Apa yang terlintas di benak Sobat SB ketika mendengar kata “Timur Tengah”? gurun pasir? Panas? Onta? Atau apa lagi nih? 😀 Ramadhan series Sahabat Beasiswa kali ini berkesempatan untuk mengulik cerita perjalanan bagaimana berpuasa di salah satu negara bagian Timur Tengah yang digadang-gadang sebagai negara Timur Tengah paling rendah suhunya. Ialah Gridzanda Magna Yanudza, mahasiswa jurusan Fiqh wa Ushul / Islamic law di Mu’tah University Jordan.

Paling Dingin di Timur Tengah?

Berpuasa di Yordania berdurasi sekitar 16,5 jam, berbuka pada pukul 8 malam waktu setempat dan diakhiri pada pukul setengah 4 waktu setempat. Announcer Radio PPI Dunia ini mengaku sempat mimisan ketika pertama kali datang di Jordan karena belum terbiasa dengan suhu yang teramat tinggi walaupun suhu Yordania dikatakan paling “dingin”dibanding negara-negara Teluk sekitarnya macam Qatar, Oman, dll tau bahkan Mesir yang bisa mencapai 40-48 derajar celsius. Suhu pada siang hari berkisar 38 derajat celcius dan pada malam hari sedikit turun dengan rata-rata suhu 34-35 derajat celcius. Panas di Yordania lebih kepada panas yang kering karena angin yang berhembus mengandung pasir dan debu. Bagaimana? Bisa dibayangkan sobat SB?

Nikmat Berbuka di Yordania

Suasana Yordania ketika Ramadhan sendiri juga tak kalah menarik. Sejak pagi hingga menjelang Ashar sekitar pukul setengah 5 sore waktu setempat, Jalanan Yordania sepi layaknya kota mati dan akan ramai sesudahnya. Ketika bulan Ramadhan, warga Yordania akan berlomba-lomba untuk menyediakan hidangan berbuka puasa untuk siapapun. Bisa di masjid-masjid, atau bahkan di pinggir jalan. Gridza-sapaan akrabnya bercerita jika di setiap masjid di kala berbuka itu ada banyak hidangan seperti Kurma, Jus, Susu, Buah, Manisan dan Gorengan sebagai takjil atau makanan pembuka serta makanan berat yang dapat dikonsumsi setelah sholat maghrib. “Mungkin hal ini sebagai bentuk sodhaqoh warga Yordania di bulan Ramadhan”, imbuh Gridza.

Tak hanya itu saja, menurut mahasiswa asal Solo ini, ada salah satu Syekh yang dahulunya seorang cendekiawan kampus, yang menawarkan antar jemput ke rumah-rumah masing-masing orang non-Jordan untuk berbuka. Biasanya yang dijemput adalah mahasiswa asal Asia Tenggara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Thailand dll. super sekali kan Sobat SB? Kalian mau tidak?

momen buka puasa bersama di salah satu rumah kolega di Irbid, Yordania
momen buka puasa bersama di salah satu rumah kolega di Irbid, Yordania

Adzan, Peraturan Masjid, Tarawih

Ada beberapa hal-hal unik di Yordania yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan suasana Ramadhan di Indonesia. Jika Sobat SB di Indonesia sering mendengar adzan bersahut-sahutan dengan suara dan tempo berbeda entah itu sebagai penanda masuknya waktu sholat wajib atau masuk waktu berbuka, di Yordania tidak disarankan seperti itu lho. Wah maksudnya bagaimana tuh Sobat SB?

Jadi telah ada ketetapan dari pihak pemerintah, bahwasanya adzan harus mengikuti pusat sehingga suara dan tempo serta waktu adzan nya sama di menit dan detik. Masjid dan musholla seantero Yordania telah dibekali chips yang tersambung dan akan menyala otomatis jika telah masuk waktu Adzan dari pusat Yordania di Amman. Bisa dibayangkan sobat SB? Kalian akan mendengar suara adzan bertalu-talu bersamaan di semenanjung Negeri Hasyimiyah Yordania.

