36 Quotes from the book “Explore: 20 Kisah Perantau Ilmu”

Bulan Oktober ini, Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia) menerbitkan sebuah buku “Explore: 20 Kisah Perantau Ilmu”, sebagai wujud program kerja Komisi Pendidikan tahun kepengurusan 2016-2017. Melalui buku kumpulan cerita dari 20 kisah pelajar Indonesia ini, teman-teman dapat mengambil informasi mengenai perkuliahan, lika-liku mendapatkan beasiswa, gambaran hidup di luar negeri itu seperti apa.

Berikut beberapa quote dari buku tersebut, yang mungkin memberikan inspirasi, motivasi, atau bahkan bisa jadi kamu terapkan di kehidupanmu. 🙂

  1. “Saya mungkin gagal kembali ke Amerika Serikat atau Inggris, tapi saya bukan pecundang. Saya baru layak disebut pecundang jika saya meratapi kegagalan saya dan tidak memanfaatkan kesempatan berharga ini sebaik-baiknya dan tidak menghasilkan apa-apa.” (Willam Sandy, p.12)

  2. “Cha, yang penting nantinya bukanlah gelar kamu, tapi apa yang bisa kamu lakukan dari gelar yang kamu dapatkan, kontribusi apa yang bisa kamu berikan ke masyarakat.” (Annisa Triyanti, p.17)

  3. “Aku tutup telinga dan terus berusaha.” (Nindi Sekar Wangi, p.27)

  4. It was mixture of enjoyment, excitement, and pride.” (Rizki Fajar Muhidin, p.38)

  5. “Sebab kita tidak tahu, bagian yang mana dari ikhtiar kita yang menjadi rezeki kita.. keep going! (Zakiyah Eke, p.43)

  6. There will be a time, you smile when you remember those things and feel how’s Allah loves you with all the stories happened.” (Zakiyah Eke, p.46)

  7. “Mengidam hanyalah khayalan saja karena saya hanya bisa melihat apa yang saya ingin makan lewat Google.” (Siti Dewi Aisyah, p.51)

  8. “Kata bapak mertua saya, sebenarnya untuk masalah ilmu dimana saja sama, tetapi jika kita merasakan hidup di luar negeri jelas wawasan kita berbeda, tingkat kematangan, dan daya tahan hidup kita akan lebih teruji.” (Siti Dewi Aisyah, p.55)

  9. Have a dream, have a faith in it, somehow you will achieve it.” (Siti Dewi Aisyah, p.56)

  10. “Gini nok, yang namanya orang hijrah pasti ada kendala. Kaum muhajirin dulu mau hijrah harus meninggalkan harta benda bahkan anak saudara. Asal Ulfa niatkan untuk Allah Ta’ala, pasti nanti dimudahkan. Pasti.” (Ulfa Ryani Hasanah, p.59)

  11. “Kalau kita hanya mahir di softskill, tetapi hardskill rendah, kita menjadi ideology frustrated (punya mimpi-mimpi tetapi menjadi wacana). Sebaliknya jika hardskill tinggi tidak punya softskill, kita cuma menjadi manipulator opportunities (punya ilmu tanpa tahu harus kemana). Yang paling ideal adalah menjadi aktivis transformative, dimana hardskill dan softskill seimbang. (Andre Prakoso, p.64-65)

  12. “Ilmu itu membutuhkan kerja keras tidak bisa menjadi kerja sampingan. Harus mengorbankan waktu luang dan selalu fokus.” (Andre Prakoso, p.67)

  13. “Saya pikir hanya setan gundul yang bisa bikin bulu kuduk berdiri, namun huruf gundul pun bisa memainkan peran yang sama.” (Dinar Zul Akbar, p.80)

  14. “Untuk menjadi biasa, kita harus menjadi luar biasa; luar biasa dalam niat, kesabaran, dan usaha.” (Syukron, p.91)

  15. “Bagi kalian wahai para cowok dengan tinggi badan di bawah 160 sentimeter (baca: seperti saya), siapkan perasaan kalian agar tidak mudah merasa dipermalukan di Belanda.” (Muzakki Bashori, p.99)

  16. “Tidak akan bisa survive seorang pelajar di Belanda hanya dengan bermodalkan kemampuan meng-copast tulisan orang dari internet.” (Muzakki Bashori, p.107)

  17. “Jadi kalo lo berencana mengambil beasiswa uang negara, lo harus siap dong untuk sekolah dengan baik dan lo harus siap dengan beban mental tadi.” (Dwi Sasetyaningtyas, p.118)

  18. Lo lihat rumah bagus atau jelek dari mana?
    Dari luar.
    Makanya lo harus pergi jauh buat melihat negeri lo sendiri, bobroknya Indonesia dan bagusnya Indonesia sangat terasa ketika lo melihat dari jauh, bukan dari dalam.” (Dwi Sasetyaningtyas, p.119-120)

  19. “Bahkan saya tidak pernah tahu apa yang masa depan tawarkan untuk saya, saya tidak tahu dan tidak cukup banyak waktu unuk mencari tahu.” (Hatta Bagus Himawan, p.123)

