8 ‘Kesalahan’ yang Sering Dilakukan oleh Peserta dan Panitia Seminar

Selamat malam rekan sahabat beasiswa yang persiapan istirahat, ini sedikit cerita pengalaman dari founder sahabat beasiswa, yap beliau adalah pak radyum ikono, silahkan dibaca dan diresapi yah guys hehehe.

Banyak uneg-uneg yang pingin saya sampaikan tentang tren “seminar”, “workshop”, “training” motivasi, bisnis dan tema macam-macam, berhubung sejak 2012 jadi ahlul seminar wal workshop hehe.

Berikut 8 ‘kesalahan’ mendasar yang biasa dilakukan oleh peserta, panitia, atau pembicara seminar, terutama dalam konteks anak kampus alias mahasiswa menurut pengamatan saya yang super awam ini :

 

1. Seminar bukan tentang seberapa banyak kamu bisa mencatat kata-kata si pembicara. Tak jarang saya memperhatikan banyak peserta yang ga berhenti nulis apa yang saya bicarakan. Apa yang berubah dari anak itu setelah acara? Jangan-jangan ga ada hehe.

Menurut saya, seminar itu tentang mengambil hikmah, walaupun cuma 1-2 kalimat tapi DIJALANKAN setelah acara, jauh lebih baik.

2. Saya selalu sedih kalau ga ada yang nanya di sesi tanya jawab. Ya mungkin materi gw ga menarik yah :p. Tapi ini faktor budaya sih. Dan menurut saya perlu diubah.

Kalau di luar negeri, eropa, amerika begitu, yang namanya sesi tanya jawab itu jadi ajang rebutan. Ini sebenarnya bukti bahwa level berpikir kritis anak-anak muda kita masih kalah jauh. Jadi, ayo NANYA!

3. Banyak yang berpesan, “Bang, pesertanya dibakar ya semangatnya!” Oke boleh. I can do that. Tapi sebenarnya yang lebih penting adalah FOLLOW UP pasca kegiatan.

Sering saya menemui acara seminar yang, kasarnya, cuma pemenuhan proker organisasi, be it BEM, himpunan, dsb. Tapi ga jelas misinya! Kalau bermisi untuk meningkatkan kesempatan mendapat beasiswa ke LN, seminar 2 jam itu cuman bikin gatel doang. Abis 3 hari digaruk, ilang itu gatelnya haha. Sok-sok bikin target di tembok, “Kuliah S2 ke Jepang SEMANGATTT”, tapi dia bingung, “Lah caranya gimana ya?”

Ini salah satu alasan Sahabat Beasiswa bikin chapter di kota-kota seluruh Indonesia. Karena kami meyakini, pembelajaran butuh konsistensi dan komitmen, mungkin 1 hingga 3 atau 6 bulan. Baru deh tuh TOEFL bisa naik, motivation letter bisa tertulis lebih mantab… so, panitia, pikirkan BEYOND sekedar seminar! Hantarkan para peserta ke cita-citanya.

4. Ini agak ga enak dibahas, tapi harus disampaikan. Banyak pembicara itu harus merelakan jatah berlibur sama keluarga, main sama anak, atau mungkin waktu ketemu klien dan lain sebagainya di weekend.

Saya masih belum habis pikir kalau ada panitia yang mengundang pembicara, tapi tidak menyiapkan, katakanlah uang transport. Hei, mereka keluar uang loh menuju ke tempat acara, hehe. Rasanya ga begitu memperlakukan pembicara.

Saya mulai menerapkan di komunitas Sahabat Beasiswa. Rasanya sangat lebih proper untuk setidaknya menyiapkan uang transport. Lupakan sih plakat, itu asli ga ada manfaatnya hehe. Kalau pun mau ada kenang-kenangan berupa barang (di luar uang transport yang wajib yah), rasanya buku atau buah-buahan jauh lebih bermanfaat.

5. Ketepatan waktu mulai acara. Kadang bisa ada yang telat sampai 1 jam dari waktu yang dijanjikan. Hei, pembicara bukan pengangguran….

Kadang ada setting waktu yang personally menurut saya agak ngawur. Pernah saya dipanel ber3. Masing-masing pembicara ngomong 45-60 menit. Jadi bayangkan, pembicara pertama setelah dia selesai ngomong, harus nunggu 2 jam di depan panggung ga jelas! Baru masuk sesi tanya jawab. Kadang kurang manusiawi juga sih itu teman-teman penyelenggara hehe.

 

6. Moderator bacain CV pembicara, literally kata per kata! Haha padahal CV nya 5 halaman. Oh tidak…. udah habis 15 menit sendiri bacain CV.

7. Infrastruktur yang tidak mendukung. Kritik keras saya, mulai dari sound yang ga muncul, ruangan yang kelewat gelap, panas dsb. Kasihan pembicara sudah menyiapkan materi yang sedap, ternyata fasilitas tidak mendukung.

8. Masih terkait dengan poin 1. Intinya JANGAN KEBANYAKAN DATANG SEMINAR! Kapan eksekusinya? Haha.

Saya punya adik kelas binaan.

“Eh dateng yuk ada talkshow menarik si pak fulan, owner nya bisnis xyz.”

Saya : “Oh ya ide bisnis lo kmrn udah jalan blom?”

Dia : “Hmmm blom sih bang hehe. Cari inspirasi dulu lah”

Gubrak… lama-lama jadi ahli seminar wal workshop. Tapi ga ada yang tereksekusi apapun. Hobinya nyari inspirasiii aja terus. Hati-hati jebakan berwacana ya…

Semoga bermanfaat. No hard feeling yah hehe. Peace, love and gaul…}