Jika kalian sering menemui pengalaman teman-teman di Indonesia yang sering tidur di masjid, hal seperti ini di Yordania juga tak dibolehkan lho sobat SB. Karena masjid-masjid Yordania hanya dibuka saat masuk waktu sholat ditambah saat waktu i’tikaf saja (biasanya 10 malam terakhir Ramadhan). “katanya sih ditakutkan akan dibuat melakukan hal-hal yang tidak diinginkan”, tambah Gridza

Kemudian suasana sholat Tarawih. Jika sobat SB di Indonesia berbondong-bondong memasuki surau/musholla dan masjid terdekat untuk mendirikan qiyamul lail baik pria maupun wanita, di Yordania agaknya sedikit berbeda lho sobat SB. Di Yordania, kaum perempuan tidak disarankan untuk sholat tarawih di masjid. Sehingga bagi mahasiswa putri Indonesia mensiasati untuk sholat tarawih bersama di rumah perhimpunan.

Idul Fitri / Idul Adha?

Idul fitri di Indonesia, akan selalu identik dengan mudik, berkumpul bersama keluarga, baju baru, THR, libur panjang dan printilan-printilan lainnya. Ketika idul adha di Indonesia, akan disemarakkan dengan prosesi penyembelihan hewan qurban serta olahan hidangan sate dan gule. Lalu, bagaimana dengan di Yordania?

Menurut Gridza, masyarakat Yordania cenderung lebih heboh dalam merayakan idul adha daripada idul fitri. Sama-sama khidmat sebetulnya, namun tradisi berbelanja baju baru hingga hari libur akan cenderung lebih banyak di waktu idul adha daripada di waktu idul fitri. Jika selepas idul adha, kita akan berbondong-bondong melihat prosesi penyembelihan di spot-spot qurban terdekat, di Yordania tidak seperti itu. Penyembelihan tidak dilakukan secara terbuka, tiba-tiba masyarakat sudah mendapat daging saja, begitu.

Sehingga, Gridza dan teman-teman mahasiswa Indonesia lainnya akan merayakan idul fitri di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amman, Yordania. Melaksanakan sholat ied berjamaah hingga makan-makan disana. Yeayy it’s time for Indonesian foods, hehe.

salah satu momen buk apausa bersama Kedubes Indonesia di Yordania
salah satu momen buk apausa bersama Kedubes Indonesia di Yordania

Tips agar Kuat Berpuasa di Yordania

Menjadi perantauan di luar negeri, entah berstatus pekerja atau mahasiswa, tentunya harus siap dalam menghadapi keadaan sekitar lingkungan termasuk suasana berpuasa di luar negeri bagi perantau muslim. Suasana berpuasa yang berbeda dari Indonesia mulai dari durasi, suhu,kesibukan yang sedang dilakukan, membuat kita harus benar-benar putar otak untuk mempersiapkan.

Bagi Penanggung Jawab HPMI (Himpunan pelajar Mahasiswa Indonesia) Yordania di daerah Mu’tah Al-karak ini, ia sudah lumayan terbiasa dengan suasana puasa di Yordania karena telah beradaptasi dengan mencoba puasa sunnah sebulan sebelum Ramadhan di mulai. Menurutnya, cuaca dan suhu sebulan sebelum Ramadhan tiba kurang lebih akan sama, sehingga bisa digunakan untuk berlatih dan menilai sekuat apa diri kita sendiri. Dari itu kita bisa tahu hal-hal apa yang kurang dan hal-hal apa yang bisa dipersiapkan seperti contoh menyiapkan makanan / suplemen tertentu untuk berpuasa nantinya agar senantiasa fit dan lancar.

Ia sendiri saat ini tengah mengambil summer class di kampus nya dari awal Ramadhan lalu hingga pasca lebaran Idul Fitri. Menurutnya kuliah bukanlah sesuatu hal yang terlalu mengganggu, namun perjalanan dari rumah menuju kampus di bawah suhu siang hari yang mencapai 38 derajat celsius itu yang cukup membuat ketar-ketir. “Di dalam kampus sih Adem, Mbak. Jalannya itu lho yang panas Haha”, Tutup Gridza.

Bagaimana sobat SB, dimanapun kalian berada untuk menuntut ilmu, semoga tetap diberi kekuatan untuk melaksanakan dan menyempurnakan Ibadah. Semangat, Sobat SB!