  20. “Kuliah di Belanda itu seperti merasakan segelas cappuccino hangat di musim hujan, perpaduan antara espresso dan susu sangat terasa.” (Hatta Bagus Himawan, p.123)

  21. “Ancaman drop out itu nyata adanya dan tidak bisa ditawar. Untuk lulus kuliah, sebagian orang menganggap sebagai sesuatu yang mewah.” (Hatta Bagus Himawan, p.127)

  22. “Sekolah di level S3/Ph.D sangat berbeda dengan magister atau sarjana. Jenjang pendidikan tertinggi ini menuntut sinkronisasi pemimbing dengan calon mahasiswa S3 untuk menjadi mitra riset yang mumpuni serta mengedepankan lahirnya sebuah kajian atau pendekatan teoritis baru.” (Gracia Paramitha, p.132-133)

  23. “Proses akademik ini turut mengubah pola pikir dan sikap saya dengan sebuah isu.” (Gracia Paramitha, p.135)

  24. “Buatlah sejarah baru! Sejarah ini tidak harus skala besar dan masif sehingga membutuhkan banyak pengorbanan atau resiko yang riskan. Mulai dari hal kecil atau yang ada di sekitar kita, cari sesuatu yang berbeda, ambil keputusan, dan berani berbuat dari pilihan yang sudah kita ambil.” (Gracia Paramitha, p.138-139)

  25. “Aku tidak pintar membaca pikiran, tidak pula bisa membaca perasaan. Buktinya, aku selalu jatuh cinta terlebih dahulu sebelum aku benar-benar tahu apa yang lawanku inginkan.” (Cindy Karina Setiadi, p.143)

  26. “Tetapi ada saja suatu hal yang membawa hatiku selalu berlari kembali ke Indonesia.” (Cindy Karina Setiadi, p.145)

  27. “Apakah benar seorang Ph.D selalu lebih mumpuni dalam hal pengelolaan institusi pendidikan tinggi dibandingkan seorang master atau sarjana? Apakah persyaratan tersebut lebih bertujuan untuk menjaga image branding? Tidak ada yang tahu jawaban pastinya.” (Tri Wijaya N. Kusuma, p.148-149)

  28. “Sayangnya banyak yang lupa atau bahkan tidak memahami tentang tanggung jawab moral yang mengikutinya sehingga kontribusi dan karyanya berhenti setelah gelar S3 diperoleh.” (Tri Wijaya N. Kusuma, p.151)

  29. “Di pergaulan akademik internasional misalnya, eksistensi seorang Ph.D ditentukan oleh publikasi internasionalnya atau keterlibatannya dalam berbagai kerja sama ilmiah internasional.” (Tri Wijaya N. Kusuma, p.152)

  30. “Di manapun berada, jangan pernah tinggalkan agama, itu prinsip saya.” (Herlina, p.157)

  31. “Pendidikan harusnya membuat seseoang mencintai ilmu. Perasaan jatuh cinta dan hasrat menggebu-gebu saat ia berinteraksi dengan buku, dengan ruang kelas, dan dengan mimbar akademik lainnya.” (Muhammad Yorga Permana, p.159)

  32. “Tapi satu hal yang pasti, pilihan untuk melanjutkan S2 ke luar negeri (atau di dalam negeri) bisa menjadi ajang bagi kita untuk melakukan pertobatan intelektual, apapun motif awalnya.” (Muhammad Yorga Permana, p.161)

  33. “Kasmaran terhadap ilmu pengetahuan seharusnya membuat kita mawas diri: bahwa ilmu yang kita reguk tidak akan ada habisnya, bahwa kita sedang menuju ketakterhinggaan ilmu pengetahuan, dan yang kita ambil barulah setitik dari tak hingga itu.” (Muhammad Yorga Permana, p.165)

  34. “Tantangan hari ini adalah bagaimana agar intelektual itu tidakmenjadi menara gading. Ilmunya boleh setinggi langit, tapi tulisannya harus tetap menjejak di bumi.” (Muhammad Yorga Permana, p.165-167)

  35. “Yang paling penting dari setiap pilihan tersebut adalah apakah dalam setiap pilihan kita ada alaan ‘untuk Indonesia sebagai dasarnya.” (Ali Abdillah, p.169)

  36. “Dapatkah kita menjadikan setiap fenomena menjejakkan kaki di luar negeri sebagai angin segar optimisme bangsa Indonesia ke depannya.” (Ali Abdillah, p.171)

 

Bagaimana denganmu sobat SB?

Apakah kamu sudah menemukan tujuan di depan? Ataukah sudah di jalan tetapi kesasar? Bisa saja tujuan kita sama, tetapi jalan yang ditempuh tak serupa.

Terlepas dari apapun itu, belajar ke luar negeri bukanlah untuk mengejar sebuah gengsi. Karena ilmu itu harus dicari. Tidak perlu cemas jika belajar di dalam negeri. Yang penting kita saling berbagi, mengisi, menginspirasi dan berkontribusi, untuk Ibu Pertiwi.

Selamat menemukan tujuan –dan hati-hati di jalan!

Now, everyone can get scholarship!