Prof. DR (HC). Ing. Dr. Sc. Mult. Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang biasa kita kenal BJ Habibie merupakan salah satu tokoh besar bagi bangsa Indonesia dan bahkan kecerdasannya di akui dunia.. Pendidikan yang ditempuah Habibie diluar negeri bukanlah pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek.

Sebelum terbang ke Jerman pada 1955-1965, Habibie pernah belajar teknik mesin di Universitas Indonesia di Bandung pada tahun 1954. Pada waktu itu  “Ibu bilang tidak (pakai beasiswa). Saat saya berusia 18 tahun, paspor saya warna hijau, sedangkan yang lain biru. S1 dan S2 biaya sendiri, S3 saya mandiri, kerja sebagai asisten dan saya bisa lulus di usia 28 tahun,” kata mantan Menteri Negara Riset dan Teknologi Indonesia era Orde Baru ini.

Ketika sampai di Jerman, Habibie sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.

Dalam biografi B.J Habibie, diketahui Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman.

Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.

Saat di Jerman pun, pada masa kuliah S1 dan S2, ia mengaku sempat dua kali masuk rumah sakit karena sakit parah. Bahkan dirinya sempat dua kali dikira telah meninggal di Jerman.

“Saya dibilang 2 kali meninggal, terus saya bangkit. Ada pendeta terus saya bangun saya kedinginan. Terus bangun saya di kamar normal. Tidak ada yang besuk saya, kerena ayah meninggal ibu di Bandung,” pungkasnya.

Habibie mengatakan ia berkomitmen menjadi terbaik melebihi orang-orang di Jerman dalam hal pengetahuan. Hingga akhirnya kemampuannya diakui oleh orang-orang Jerman.
Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman, hidupnya makin keras.

Di pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk kuliahnya.

Istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju untuk menghemat kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachen. Umur 28 tahun sudah mendapat gelar Doktor, itu sangat luar biasa. (Editing Isra)

Author: Admin

teacher, blogger, entrepreneurship