya jam 11 malam”, tutur Fajar

-Tidur di Lab

Untuk beberapa mahasiswa yang fokusnya riset, sering tidur di dalam Laboratorium adalah hal yang lumrah karena mereka akan menghabiskan sebagian besar waktunya di Laboratorium. Kamu pernah ga, sobat SB? 😀

-Tarawih dan ngaji di Lab Sebagai muslim yang taat, pria yang pernah menjabat sebagai koordinator perkumpulan mahasiswa muslim Pukyong, ia dan teman-teman muslim yang lain pernah melaksanakan tarawih jamaah di Laboratorium kampus. Tidak besar luas musholanya, sekitar 6×6 meter saja. Untuk mengaji, ia juga mengaji di dalam laboratorium dengan berbekal smartphone. Tentu dengan suara yang pelan-pelan agar tidak mengganggu teman-teman yang lain.

4.Kabur dari Lab untuk berbuka puasa dan tarawih

Meski kerjaan di Laboratorium sangat banyak, ia pernah kabur ke masjid sebelum waktu buka puasa saat weekend untuk berbuka puasa gratis. Karena Pukyong letaknya di kota Busan, lokasi masjidnya cukup jauh. Ia harus menempuh perjalanan sekitar 1 jam. “Namanya juga ibadah, jalanin aja sebaiknya. Jangan lupa ikhlas.”

5.Lingkungan pertemanan yang baik

Berteman dengan yang berbeda agama tidak membuat semangat pria kelahiran Jawa Tengah ini surut. Saat ditanya tentang persiapan khusus menyambut Ramadhan, begini jawabnya, “Apa ya, paling ngasih tahu temen Lab. Mereka sudah paham kok. Kadang kalo Ramadhan mereka makan di depanku aja minta izin dulu.” Yaa, tidak semua orang Korea perilakunya gitu. Tapi, setidaknya itu adalah contoh positif dalam berteman. WhatsApp Image 2017-06-18 at 23.55.34

6.Lebaran di Busan

Jika di Indonesia libur lebaran hingga berminggu-minggu, lain hal dengan yang dialami Fajar di Pukyong National University. “Lebaran izin setengah hari. Di sana jarang-jarang libur. Libur terpanjang saat Chuso (semacam lebaran orang Korea). Mereka biasanya mudik ke kampung,” imbuhnya.

Sobat SB yang di Indonesia, manfaatkan libur lebaran panjang dengan hal-hal yang positif, ya :)

Well, itu tadi cerita Fajar saat belajar di Busan, Korea Selatan. “Di mana pun teman-teman belajar, tidak masalah yang penting adalah niat tulus untuk mendapatkan ilmu agar kita bisa lebih bermanfaat bagi orang lain. Terutama masyarakat di Indonesia.” Gimana, sobat SB, siap merasakan Ramadhan di Korea? :)

About the author

Admin

teacher, blogger, entrepreneurship